Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Di Trenggalek, EWS Longsor Dipasang untuk Hadapi Bencana, Daerah Rawan Harus Selalu Waspada

Zaki Jazai • Rabu, 24 Desember 2025 | 17:21 WIB
Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek St Triadi menjabarkan daerah yang rawan longsor di wilayah Desa Depok, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek.
Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek St Triadi menjabarkan daerah yang rawan longsor di wilayah Desa Depok, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek.

TRENGGALEK – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek memperketat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi seiring meningkatnya intensitas hujan di Jawa Timur.

Salah satu langkah konkret yang dilakukan yakni pemasangan Early Warning System (EWS) tanah longsor di sejumlah titik rawan di Trenggalek.

Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono mengatakan, langkah tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut atas prakiraan cuaca dari BMKG yang memprediksi hujan sedang hingga lebat disertai petir hingga 20 Desember mendatang.

“Prakiraan BMKG menunjukkan kemungkinan peningkatan hujan sedang hingga lebat disertai petir sampai tanggal 20 Desember. Karena itu, kami meningkatkan kesiapsiagaan,” ujar Triadi.

Dia menjelaskan, karakteristik wilayah Trenggalek yang didominasi perbukitan membuat potensi bencana seperti tanah longsor, banjir, banjir luapan, cuaca ekstrem, hingga pohon tumbang bisa terjadi secara tiba-tiba.

Sebagai bentuk mitigasi, BPBD Trenggalek mendapat dukungan dari BPBD Provinsi Jawa Timur untuk pemasangan EWS tanah longsor. Salah satu titik pemasangan berada di Dusun Kajar, Desa Dukuh, Kecamatan Watulimo.

“Kami bersama tim ahli dari ITS telah memasang EWS pada  Kamis (11/12/2025), semoga pada pengoperasiannya tidak ada kendala,” jelasnya.

Sebelumnya, sistem peringatan dini serupa juga telah dipasang di Desa Depok, Kecamatan Bendungan, serta Desa Timahan, Kecamatan Kampak. Selain EWS, BPBD juga melakukan pemangkasan pohon besar di area publik, pembersihan ranting rawan tumbang, serta pemantauan intensif di titik-titik rawan longsor.

Selain itu BPBD bersama tim ahli tersebut juga telah melakukan sosialisasi terkait penggunaan EWS dan cara kerjanya.

Triadi turut mengingatkan masyarakat pesisir selatan, khususnya nelayan, untuk mewaspadai potensi gelombang tinggi di Samudra Hindia.

Menurut dia, upaya peningkatan kapasitas masyarakat terus dilakukan melalui Sekolah Lapang Cuaca dan Sekolah Lapang Gempa Bumi.

“Ilmu mitigasi itu penting agar masyarakat siap dan mampu mengurangi risiko saat bencana terjadi,” tegasnya.

Saat ini, BPBD Trenggalek menyiagakan 107 personel Tim Reaksi Cepat (TRC) yang bekerja bersama Tagana dan relawan. Selain itu, BPBD juga membuka pos antisipasi di 20 desa rawan bencana di Kecamatan Dongko, Panggul, dan Munjungan.

“Desa yang sering mengalami bencana menjadi prioritas utama penanganan kami,” pungkas mantan Kepala Satpol PPK Trenggalek ini. (jaz/din)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#bpbd #bencana #trenggalek #stevanus triadi atmono