Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Peran BPKH dalam Mewujudkan Trenggalek Net Zero Carbon

Fatra Aditya • Jumat, 28 November 2025 | 00:30 WIB
Hutan di Trenggalek dapat menyerapkan emisi gas karbon yang ada di udara dan menjadikan udara sekitar menjadi bersih.
Hutan di Trenggalek dapat menyerapkan emisi gas karbon yang ada di udara dan menjadikan udara sekitar menjadi bersih.

TRENGGALEK  – Kabupaten Trenggalek mempunyai program Net Zero Carbon yang digagas oleh Bupati Trenggalek, Mochammad Nur Ariffin.

Tentunya, dalam mewujudkan program tersebut hutan di Trenggalek memiliki fungsi yang vital.

Hutan di Trenggalek dapat menyerapkan emisi gas karbon yang ada di udara dan menjadikan udara sekitar menjadi bersih.

Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BPKH) Trenggalek sangat mendukung terwujudnya program tersebut.

Melalui fungsi ekologi yang dimiliki perhutani dapat memastikan dan menjaga tutupan lahan serta mempertahankan kondisi hutan supaya dapat menyerap emisi gas karbon dengan optimal.

Hermawan Wakil Administratur Kediri Selatan tak lelah mengedukasi masyarakat akan pentingnya pohon.

Terlebih dengan digaungkannya program “Trenggalek Net Zero Carbon”

“Fungsi pohon itu seperti ini, biar nanti ketersediaan air melimpah, oksigen yang kita hidup juga masih bersih,” tuturnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, BPKH Trenggalek menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek untuk melakukan edukasi dan penyuluhan kepada masyarakat.

Hal tersebut diharapakan dapat membuat masyarakat mengerti dampak yang ditimbulkan dari pembakaran lahan.

“Kita ada kepenyuluan dengan BPPD terkait dampak dari memulai aktivitas pertanian dengan cara dibakar karena sangat merugikan, dapat menyebabkan Mikroorganisme mati, terus tanah jadi keras, kesuburan (tanah) banyak hilang,” jelasnya.

Dalam mewujudkan program tersebut tentunya terdapat tantangan tersendiri yang ada di lapangan.

Tantangan-tantangan tersebut antara lain, aktivitas-aktivitas ilegal hingga iklim yang kini berubah.

Hermawan menyebut, aktivitas ilegal seperti ilegal logging sudah jarang ditemui namun, untuk pembakaran lahan masih kerap ia jumpai.

“Kecenderungan petani, masyarakat sekitar hutan itu kalau nanti mau musim tanam, pembersihan lahan itu mereka membakar sampahnya-sampahnya, itu yang perlu kita edukasi,” ungkpanya.

Dia menyebut bahwa Trenggalek sangat potensial untuk menjadi daerah dengan Net Zero Carbon.

Hal tersebut dikarenakan tutupan lahan hutan di wilayah Trenggalek masih dalam kondisi yang bagus, ditambah lagi dengan hutan Mangrove yang mempunyai luas sekitar 38,1 hektare.

“Di kita (hutan mangrove) 38,1 hektare, itu salah satu penyerap gas karbon tertinggi, mangrove bersama terumbu karang yang ada di laut. Ini sangat Potensial dengan konsep itu,” pungkasnya. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#bpkh #trenggalek #perhutani #zero karbon