TRENGGALEK - Momen Hari Pahlawan Nasional diperingati setiap 10 November menjadi refleksi semua masa sekarang ini termasuk di Trenggalek.
Era masa kini pahlawan bukan di medan perang, melainkan mereka yang berperan penting di bidang masing-masing yang bisa membangun Trenggalek.
Mereka yang miliki peran penting tidak selalu jadi soroton publik, termasuk para pecinta lingkungan Pokmaswas Konservasi Penyu Kili-Kili, di Desa Woncoyoco, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek.
Hingga kini kelompok tersebut konsisten melestarikan satwa langka dan dilindungi di pesisir seletan Trenggalek.
“Tidak mudah untuk menanamkan kesadaran kelestarian lingkungan di Pantai Kili-Kili ini yang jadai sarang penyu bertelur,” terang anggota Pokmaswas Konservasi Penyu di Pantai KiIi-Kili, Eka Agustina, Jumat (31/10/2025) lalu.
Dia mengaku, sejak kecil sudah mengetahui jika ada anggapan para warga sekitar pantai berburu telur penyu menjadi kebiasaan.
Lantaran mereka belum mengetahui dampak dalam jangka panjang. Warga ketika melihat telru penyu akan diambil dan dijual.
Harga telur penyu tentu lebih mahal dari telur ayam maupun bebek. “Jadi penghasilan tambahan warga (berburu telur penyu) dulu, selain bertani,” kata perempuan tersebut.
Bahkan ada kepercayaan jika teluir penyu selain mahal bisa menambah vitalitas hingga mencerdaskan anak. Maka pemahaman tersebut perlu diubah agar penyu-penyu tidak musnah.
Warga ketika itu masih belum tahu jika tanaman pandan merupakan penanda penyu ketika bertelur.
Warga sudah terbiasa mengambil daun pandan untuk ikat padi maupun tidak. Jika pengambilan pandan terus digulirkan, maka kura-kura akan enggan kembali ke pantai.
Tantangan-tantangan untuk kelestarian lingkungan dengan memberikan pemahaman warga tidaklah mudah.
“Berbagai upaya dilakukan termasuk menjaga pantai ketika musim penyu bertelur tidak lagi jadi buruan warga,: ungkapnya.
Tahun 2014 sudah mulai ada dukungan regulasi dari desa sehingga menambah kekuatan para pegiat lingkungan.
Dengan adanya regulasi dari desa, warga pun turut menjaga penyu agar tteap lestari.
Dari tim pegiat lingkungan tak perlu repot kembali melakukan patroli di pantai sepanjang 1,8 kilometer itu.
Tak jarang warga memberitahukan jika ada telur penyu di pantai agar segera diambil tim.
“Dengan patisipasi masyarakat, keberadaan penyu di Kili-Kili ini akna lebih mudah lestari dan bisa bermanfaat jangka panjang,” tandasnya.
Alhasil, upaya puluhan tahun memberikan pemahaman ke warga setempat, kini konservasi penyu bisa mandiri sebagai objek wisata dan edukasi.
Dengan ruang konservasi bantuan pihak pemerintah, konservasi jadi daya tarik pantai.
“Terus kita rawat Pantai Kili-Kili sebagai upaya mempertahankan lokasi penyu bertelur,” katanya.
Dai menambahkan, sejumlah siswa maupun warga terus tertarik untuk berkunjung. (gun/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah