Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Sosok Pahlawan Pegiat Lingkungan di Trenggalek, Lestarikan Alam dengan Tanamkan Kesadaran Warga hingga Puluhan Tahun untuk Selamatkan Penyu

Gunawan Awan • Senin, 10 November 2025 | 18:48 WIB
Kelestarian penyu di Pantai Kili-Kili desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul terus dijaga.
Kelestarian penyu di Pantai Kili-Kili desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul terus dijaga.

 

TRENGGALEK - Momen Hari Pahlawan Nasional diperingati setiap 10 November menjadi refleksi semua masa sekarang ini termasuk di Trenggalek.

Era masa kini pahlawan bukan di medan perang, melainkan mereka yang berperan penting di bidang masing-masing yang bisa membangun Trenggalek.

Mereka yang miliki peran penting tidak selalu jadi soroton publik, termasuk para pecinta lingkungan Pokmaswas Konservasi Penyu Kili-Kili, di Desa Woncoyoco, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek. 

Hingga kini kelompok tersebut konsisten melestarikan satwa langka dan dilindungi di pesisir seletan Trenggalek.  

“Tidak mudah untuk menanamkan kesadaran kelestarian lingkungan di Pantai Kili-Kili ini yang jadai sarang penyu bertelur,” terang anggota Pokmaswas Konservasi Penyu di Pantai KiIi-Kili, Eka Agustina, Jumat (31/10/2025) lalu.

Dia mengaku, sejak kecil sudah mengetahui jika ada anggapan  para warga sekitar pantai berburu telur penyu  menjadi kebiasaan.

Lantaran mereka belum mengetahui dampak dalam jangka panjang. Warga ketika melihat telru penyu akan diambil dan dijual.

Anggota Pokmaswas Konservasi Penyu di Pantai KiIi-Kili, Eka Agustina, beri makan penyu, pada Jumat (31/10/2025) lalu.
Anggota Pokmaswas Konservasi Penyu di Pantai KiIi-Kili, Eka Agustina, beri makan penyu, pada Jumat (31/10/2025) lalu.

Harga telur penyu tentu lebih mahal dari telur ayam maupun bebek. “Jadi penghasilan tambahan warga (berburu telur penyu) dulu, selain bertani,” kata perempuan tersebut.

Bahkan ada kepercayaan jika teluir penyu selain mahal bisa menambah vitalitas hingga mencerdaskan anak. Maka pemahaman tersebut perlu diubah agar penyu-penyu tidak musnah.

Warga ketika itu masih belum tahu jika tanaman pandan merupakan penanda penyu ketika bertelur.

Baca Juga: Jelang Momen Nataru di Trenggalek, Dishub Mulai Ancang-Ancang Petakan Titik Rawan Kecelakaan di Kawasan Wisata

Warga sudah terbiasa mengambil daun pandan untuk ikat padi maupun tidak. Jika pengambilan pandan terus digulirkan, maka kura-kura  akan enggan kembali ke pantai.

Tantangan-tantangan untuk kelestarian lingkungan dengan memberikan pemahaman warga tidaklah mudah.

“Berbagai upaya dilakukan termasuk menjaga pantai ketika musim penyu bertelur tidak lagi jadi buruan warga,: ungkapnya.

Tahun 2014 sudah mulai  ada dukungan regulasi dari desa sehingga menambah kekuatan para pegiat lingkungan.  

Dengan adanya regulasi dari desa, warga pun turut menjaga penyu agar tteap lestari.

Dari tim pegiat lingkungan  tak perlu repot kembali melakukan patroli di pantai sepanjang 1,8 kilometer itu.

Tak jarang warga memberitahukan jika ada telur penyu di pantai agar segera diambil tim.

“Dengan patisipasi masyarakat, keberadaan penyu di Kili-Kili ini akna lebih mudah lestari dan bisa bermanfaat jangka panjang,” tandasnya.

Alhasil, upaya puluhan tahun memberikan pemahaman ke warga setempat, kini konservasi penyu bisa mandiri sebagai objek wisata dan edukasi.

Dengan ruang konservasi bantuan pihak pemerintah, konservasi jadi daya tarik pantai.

“Terus kita rawat Pantai Kili-Kili sebagai upaya mempertahankan lokasi penyu bertelur,” katanya.

Dai menambahkan, sejumlah siswa maupun warga terus tertarik untuk berkunjung. (gun/din)

 

                                                             

     

 

 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#konservasi penyu #trenggalek #hari pahlawan #pantai kili kili