TRENGGALEK - Suasana meriah merayakan Bendungan Widoro, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, Sabtu (22/11/2025), ketika warga dari berbagai dusun berkumpul untuk mengikuti dan menyaksikan Festival Sungai serta Lomba Gethek.
Acara yang berlangsung dari siang hingga sore hari ini mengusung tema “Merawat Sungai Berarti Merawat Kehidupan,” sebagai pengingat bahwa sungai di Trenggalek bukan hanya sumber air, tetapi juga pusat kebudayaan masyarakat setempat.
Gethek rakit bambu tradisional menjadi ikon utama festival ini. Dahulu, gethek digunakan sebagai alat transportasi dan pengangkut hasil pertanian yang sangat penting bagi warga Gandusari Trenggalek ini.
Baca Juga: Jalan Alternatif Menghubungkan Trenggalek Pogalan Rusak Parah, Lubang Membuat Pengendara Harus Waspada Ketika Melintas
Kini, meski fungsinya mulai tergeser oleh perkembangan zaman, tradisi gethek tetap terpelihara melalui festival tahunan yang menjadi sarana pelestarian budaya lama.
Bagi sebagian warga, menjaga tradisi ini juga berarti menjaga hubungan dengan sejarah desa dan kearifan lokal yang diwariskan leluhur.
Sekitar pukul satu siang, peserta mulai menurunkan gethek ke aliran Dam Widoro. Lomba dibuka dengan parade gethek hias yang memamerkan kreativitas warga.
Ornamen bambu, dedaunan, hingga simbol-simbol kelestarian sungai terpampang di setiap rakit.
Arus yang cukup tenang membuat penonton dapat menyaksikan keindahan dekorasi sambil berdiri di bantaran sungai.
Memasuki sesi lomba ketangkasan, suasana berubah semakin riuh.
Peserta yang didominasi pemuda desa ditantang sepanjang masa dengan mengandalkan keseimbangan dan kekuatan mendayung.
Tak jarang, penonton berkolaborasi ketika ada gethek yang oleng atau peserta berhasil melakukan manuver yang sulit.
Baca Juga: Trenggalek Bangun Ekosistem lewat Festival Sungai dengan Hadirkan Berbagai Kegitan
Di antara penonton, seorang warga bernama Suroto, 55 tahun, menyampaikan kesannya.
"Dulu gethek itu alat penting untuk kami. Lihat anak-anak muda lomba seperti ini rasanya bangga, karena tradisi tidak hilang. Festival ini juga mengingatkan kita agar sungai dijaga, karena kalau rusak ya hidup kita juga ikut susah," ujarnya.
Selain perlombaan, beberapa relawan lingkungan mengadakan edukasi singkat tentang pentingnya menjaga ekosistem sungai, mengelola sampah rumah tangga, dan merawat bantaran agar tidak longsor.
Menjelang sore, festival ditutup dengan pengumuman pemenang dan pembagian hadiah sederhana.
Warga pulang dengan senyum, membawa harapan bahwa Dam Widoro akan tetap menjadi ruang hidup sekaligus ruang budaya yang terus dirawat demi generasi mendatang. (bim)
Editor : Didin Cahya Firmansyah