TRENGGALEK – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Trenggalek mencatat masih terjadi serangan siber terhadap web milik pemerintah daerah sepanjang tahun 2025.
Meski jumlahnya menurun drastis dibanding tahun sebelumnya, dua serangan siber tetap terjadi dan menjadi perhatian serius Pemkab Trenggalek.
Kepala Bidang Aplikasi Informatika Diskominfo Trenggalek, Iwan Kukuh Ariffianto, menyampaikan bahwa pada 2025 terdapat dua serangan siber yang menyasar web pemerintah daerah.
Namun, berbeda dengan tahun 2024, serangan tersebut tidak lagi bermuatan judi online.
“Pada 2024 ada 11 serangan judi online ke web pemkab. Tahun 2025 ini masih ada dua serangan, tapi kontennya bukan judi online, melainkan penyalahgunaan web untuk penjualan alat kontrasepsi dan obat kuat,” ujar Iwan.
Iwan menjelaskan, menurunnya jumlah serangan, khususnya judi online, tidak terlepas dari langkah penindakan aparat penegak hukum di tingkat pusat terhadap jaringan pelaku.
“Pelaku judi online di tingkat pusat sudah banyak ditangkap. Mereka inilah yang sebelumnya melakukan serangan ke web-web pemerintah,” jelasnya.
Meski demikian, Diskominfo Trenggalek tetap melakukan penguatan sistem keamanan.
Dua web sektor kesehatan masyarakat yang sempat terdampak kini telah diperbarui dengan sistem coding dan templat yang lebih mutakhir.
“Tahun ini web tersebut sudah kami perbarui dengan coding yang lebih update. Ke depan, templat ini akan kami otomatisasi ke seluruh web OPD agar lebih aman dari serangan siber,” katanya.
Diskominfo menargetkan tidak ada lagi serangan siber pada 2026. Untuk itu, setiap aplikasi dan web yang akan diluncurkan wajib melalui uji keamanan atau penetration test (pen test).
“Pen test memang tidak menjamin 100 persen aman, tapi setidaknya kita tahu di mana titik lemahnya dan bisa segera diperbaiki,” terang Iwan.
Selain itu, diskominfo juga memasang firewall serta bekerja sama dengan tenaga white hacker untuk memantau sistem secara real time.
“Kalau ada serangan, bisa langsung terdeteksi dan segera ditangani,” tandasnya.
Iwan mengungkapkan, diskominfo juga memiliki pengalaman menghadapi serangan siber berat berupa ransomware pada 2023 yang menyasar aplikasi Sistem Keuangan Desa (SiskeuDES) di dinas PMD.
Saat itu, hacker mengunci database dan meminta tebusan. “Kami tidak membayar tebusan karena sistem sudah dilengkapi backup otomatis. Data aman dan tidak ada yang dicuri,” tegasnya.
Untuk pengelolaan web, diskominfo menyediakan server terpusat, sementara admin dikelola masing-masing OPD. Jika terjadi serangan, web akan segera dinonaktifkan sementara untuk mencegah dampak lebih luas.
“Kalau tidak segera di-take down, bisa terdeteksi Kementerian Kominfo dan seluruh web Trenggalek bisa di-suspend,” jelas Iwan.
Setelah itu, web akan diuji ulang sebelum diaktifkan kembali. Diskominfo juga memastikan siap membantu OPD yang belum memiliki tenaga IT khusus dalam penguatan sistem digital.
“Mayoritas OPD sudah punya tenaga IT. Kalau belum, kami siap memfasilitasi dan membantu,” pungkasnya. (jaz/c1/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah