TRENGGALEK – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek menjalin kerja sama dengan BPBD Kabupaten Tulungagung.
Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono mengungkapkan, kerja sama tersebut merupakan langkah BPBD Trenggalek untuk meningkatkan kapasitas dalam pananggulangan bencana.
“Tentunya ini sebagai bentuk langkah dalam rangka kita melaksanakan kerja sama antara kedua BPBD. Satu, penanggulangan bencana karena kita secara hitoris kewilayaannya itu tidak jauh beda antara Tulungagung danTrenggalek. Apalagi, kita berdampingan hanya perbatasan administratif saja,” ungkapnya Selasa (23/12/2025).
Dia menjelaskan, upaya penanggulangan bencana tidak hanya berfokus pada respons saat kejadian, tetapi juga pada penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM).
Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui komunikasi, informasi, dan edukasi serta pelaksanaan pelatihan bersama lintas daerah.
“Dua, jadi yang kita lakukan itu termasuk komunikasi informasi dan edukasi, peningkatan kapasitas SDM, laksanakan pelatihan bersama seperti yang kemarin kita laksanakan. Bertempat di Pantai Mutiara I, Rabu (16/12/2025),” katanya.
“BPBD latihan bersama antara Trenggalek dan Tulungagung. Itu mengawali dengan pelatihan bersama untuk meningkatkan kapasitas bersama. Sejauh mana kemampuan SDM beberapa agenda yang alhamdulillah didukung oleh POS Basarnas Kabupaten Trenggalek,” imbuhnya.
Dia menjelaskan, pelatihan tersebut difokuskan pada kemampuan dasar penyelamatan dan evakuasi korban bencana.
Kegiatan ini dilakukan secara bersama antarwilayah karena potensi bencana kerap terjadi hampir bersamaan di daerah yang berdekatan.
“Jadi, penyelamatan berkaitan dengan dasar-dasar bagaimana kalau ada penyelamatan pencarian korban dan sebagainya. Evakuasi dan sebagainya,” ujarnya.
“Itu yang kita laksanakan bersama-sama dengan BPBD Trenggalek dan Tulungagung. Karena misalkan kalau ada banjir, tanah longsor, maupun bencana-bencana yang lain, di beberapa titik itu kan sering hampir bersamaan. Jadi, paling mudah yang berdekatan, golden time-nya itu segera kita lakukan,” tambahnya.
Menurut dia, kerja sama antardaerah menjadi bagian penting dalam penanganan kebencanaan. Setiap wilayah diharapkan dapat saling membantu apabila terjadi bencana berskala besar seperti bencana yang melanda tiga provinsi di Sumatera.
“Tentunya saling membantu. Jadi, kalau kebencanaan seperti di Aceh, di Sumatera Utara, Sumatera Barat, itu kalau sesuatu terjadi kan bisa kita lakukan, saling membantu dan sebagainya,” ungkapnya.
Triadi menekankan bahwa pelatihan tersebut berperan dalam membangun pemahaman risiko bagi petugas di lapangan.
Petugas di lapangan diharapkan mempunyai kemampuan risk-reward dan bisa memahami SOP dalam menyelamatkan orang.
“Ya. Jadi, yang namanya pelatihan itu supaya kemampuan risk-reward, pengetahuan-pengetahuan bagaimana standard operational procedure, menolong orang. Jangan sampai kita itu justru yang ditolong. Karena menolong atau melakukan pencarian itu kadang banyak sekali hambatan, tantangan,” ungkapnya.
Dia berharap, melalui pelatihan yang dilakukan secara berkelanjutan, profesionalisme petugas kebencanaan dapat terus meningkat.
Kecepatan dan ketepatan waktu menjadi faktor utama dalam menentukan keberhasilan penanganan bencana.
“Ya, itu tadi. Kalau harapannya, kita semakin profesional. Latihan kecepatan dan ketepatan waktu itu kan penting bagi kita,” pungkasnya. (tra/c1/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah