TRENGGALEK – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memunculkan beragam tanggapan di kalangan para pedagang Pasar Subuh Trenggalek.
Sebagian pedagang menilai program tersebut tidak memberikan dampak berarti terhadap aktivitas perdagangan.
Sementara sebagian lainnya justru merasakan penurunan jumlah pembeli selama program tersebut berlangsung.
Sejumlah pedagang mengaku aktivitas transaksi tetap berjalan seperti biasa saat MBG berjalan.
Ada beberapa pedagang yang mengakui hal tersebut antara lain Alwi dan Indah, menurut mereka, harga komoditas maupun tidak mengalami perubahan yang signifikan meskipun terdapat sedikit kenaikan harga pada komoditas tertentu.
“mungkin pas MBG itu ada sedikit kenaikan harga karena stock barang sedikit,” ungkap Indah, salah satu pedagang sayur di Pasar Subuh Trenggalek.
Namun, kondisi berbeda dirasakan oleh pedagang lainnya. Mereka mengeluhkan suasana pasar yang cenderung sepi ketika program MBG berjalan, terutama pada jam-jam ramai belanja pagi hari.
Salah satu pedagang yang mengeluhkan hal tersebut adalah Iyah.
“Pas MBG jalan kemarin itu, pasar tuh sepi banget,” ujarnya.
Iyah menilai berkurangnya pembeli kemungkinan disebabkan karena kebutuhan konsumsi masyarakat telah terpenuhi melalui program MBG, sehingga masyarakat yang belanja ke pasar berkurang sementara waktu.
Apalagi MBG tidak hanya menyasar ke siswa sekolah namun juga ibu hamil dan lansia.
“MBG kan tidak hanya ke sekolah, Ibu hamil sama lansia kan juga dapat setiap hari, tapi jumat sampai minggu tidak dapat,” ungkapnya.
Meski demikian, kondisi pasar kembali berangsur normal setelah program MBG dihentikan sementara.
Aktivitas jual beli mulai meningkat dan jumlah pembeli kembali ramai seperti sebelumnya.
“Saat ini kan MBG berhenti, alhamdulillah sekarang cukup ramai pasar,” tambahnya.
Diketahui Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada awal Januari 2026 untuk evaluasi dan persiapan teknis.
Yakni dengan target kembali berjalan serentak mulai 8 Januari 2026 setelah memastikan kesiapan dapur, distribusi, dan keamanan pangan. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah