Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Banjir di Pasuruan 2025: Ratusan Rumah Tergenang, Ancaman DAS Meluap Kembali jadi Peringatan Serius

Galuh Agista Rachmadyna • Sabtu, 6 Desember 2025 | 02:45 WIB
Banjir di Pasuruan kembali melanda sejumlah kecamatan dan membuat ribuan warga terdampak.
Banjir di Pasuruan kembali melanda sejumlah kecamatan dan membuat ribuan warga terdampak.

PASURUAN  – Banjir di Pasuruan kembali melanda sejumlah kecamatan dan membuat ribuan warga terdampak.

Fenomena banjir ini menegaskan bahwa wilayah Kabupaten Pasuruan masih rentan terhadap bencana hidrometeorologi terutama saat hujan deras mengguyur dari kawasan hulu.

Dalam kondisi seperti sekarang, masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap potensi luapan sungai dan luapan Daerah Aliran Sungai (DAS).

Menurut data resmi dari BPBD Kabupaten Pasuruan, banjir yang terjadi sejak Rabu (12/11/2025) malam telah menggenangi rumah warga di setidaknya enam kecamatan, yaitu Kecamatan Winongan, Beji, Gempol, Grati, Bangil, dan Rejoso.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariyadi, menyatakan bahwa ratusan rumah masih terendam hingga Jumat (14/11/2025).

Debit air melonjak akibat hujan lebat yang mengguyur kawasan hulu dan tidak tertampung dengan baik oleh aliran sungai, sehingga sungai meluap dan meluber ke pemukiman.

Dampak banjir ini bukan sekadar genangan air di rumah.

Banyak warga terpaksa mengungsi, infrastruktur rusak, dan aktivitas harian terhenti.

Situasi ini mengundang perhatian serius dari pemerintah daerah dan masyarakat luas — sekaligus menjadi peringatan betapa pentingnya mitigasi bencana di Pasuruan.

Daerah Terdampak: Kecamatan Terparah dan Skala Dampak

Berdasarkan laporan terbaru, wilayah paling terdampak adalah Desa Kejapanan dan Desa Gempol di Kecamatan Gempol, serta Desa Kedungringin dan Kedungboto di Kecamatan Beji.

Di Kecamatan Gempol, tercatat sekitar 1.010 kepala keluarga (KK) terdampak. Sedangkan di Kecamatan Beji, ada sekitar 695 KK yang rumahnya terendam.

Sebelumnya, bencana banjir juga sempat menyelimuti daerah di Kecamatan Winongan, Grati, dan Rejoso — menciptakan catatan panjang mengenai rentetan rawan banjir dalam beberapa tahun terakhir.

Genangan air di beberapa titik mencapai ketinggian signifikan, membuat warga tidak bisa melanjutkan aktivitas dan sebagian memilih mengungsi ke tempat aman seperti masjid atau rumah kerabat.

Selain rumah tinggal, banjir juga merendam jalan dan memutus akses transportasi di beberapa desa.

Penyebab: Hujan, Luapan Sungai, dan Risiko DAS

BPBD Kabupaten Pasuruan menyebut, penyebab utama banjir di periode ini adalah hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi sejak siang hingga sore hari, terutama di wilayah hulu sungai.

Aliran sungai di beberapa DAS tidak mampu menampung debit air yang besar sehingga meluap hingga ke pemukiman warga.

Fenomena ini bukan kali pertama terjadi di Pasuruan.

Sejarah mencatat bahwa kawasan ini tergolong rentan banjir dan longsor.

Bahkan banjir dan longsor dalam dekade lalu pernah menelan korban jiwa dan merusak ribuan rumah.

Para pakar lingkungan dan kebencanaan menyebut perubahan pemanfaatan lahan di daerah hulu menjadi salah satu faktor yang memperparah risiko banjir.

Alih fungsi lahan, seperti konversi hutan atau daerah resapan menjadi permukiman atau tambang — mengurangi kemampuan alam menahan curah hujan tinggi, sehingga air langsung mengalir ke hilir.

Respons Pemerintah dan Bantuan untuk Warga Terdampak

Menanggapi situasi darurat ini, BPBD Kabupaten Pasuruan bersama instansi terkait telah menyiapkan bantuan darurat berupa distribusi logistik, makanan siap saji, dan air bersih.

Selain itu, tim reaksi cepat telah dikerahkan untuk membantu evakuasi warga yang rumahnya benar-benar terendam.

Pemerintah daerah juga melakukan upaya mitigasi jangka pendek — seperti pemasangan sand bag dan normalisasi sungai kecil agar aliran air lebih lancar saat hujan turun lagi.

Namun pihak berwenang mengakui bahwa solusi permanen diperlukan, terutama di area dengan risiko tinggi dan frekuensi banjir yang terus berulang.

BPBD juga mengimbau warga yang tinggal di bantaran sungai atau di daerah rendah agar waspada dan siap mengungsi jika hujan deras di perkiraan.

Warga dihimbau memantau kondisi cuaca dan melapor ke RT/RW atau pemerintah desa apabila menemukan plengsengan jembatan atau tanda bahaya lainnya.

Catatan Sejarah: Banjir Berulang di Pasuruan

Wilayah Pasuruan bukan kali ini saja diterjang banjir besar.

Sejarah panjang mencatat berbagai peristiwa — dari banjir bandang tahun 1929 yang menewaskan puluhan orang, hingga banjir besar di tahun 2020 yang merendam delapan kecamatan dan mempengaruhi ratusan ribu jiwa.

Kajian risiko bencana menunjukkan bahwa luas bahaya banjir di Kabupaten Pasuruan mencapai lebih dari 32 ribu hektar, dengan sekitar 597 ribu jiwa tersebar di 21 kecamatan berpotensi terdampak jika tidak ada upaya mitigasi serius.

Meski demikian, frekuensi banjir yang terus berulang mengindikasikan bahwa sistem penanganan dan kesiagaan bencana di daerah ini belum optimal baik dari segi tata ruang, pengelolaan DAS, maupun edukasi masyarakat. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#ratusan rumah #2025 #bencana #banjir pasuruan #Terdampak