TRENGGALEK - Fakta baru terungkap di balik kasus pemukulan guru SMPN 1 Trenggalek oleh kakak salah satu siswi.
Siswi yang menjadi pemicu insiden tersebut ternyata pernah berurusan dengan guru Bimbingan Konseling (BK) saat masih duduk di bangku kelas VII SMPN 1 Trenggalek.
Kepala SMPN 1 Trenggalek, Mokhamad Amir Mahmud, membenarkan bahwa siswi berinisial N itu pernah dipanggil guru BK untuk pembinaan karena melakukan pelanggaran ringan.
Namun, setelah itu, ia kembali menunjukkan perilaku normal hingga naik ke kelas IX.
“Dulu memang pernah kami bina saat kelas VII, tapi tidak ada masalah serius. Setelah itu perilakunya baik dan mengikuti kegiatan belajar seperti biasa,” ujarnya.
Amir menjelaskan, selama bersekolah di SMPN 1 Trenggalek, N dikenal sebagai anak yang tertutup dan jarang berinteraksi dengan teman sebayanya.
Informasi dari guru dan teman-temannya menunjukkan bahwa yang bersangkutan memiliki gaya sosialisasi yang agak berbeda. “Sosialisasinya memang agak berbeda. Bisa dibilang cenderung tertutup dibanding teman-temannya,” jelasnya.
Amir menduga, perbedaan latar belakang sosial turut mempengaruhi cara N beradaptasi di lingkungan sekolah.
SMPN 1 Trenggalek dikenal memiliki siswa dari berbagai latar, mulai dari keluarga petani hingga pejabat daerah.
“Di tempat asalnya mungkin punya status sosial cukup tinggi. Tapi disini semua sejajar. Anak-anak kami dididik untuk saling menghargai tanpa membeda-bedakan,” tuturnya.
Sejak insiden pemukulan terhadap guru mencuat, siswi tersebut berhenti masuk sekolah.
Keluarganya sempat berencana memindahkannya ke salah satu sekolah di Kabupaten Ponorogo, namun hingga kini belum ada kejelasan karena sekolah tujuan belum menyatakan kesediaan menerima.
Meski demikian, pihak sekolah menegaskan tidak akan menutup pintu bagi N jika ia ingin melanjutkan pendidikannya di SMPN 1 Trenggalek.
“Kami tetap membuka kesempatan. Kalau N ingin kembali, kami akan menerimanya. Bagaimanapun juga, dia tetap anak yang berhak mendapat pendidikan,” tegasnya.
Kasus ini menjadi perhatian luas di Trenggalek. Selain menyeret pelaku pemukulan ke ranah hukum, insiden tersebut juga menyoroti aspek sosial dan psikologis siswa di lingkungan sekolah, termasuk pentingnya peran guru BK dalam deteksi dini perilaku anak. (jaz/din)