Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Sapi Nggalekan Khas Trenggalek Kini Tersisa 28 Ekor dan Terancam Kepunahan, Ada Upaya Dinas Peternakan untuk Pengembangan

Fatra Aditya • Rabu, 12 November 2025 | 01:19 WIB
Sapi khas Trenggalek, yakni Sapi Nggalekan kini tersisa 28 ekor dan terancam punah. Sapi tersebut memiliki ciri khusus dan tahan penyakit.
Sapi khas Trenggalek, yakni Sapi Nggalekan kini tersisa 28 ekor dan terancam punah. Sapi tersebut memiliki ciri khusus dan tahan penyakit.

TRENGGALEK – Kabupaten Trenggalek rupaya tak hanya memiliki kuliner khas, namun, juga memiliki satwa khas.

Satwa khas Trenggalek tersebut biasa dikenal dengan nama Sapi Nggalekan.

Sapi Nggalekan, habitat aslinya berada Trenggalek khususnya di Kecamatan Munjungan dan Panggul.

Secara fisik, Sapi Nggalekan khas Trenggalek mempunyai fisik  badan yang lebih kecil dari fisik badan sapi pada umumnya.

Kepala Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Trenggalek, Joko Susanto menjelaskan bahwasanya dahulu keberadaan Sapi Ngalekkan masih banyak di habitan aslinya di tahun 1970-80an.

Namun seiringnya masuk sapi jenis lain, sapi nggalekan pun tergantikan.

“Tahun 70-an hingga 80-an itu masih banyak di sekitar pantai  di Munjungan. Masyarakat masih banyak yang memelihara. Tapi, karena banyaknya jenis-jenis sapi dengan beragam kualitas, banyak masyarakat yang beralih,” ungkapnya, Selasa (11/11/2025). 

Dia menjelaskan meskipun Sapi Ngalekan terlihat kecil daripada sapi yang lain, Sapi Ngalekkan justru merupakan jenis sapi yang kuat terhadap penyakit dan mudah beradaptasi dengan lingkungan.

“Kalau sapi asli Nggalekan itu, dia lebih tahan terhadap kondisi situasi dan kondisi di alam. jadi sebenarnya mudah untuk dipelihara ” Jelasnya.

Namun, sangat disayangkan, keberadaan Sapi Nggalekan ini sangat langka.

Jumlah sapi Nggalekkan per 11 November 2025 ini sejumlah 28 ekor saja.

Sapi-sapi tersebut kini dirawat dan diternakan di Unit Pelakasana Teknis Pembibitan Ternak dan Rumah Potong Hewan (UPT. Pusbitnak dan RPH) sebagai upaya mempertahankan populasi Sapi Nggalekan.

Baca Juga: Empat Pemuda Desa Prigi Trenggalek Dicokok Polisi, Gara-gara Tindakan yang Tidak Jelas saat Mabuk

Dengan populasi yang hanya 28 ekor, Sapi Nggalekan masuk dalam jalur sapi yang terancam punah dan telah tercatat dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia nomor 617/KPTS/PK.020/M/09/2020 Tentang Penetapan Rumpun Sapi Galekan.

“Mungkinnya kita pertahankan agar tidak punah karena ini sudah dimasukan dalam rumpun atau jalur untuk sapi yang sudah dicatat Kementerian Pertanian,” jelas Joko Susanto.

Disnak Trenggalek juga turut berupaya menambah populasi sapi Ngalekan melalui UPT Pusbitnak dan RPH.

Di sana sapi-sapi Ngalekan tersebut dipelihara dan dikembangbiakkan untuk menambah jumlah populasinya.

Pejabat pelaksana tugas (Plt) Kepala UPT Pusbitnak dan RPH, Wendi Aziz menjelaskan bahwa dari UPT juga berusaha mengembangbiakan jenis Sapi Ngalekan.

Setiap hari, para petugas memonitoring sapi yang menunjukkan tanda birahi kemudian dikawinkan.

“Ada Mas, upaya mengembangbiakan, kita amati birahinya setiap pagi diamati yang birahi mana, kita kawinkan, terus seumpama ada kegagalan perkawinan kita IB, kita lakukan pemeriksaan gangguan reproduksi, kenapa dia tidak mau bunting,” jelasnya.

Dengan sedikitnya populasi Sapi Ngalekan, juga menjadi tantangan dalam mengembangbiakan.

Hal tersebut lantaran, ditakutkan akan terjadinya perkawinan antarsedarah.

Namun Wendy menjelaskan bahwa hal tersebut masih dapat diantisipasi.

“Sementara ini bisa diantisipasi Mas, ya kemungkinan banyak, tapi di luar pun kawin antardaerah itu banyak, jadi kemungkinan itu ada, ada kemungkinan dengan kawin antardaerah ada, tapi insya Allah, sementara ini bisa diantisipasi seperti itu,” pungkasnya. (*)

 
Editor : Didin Cahya Firmansyah
#dinas peternakan trenggalek #sapi galekan #sapi #peternakan #trenggalek #langka