TRENGGALEK — Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Trenggalek menghadapi beban berat menjelang akhir tahun.
Pasalnya, hingga awal Desember ini, realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata di Trenggalek baru menyentuh kisaran 60 persen sedikit di bawah 65 persen dari target Rp 9 miliar (M). Kondisi ini membuat peluang capaian penuh di penghujung tahun kian mengecil.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disparbud Trenggalek, Edi Santoso, tidak menampik bahwa sektor pariwisata mengalami pelemahan yang cukup signifikan di 2025 ini.
Hal tersebut juga terjadi pada daerah lain yang sektor wisata mengalami penurunan.
“Kalau dibandingkan dengan daerah sebelah seperti Pantai Mutiara menurun sekitar 20 persen. Tulungagung malah bisa turun 30 persen. Penyebabnya salah satunya daya beli masyarakat kemudian kondisi ekonomi yang masih dinamis,” ujarnya.
Penurunan kontribusi ini menjadi tantangan serius bagi pariwisata yang selama ini termasuk penyumbang utama PAD Kabupaten Trenggalek.
Ironisnya, saat target tahun ini belum menunjukkan tanda-tanda tercapai, pemerintah kabupaten (pemkab) justru memasang target lebih tinggi pada tahun depan naik menjadi Rp 10 miliar.
Kendati demikian, disparbud tetap optimistis meski beban target meningkat. “Harapannya tahun depan ekonomi lebih membaik sehingga wisata bisa pulih dan tumbuh,” katanya.
Untuk mengejar target tersebut, Disparbud menyiapkan dua strategi besar.
Pertama, strategi defensif melalui penguatan utilitas dan fasilitas destinasi yang sudah ada, terutama di kawasan pantai yang menjadi penyumbang PAD terbesar.
“Kami harus memperbaiki fasilitas seperti tempat parkir, jogging track, dan kebersihan,” jelasnya.
Kedua, strategi ekspansif dengan membuka dan mengembangkan destinasi baru. Dua lokasi masuk prioritas pengembangan seperti Goa Lowo dan Tumpak Tileng.
“Goa Lowo mau kami ekspansi dengan dukungan dana pinjaman daerah, sedangkan Tumpak Tileng masih proses kerja sama lahan,” imbuhnya.
Edi menyebut dana pinjaman daerah akan menjadi leverage penting untuk mempercepat pengembangan wisata.
Dengan realisasi yang masih seret dan target tahun depan yang lebih ambisius, disparbud kini berada pada tekanan ganda untuk memastikan sektor wisata kembali pulih dan memberikan kontribusi signifikan bagi PAD Trenggalek.
“Pasir Putih dan Simba Ronce mendapatkan alokasi sekitar Rp 1 miliar dari dana pinjaman. Kalau hutangnya bisa terealisasi, maka dana induk bisa dialihkan ke sektor lain,” pungkas pria yang saat ini masih menjabat sebagai Kepala Dinas PM PTSP Trenggalek ini. (jaz/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah