Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

DBD di Trenggalek Renggut Dua Nyawa, Dinkesdalduk KB Sebut Akan Evaluasi meski Angka Kasus Turun untuk Fatalitas Tetap

Zaki Jazai • Selasa, 6 Januari 2026 | 13:09 WIB

 

Salah satu pasien di Trenggalek yang sedang menjalani perawatan diduga akibat DBD yang jumlahnya turun pada 2025 lalu.
Salah satu pasien di Trenggalek yang sedang menjalani perawatan diduga akibat DBD yang jumlahnya turun pada 2025 lalu.

TRENGGALEK – Penurunan tajam kasus demam berdarah dengue (DBD) di Bumi Menak Sopal sepanjang 2025 belum sepenuhnya membawa rasa aman.

Pasalnya, meski angka penularan menurun drastis, DBD masih merenggut dua nyawa warga akibat keterlambatan penanganan medis.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkesdalduk KB) Trenggalek, sepanjang 2025 terdapat dua kasus kematian akibat DBD.

Jumlah ini sama dengan angka kematian pada 2024 sehingga penurunan kasus belum diikuti turunnya angka fatalitas.

Karena itu, masyarakat tidak boleh terlena dengan statistik penurunan kasus. “Secara jumlah kasus memang turun, tetapi dua kematian ini menjadi alarm keras bagi kita semua. DBD tetap mematikan jika terlambat ditangani,” ungkap Kepala Dinkesdalduk KB Trenggalek, dr Sunarto, Senin (5/1/2026).

Menurut dia, hasil evaluasi menunjukkan keterlambatan membawa pasien ke fasilitas kesehatan menjadi penyebab utama kematian.

Banyak warga masih menganggap demam tinggi sebagai penyakit biasa dan memilih pengobatan mandiri tanpa pemeriksaan medis.

“Nyamuk DBD bekerja sangat cepat. Demam tinggi, nyeri sendi, atau muncul bintik merah harus segera diperiksa. Kalau terlambat, pasien bisa masuk fase kritis hanya dalam hitungan hari,” jelasnya.

Dinkes menekankan bahwa peran keluarga sangat menentukan dalam deteksi dini.

Membawa pasien ke puskesmas atau rumah sakit sejak gejala awal muncul dinilai sebagai langkah paling aman untuk mencegah komplikasi berat seperti perdarahan hingga dengue shock syndrome (DSS).

Selain aspek medis, pemerintah daerah terus mendorong pencegahan berbasis lingkungan melalui Gerakan 3M Plus.

Baca Juga: Trenggalek Masih Waspada Bencana Hidrometeorologi, Diterjang Bencana di Awal Tahun 2026

Langkah tersebut meliputi menguras dan menutup tempat penampungan air, mendaur ulang barang bekas, serta upaya tambahan seperti penggunaan kelambu, losion anti-nyamuk, dan pemeliharaan ikan pemakan jentik.

Meski fogging dan penyaluran larvasida tetap dilakukan di wilayah endemis, dr Sunarto menegaskan langkah itu bukan solusi utama.

Fogging hanya respons cepat. Cara paling ampuh tetap perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan,” ujarnya.

Dinkes Trenggalek mengimbau masyarakat tetap waspada, terutama di tengah cuaca ekstrem dan musim hujan yang tidak menentu. Penurunan kasus dinilai belum cukup jika masih ada korban jiwa.

“Menurunkan angka kasus memang penting, tetapi menyelamatkan nyawa jauh lebih utama. Jangan menunggu parah baru mencari pertolongan medis,” jelas mantan direktur RSUD dr Soedomo Trenggalek ini. (jaz/c1/din)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#dbd #trenggalek