TRENGGALEK – Laju penularan HIV di Kabupaten Trenggalek kembali menjadi sorotan.
Hingga 20 November 2025, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan KB (Dinkesdalduk KB) Trenggalek mencatat 85 kasus baru. Angka yang mendekati total temuan sepanjang 2024.
Kondisi ini menandakan bahwa penyebaran HIV di Trenggalek belum menunjukkan penurunan signifikan dan masih mengancam kelompok usia aktif.
“Angka kasus ODHA pada 2025 hampir menyamai capaian tahun sebelumnya,” terang Kepala Dinkesdalduk KB Trenggalek, dr Sunarto, Jumat (28/11/2025).
Dari data Sistem Informasi HIV Aids (SIHA), tahun 2024 ada 114 kasus. Tahun 2025 sampai terakhir 20 November tercatat 85 kasus. Polanya masih relatif sama.
Merujuk data distribusi usia, kelompok usia produktif tetap menjadi yang terbanyak.
Pada 2025, kelompok 20–29 tahun ditemukan 13 penderita.
Kelompok 30–39 tahun ada 20 kasus, 40–49 tahun sebanyak 26, serta 50–59 tahun sebanyak 20 kasus.
Sementara kelompok usia lanjut (di atas 60 tahun) tercatat 6 orang.
“Usia produktif masih paling dominan. Kelompok ini memiliki mobilitas tinggi sehingga risiko kontak juga meningkat,” terang Sunarto.
Kondisi klinis orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang ditemukan pada 2025 juga beragam. Ada 16 penderita yang baru terdeteksi HIV (belum masuk stadium), 27 penderita stadium 1, 8 stadium 2, 32 stadium 3, dan 2 stadium 4.
“Semakin tinggi stadiumnya, semakin berat kondisinya. Ini menunjukkan ada yang terlambat diketahui,” jelasnya.
Polanya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Aktivitas seksual berisiko menjadi sumber utama penularan HIV di Trenggalek.
“Terbanyak adalah pelanggan pekerja seks, sebanyak 24 orang,” kata Sunarto.
Penularan dari ibu ke anak juga masih terjadi. Tahun 2024, dari tiga kasus usia 11–19 tahun, dua di antaranya merupakan penularan vertikal dari ibu.
Guna menekan laju penularan, Dinkes Trenggalek memperkuat deteksi dini.
Pemeriksaan HIV pada ibu hamil digencarkan, sementara mobil klinik HIV dikerahkan ke titik-titik hotspot seperti kafe dan tempat karaoke.
“Penemuan dini penting agar pasien segera diterapi ARV sehingga viral load menurun dan risiko penularan bisa ditekan,” tegasnya.
Meski tidak banyak, kasus HIV pada remaja tetap muncul.
“Dari tiga temuan ODHA di kelompok 11–19 tahun pada 2024, dua tertular dari ibunya, dan satu dari populasi umum yang diperkirakan merupakan pelanggan pekerja seks,” paparnya.
Dengan jumlah kasus yang selalu bertambah setiap tahun, dr Sunarto menekankan pentingnya edukasi menyeluruh serta keberanian masyarakat untuk memeriksakan diri.
“Semua pihak harus terlibat. HIV bisa dikendalikan jika deteksi dini, edukasi, dan pengobatan berjalan bersamaan,” pungkas mantan direktur RSUD dr Soedomo Trenggalek ini. (jaz/c1/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah