Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

BPBD Trenggalek Perluas Mitigasi Bencana, Tekan Risiko Bencana Geologi dan Hidrologi

Fatra Aditya • Rabu, 12 November 2025 | 01:25 WIB
Tanah longsor di Desa Depok, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek menewaskan empat orang dalam satu keluarga.
Tanah longsor di Desa Depok, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek menewaskan empat orang dalam satu keluarga.

TRENGGALEK – Curah hujan di Trenggalek diperkirakan akan masih tinggi hingga puncak musim hujan di bulan Januari dan Februari tahun depan.

Dengan tingginya curah hujan tersebut masyarakat harus waspada akan bahaya bencana alam di Trenggalek.

Pasalnya pada tanggal 1 November 2025 kemarin telah terjadi tanah longsor di Desa Depok, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek menewaskan empat orang dalam satu keluarga.

Selain bahaya geologi juga terdapat potensi bahaya hidrologi seperti banjir.

Untuk banjir, di Kabupaten Trenggalek telah terjadi di beberapa titik anatara lain di Desa Sumberdadi, Ngares dan beberapa titik di kecamatan Trenggalek, di Desa Ngadirenggo, Kecamatan Pogalan serta di Desa Dermosari, Kecamatan Tugu.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulan Bencana (Kalaksa BPBD) Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono menjelaskan, banjir di beberapa desa tersebut disebabkan lantaran curah hujan tinggi dan luapan air sungai irigasi yang tidak dapat menampung air dalam jumlah yang besar.

“Adanya luapan sungai Tawing dan Ngasinan, perlu diwaspadai. Sedangkan di Tugu, itu banjir luapan karena curah hujan yang sangat tinggi hingga sungai irigasi di Dermosari itu tidak mampu menampung air,” jelasnya, Selasa (11/11/2025).

Triadi mengungkapkan, bahwa dari pihak BPBD telah melakukan mitigasi bencana khusunya banjir dengan mengadakan kerja bakti pembersihan saluran air.

“Mitigasi bencana saat ini kami sudah melaksanakan sejauh dari sebelumnya. Seperti kerja bakti, pembersihan saluran irigasi, baik oleh yang dilaksanakan pemerintah, kemudian para masyarakat secara rutin,” ungkapnya.

Dia menambahkan, BPBD selain melakukan mitigasi bencana dengan kerja bakti, BPBD juga memasang alat EWS (Early Warning System) sebuha perangkat yang dapat mendeteksi potensi adanya bencan.

“BPBD sudah melakukan pemasangan Early Warning System (EWS) tanah longsor di dua titik, di Desa Depok dan Desa Timahan. Termasuk bagi desa-desa yang sering terjadi bencana alam,” tambahnya.

Di sisi lain BPBD Trenggalek juga menjalankan program pelatihan Desa Tangguh Bencana (Destana).

Untuk tahun ini Destana berada di empat desa di Kabupaten Trenggalek.

Empat desa tersebut antara lain Karangsuko, Ngadirejo, Pogalan dan Sambirejo.

Triadi menjelaskan progam Destana tersebut diharapkan supaya masyarakat lebih sigap dalam menghadapi bencana dan dapat menjalakan proses evakuasi bencana secara mandiri sembari menunggu bantuan dari pihak-pihak terkait.

“Diharapkan ketika terjadi sesuatu, mereka segera bisa melakukan mandiri, pertolongan evakuasi, termasuk menurunkan resiko apabila terjadi bencana,” jelasnya. 

Selain itu, dalam mitigasi bencana BPBD Trenggalek mempunyai Tim Reaksi Cepat (TRC) Multisektor Penanggulan Bencana yang tersebar di 14 Kecamatan di seluruh Trenggalek.

TRC sendiri dikoordiansikan oleh prajurit TNI dan kasi tantrib (kepala seksi keamanan dan ketertiban) di wilayah kecamatan.

"Dari setiap kecamatan itu ada TRC Multisektor. Koordinatornya dari rekan-rekan TNI yang berada di wilayah masing-masing. Termasuk teman-teman Kasitantrib di wilayah kecamatan masing-masing," pungkasnya. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#bpbd #destana #BPBD Trenggalek #mitigasi bencana #trenggalek