TRENGGALEK - Perjalanan inspiratif datang dari seorang perempuan muda bernama Arik Khusnaini Arofah, 19 tahun, asal Desa Karangrejo, Kecamatan Kampak, Kabupaten Trenggalek.
Sosok gadis Trenggalek yang introver ini membuktikan bahwa mimpi yang kuat, keberanian memulai, dan kemauan untuk terus belajar mampu membuka jalan menuju masa depan yang ia impikan sejak kecil: menjadi seorang muse profesional.
Awal mula Arik mengenal dunia muse di luar Trenggalek. Yakni terjadi saat dia menjalani PKL di sebuah salon make-up di Wlingi, Blitar.
Di tempat itu, dia bukan hanya belajar make-up, melainkan juga diajari berbagai pose model.
Setiap selesai merias wajah, dia dan teman-temannya berfoto untuk mendokumentasikan hasil karya mereka.
"Ternyata dari momen kecil inilah ketertarikan saya pada dunia muse perlahan tumbuh," katanya.
Setelah lulus SMK, Arik mengaku sempat bekerja di Surabaya. Meski tidak lama, pengalaman itu justru menjadi titik balik.
Pekerjaannya, pemilik salon tempat dia bekerja merias dirinya. Tak disangka, hasil riasan itu menjadi awal tawaran dari seorang teman yang mengajak Arik menjadi model portofolio.
Beberapa hari kemudian, seorang MUA dari Trenggalek membuka lowongan muse untuk private class.
Arik iseng mengomentari postingan tersebut dan keberuntungan berpihak padanya.
Sang MUA melihat potensinya dan memilih Arik sebagai model private.
"Saya mendapatkan saran berharga agar berani memperkenalkan diri melalui DM kepada para MUA lain," tambahnya.
Arik mengikuti saran itu. Dengan keberanian kecil yang dikumpulkan, dia mengirim pesan ke banyak MUA untuk memperkenalkan diri.
Hasilnya luar biasa semakin banyak MUA mengenal Arik, dan semakin banyak pula yang ingin bekerja sama dengannya.
Perlahan namun pasti, namanya mulai dikenal di dunia rias dan muse di daerahnya.
Namun, perjalanan ini tidak selalu mulus. Sebagai seorang introver, Arik harus berjuang melawan rasa ragu dan ketakutan dalam dirinya.
Dia bahkan harus meyakinkan orang tuanya bahwa dunia muse bisa menjadi profesi yang membangun masa depan.
Setiap dia mendapatkan job, terutama workshop, yang merasa semakin termotivasi setelah bertemu muse-muse profesional yang menginspirasi.
Kini, Arik memiliki cita-cita besar menjadi muse profesional yang bisa mengikuti lomba hingga ke kota-kota besar.
Dia percaya langkah kecil yang konsisten akan membawanya menuju panggung yang lebih luas.
Di akhir kisahnya, Arik menyampaikan pesan menyentuh untuk siapa pun yang ingin menjadi muse.
“Jangan pernah takut memulai. Jangan merasa tidak pantas. Semua bisa diusahakan. Tidak ada yang sempurna. Kita sendiri yang harus menyempurnakan ” ujarnya. (bim/c1/rka)
Editor : Didin Cahya Firmansyah