TRENGGALEK - Trenggalek dipastikan tidak memiliki wakil dalam kompetisi Liga 4 Jawa Timur.
Tak ayal absennya klub sepakbola asal Trenggalek pada kompetisi tersebut menjadi sorotan publik, sekaligus memunculkan tanda tanya besar mengenai masa depan sepak bola daerah.
Sekretaris Asosiasi Kabupaten (Askab) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Trenggalek, Harianto Sutrasman, menyampaikan bahwa Persiga seharusnya menjadi representasi Kabupaten Trenggalek di Liga 4, sesuai ketetapan kongres PSSI Jawa Timur.
Sebab klub tersebut satu-satunya klub yang berstatus anggota resmi PSSI di Trenggalek.
Namun, klub kebanggaan warga tersebut tidak melakukan pendaftaran.
“Untuk Trenggalek Persiga kok ndak berangkat, itu sebenarnya kami tidak punya kewenangan bicara karena saya bukan pengurus Persiga,” ujarnya, Jumat (5/12/2025).
Sebenarnya untuk mencari wakil di Liga 4 Askab PSSI Trenggalek sebelumnya telah menggelar rapat in ternal sebelum pelaksanaan Liga 4 Jatim untuk menggelar Trenggalek Soccer League (TSK) 2025.
Tetapi petunjuk teknis terkait pelaksanaan Liga 4 dari pengurus pusat belum turun saat itu.
Di sisi lain, kompetisi internal ASKAB yaitu TSL untuk menjaring calon wakil harus berjalan sesuai jadwal.
“Hasilnya juara TSL tahun ini adalah Kuda Laut, yang seharusnya berhak ikut Liga 4 sebagai perwakilan Trenggalek selain Persiga, “ Katanya.
Sebenarnya klub lokal dari Kecamatan Panggul tersebut dinilai memiliki kemampuan teknis untuk bersaing di Liga 4.
Tetapi kesulitan secara pendanaan untuk mengarungi kompetisi tersebut dinilai sebagai faktor utama yang membuat klub urung mengikutinya.
“Setelah kompetisi TSL selesai belum ada petunjuk teknis persyaratan untuk liga 4 jadi Kami secara aplikasi belum melakukan pendaftaran tim. Memang juaranya tentu bisa mewakili, tapi harus menggunakan aplikasi untuk mendaftar. Mungkin dari klub tidak siap dan mungkin anggaran juga tidak sedikit,” jelasnya.
Ketiadaan wakil Trenggalek di Liga 4 disebut berkaitan dengan kondisi internal Persiga yang sedang vakum.
Klub tersebut tidak memiliki struktur manajemen aktif karena akta notaris harus diperbarui setelah ketua umum sebelumnya meninggal dunia.
“Organisasi Persiga itu akta notaris harus ganti. Secara organisasi vakum, tapi kalau pemain itu anak-anak Trenggalek masih muncul,” beber Harianto.
Vakumnya manajemen Persiga membuat tidak ada keputusan strategis yang bisa diambil, termasuk soal keikutsertaan dalam kompetisi tingkat provinsi.
Situasi ini berdampak langsung pada perkembangan karier para atlet muda. Tanpa tim wakil daerah, sejumlah pemain Trenggalek memilih bergabung dengan klub daerah lain demi bisa tetap merasakan atmosfer kompetisi.
“Tahun ini ketika kita ndak ikut, ada beberapa anak main di Kabupaten Madiun,” kata Harianto.
Melihat potensi pemain lokal yang cukup kuat, ASKAB berharap segera ada pembenahan serius di tubuh Persiga.
“Kami mengharap ada pembenahan, ada reorganisasi, ada orang yang mengembangkan di Persiga, sehingga klub anggota internal bisa ikut Liga 4,” tegas pria yang akrab disapa Sutras ini. (jaz)
Editor : Didin Cahya Firmansyah