TRENGGALEK - Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Trenggalek, menyebut angka stunting di kabupaten ini telah menurun dari tahun-tahun sebelumnya.
Pada awalnya angka stunting di Trenggalek mencapai 15,8 persen, kemudian mengalami penurun ditahun-tahun berikutnya hingga tahun 2025.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinkes PPKB Trenggalek dr Soenarto.
"Angka stunting mengalami penurunan, dari 15,8 persen tahun 2023, menjadi 6,7 persen pada tahun 2024. Sedangkan data bulan penimbangan tahun 2025 sebesar 5,85 persen," ungkapnya.
Demi menghindari terhadinya stunting pada anak, orang tua harus paham apa yang menjadi klasifikasi dari stunting itu sendiri.
Sunarto menjelaskan yang hal apa saja yang diklasifikasikan sebagai stunting salah satinya adalah fisik anak.
"Balita dengan tinggi badan atau panjang badan anak yang berada di bawah standar usianya. tinggi/panjang badan (TB/PB) menurut umur anak yang berada di bawah -2 standar deviasi dari kurva pertumbuhan standar," jelasnya Senin (24/11/2025).
Para orang tua pun juga harus paham mengenai ciri-ciri stunting pada anak. Ciri-ciri tersebut antara lain pertumbuhan tulang yang lambat dan rendahnya imun yang membuat anak mudah jatuh sakit.
"Tubuh lebih pendek dari anak seusianya, berat badan lebih rendah, pertumbuhan tulang terhambat, anak stunting juga sering menunjukkan gangguan perkembangan kognitif dan motorik, serta memiliki sistem imun yang lemah sehingga lebih mudah sakit," tuturnya.
Stunting yang terjadi pada anak dapat menyebabkan bebergai gangguan pada pertumbuhan anak. Hal tersebut meliputi fisik hingga kognitif anak.
"Dampak stunting meliputi gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif, risiko penyakit tidak menular di masa dewasa (seperti diabetes dan obesitas), serta dampak ekonomi akibat penurunan produktivitas sumber daya manusia," ungkapnya.
Dengan dampak yang demikian. Maka ada perlunya pencegahan dan penanganan terhadap stunting pada anak.
Baca Juga: Dies Natalis Ke-70 SMPN 1 Trenggalek, Kebersamaan Menuju Snesa yang Atraktif
Sunarto mengatakan pencegahan salah satu pencegahan stunting adalah dengan pemberian nutisi yang tepat dalam 1000 hari kedhidupan pertama.
"Pencegahan stunting berfokus pada pemberian nutrisi yang tepat selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), meliputi ASI eksklusif, MPASI yang bergizi dengan protein hewani, pemenuhan gizi ibu hamil, dan imunisasi lengkap, ketersediaan akses air bersih dan sanitasi layak," jelasnya.
Selain itu juga diperlukan penanganan stunting. Hal tersebut mencakup pemenuhan gizi yang seimbang dan disertai pemeriksaan kesehatan. Upaya tersebut juga harus diperkuat dengan stimulasi, pengasuhan yang sehat dan lingkungan yang bersih dan aman.
"Perbaikan gizi (pemberian PKMK untuk tumbuh kejar, makanan kaya protein hewani, makanan sesuai gizi seimbang), perawatan kesehatan (rujukan ke faskes lanjutan jika diperlukan), stimulasi dan pengasuhan, sanitasi layak (jamban sehat), ketersediaan air bersih dan aman, pemantauan tumbuh kembang dan pemberian edukasi berkelanjutan," tuturnya.
Dia berharap selain angka stunting terus turun juga terdapat peningkatan kapabilitas dan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat. Hal tersebut berguna untuk mempercepat dan menanggulangi stunting.
"Perlunya peningkatan upaya konvergensi percepatan dan penanggulangan stunting bersama semua unsur baik pemerintah, swasta, masyarakat serta unsur masyarakat lainnya melalui intervensi spesifik dan intervensi sensitive," pungkasnya. (tra/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah