TRENGGALEK – Budi daya ikan dan perawatan kolam ikan beserta tantangan-tantangan yang harus dihadapi, warga Desa Rejowinangun, Kecamatan Trenggalek, Muhammad Sajidan.
Untuk sekarang Saijidan hanya membudidayakan dua jenis ikan pupuler di Trenggalek yakni ikan lele dan ikan koi .
Pria asli Trenggalek ini menyebut dalam proses pembibitan ikan kebersihan kolam sangatlah penting. Apabila kebersihan kolam tidak dijaga, telur-telur ikan tidak akan berkembang dengan sempurna.
“Kalau lumut-lumutnya nggak dibersihkan, itu nanti nggak bisa. Jadi, kayak telurnya ikan itu nggak bisa menetasnya bagus,” ungkapnya.
Sajidan menjelaskan bagaiamana proses pembersihan dan perawatan kolam supaya benih ikan dapat berkembang dengan baik.
Yakni perawatan kolam dilakukan secara rutin sebelum proses pemijahan berlangsung. Kolam dikeringkan terlebih dahulu dan dibersihkan secara manual agar kondisi dasar kolam bebas dari kotoran.
“Jadi, sebelum induknya dipijahkan itu, (kolam) dibersihkan. Jadi, dibersihkan manual sih, pakai aluminium yang buat panci. Terus dikenai sinar matahari biar kering, steril, gitu,” jelasnya.
Selain itu, dia juga rutin menguras kolam ikannya. Setidaknya pergantian air kolam itu paling sedikit satu minggu sekali.
Namun pengurasan kolam tersebut juga didasari oleh jenis ikannya, apabila koi perlu pergantian air yang rutin sedangkan untuk lele tergantung jumlahnya, apabila masih banyak perlu pergantian air yang rutin.
“Pokoknya air kolam itu sering ganti-ganti, kurasnya itu paling tidak itu satu minggu sekali kalau koi. Kalau yang lele itu tergantung, tergantung jumlah ikan. Jadi kalau pas isinya banyak, harus sering diuras,” katanya.
Dia mengaku, cuaca juga menjadi tantangan dalam perawatan kolam. Di musim hujan, terkadang pakan ikan tidak bisa didapatkan di Trenggalek, harus pergi ke Tulungagung.
Namun dengan cuaca sering hujan, stok pakan ikan kadang terlambat.
“Tantangannya itu tadi, yang pasti cuaca, Kalau cuaca hujan kayaknya semua sektor itu menurun, jadi mulai dari pakan, misalkan pakan cacing sutra itu, kalau di Trenggalek sendiri kan nggak ada yang jual, Jadi belinya harus ke Tulungagung. Itu kalau hujan itu juga supliernya nggak selalu on time, jadi cari pakannya susah,” ungkapnya.
Selain itu, terdapat juga limbah kolam ikan. Limbah dari kolamnya telah difilter terlebih dahulu sebelum dibuang ke saluran air, bahkan banyak masyarakat sekitar yang meminta air bekas kolam ikan tersebut untuk menyiram tanaman karena dianggap subur.
Menurut dia, apabila pakan ikan hanya berupa pelet tidak akan menimbulkan bau.
“Kalau limbahnya pakannya murni pelet kayak gini aman. Air dari sini (kolam) disaring, terus langsung ke saluran air, itu malah, warga-warga suka, biasanya diambil airnya, buat nyiranm tanaman bisa subur,” pungkasnya. (tra/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah