Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Makna Tradisi Kupatan di Trenggalek Simbol Syukur dan Kebersamaan

Wanda Asmah Khoiriyah • Selasa, 8 April 2025 | 19:00 WIB
Para tamu saling bersalaman dan bermaaf-maafan. Tradisi kupatan sebagai momentum kebersamaan dan rasa syukur
Para tamu saling bersalaman dan bermaaf-maafan. Tradisi kupatan sebagai momentum kebersamaan dan rasa syukur

Trenggaleknjenggelek - Trenggalek memiliki banyak tradisi budaya yang terus dilestarikan, salah satunya adalah tradisi kupatan. Perayaan ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus momentum untuk mempererat kebersamaan antarwarga.

Pengasuh Pondok Pesantren Babul Ulum, KH Abdul Fattah Mu'in mengatakan, tradisi kupatan berasal dari kata "ketupat", makanan khas yang identik dengan perayaan pada hari ke-8 Syawal. Menurutnya, ketupat memiliki makna "ngaku lepat", yang berarti mengakui kesalahan dan meminta maaf. Hal ini mencerminkan semangat silaturahmi dan saling memaafkan setelah menjalani ibadah puasa ramadan. "Tradisi ketupat sudah berjalan lebih dari 200 tahun. Ketika KH Imam Mahsyin meninggal pada 1910, kegiatan ini terus dilakukan oleh kalangan masyarakat," ujarnya.

Fattah menanamkan, makna ketupat yang dibalut dengan anyaman daun kelapa yang digunakan untuk membungkus melambangkan perjalanan hidup manusia yang penuh liku, sementara beras di dalamnya melambangkan kebersihan hati setelah menjalani ibadah dan pengampunan.

Pelaksanaan tradisi kupatan di Durenan biasanya digelar seminggu setelah Idulfitri dan dirayakan dengan pawai ketupat, yang melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan. Pawai ini tidak hanya menjadi ajang budaya, bagian dari pelestarian budaya yang diwariskan secara turun-temurun. "Biasanya dilakukan saat pagi hari yang diikuti oleh seluruh pondok di Durenan dan masyarakat melakukan pawai ketupat," tambahnya.

Selain itu, masyarakat menggelar berbagai kegiatan di kediamannya, seperti doa bersama, hingga berbagi ketupat dan makanan khas lainnya. Selain sebagai simbol kebersamaan, kupatan juga sebagai sarana mempererat hubungan sosial.

Kyai Sepuh kelahiran 1948 ini berharap, meski zaman terus berubah, masyarakat Durenan tetap menjaga tradisi kupatan sebagai bagian dari identitas budaya dan agama. Menurutnya, tradisi ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga bentuk penghormatan kepada Mbah Mesir sebagai ulama besar yang telah membawa Islam ke wilayah Trenggalek. "Kupatan sebagai warisan budaya yang terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. Tradisi ini juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga persaudaraan dan kebersamaan," pungkasnya.

Editor : Wanda Asmah Khoiriyah
#kupatan #Gebyar Kupatan #durenan