TRENGGALEK - Menjadi perajin sangkar burung merupakan pilihan hidup bagi sebagian besar warga Desa Karanganyar, Kecamatan Gandusari.
Tanpa harus meninggalkan rumah dan keluarga, mereka mampu menopang perekonomian dengan memanfaatkan potensi alam yang melimpah, khususnya bambu dan kayu.
Hingga kini, tercatat lebih dari 100 kepala keluarga (KK) di desa tersebut menggantungkan penghasilan dari kerajinan sangkar burung.
Aktivitas membuat sangkar burung telah menjadi bagian dari keseharian warga.
Hampir setiap rumah terdengar suara bambu dipotong, diraut, dan dirangkai.
Bagi warga Desa Karanganyar, tidak ada hari tanpa mengolah bambu dan rotan menjadi sangkar burung.
Keterampilan ini diwariskan secara turun-temurun sehingga keahlian menganyam, membentuk, hingga memberi sentuhan akhir telah melekat sejak usia muda.
Salah satu perajin sangkar burung di desa setempat adalah Jaidi dan Edy Subroto.
Keduanya memproduksi berbagai jenis sangkar, mulai dari sangkar murai batu, perkutut, ayam hias, hingga jenis lain sesuai permintaan pasar.
Proses pembuatan dilakukan secara manual dengan ketelitian tinggi, terutama pada bagian rangka dan detail anyaman yang menentukan nilai estetika sangkar.
Menurut Jaidi, harga sangkar burung ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya variasi model dan tingkat kesulitan dalam proses pengerjaan.
Baca Juga: Desa Wonocoyo Trenggalek Jadi Sentra Pembuatan Beton, Berharap Perhatian Lebih dari Pemerintah
Semakin rumit desain yang diminta, semakin lama waktu produksi, dan semakin tinggi pula nilai jualnya.
“Kalau yang biasa, sehari bisa menghasilkan dua pasang sangkar burung. Kalau sesuai permintaan khusus, biasanya butuh waktu sekitar tiga hari,” ujarnya.
Untuk sangkar model standar, hasil produksi umumnya dikumpulkan terlebih dahulu sebelum diserahkan kepada pengepul.
Proses penyerahan biasanya dilakukan setiap tiga hari hingga satu minggu sekali, tergantung jumlah produksi.
Pola ini sudah berjalan lama dan menjadi bagian dari sistem pemasaran kerajinan sangkar burung di Desa Karanganyar.
Meski merupakan usaha rumahan, pemasaran sangkar burung dari Desa Karanganyar tergolong luas.
Produk kerajinan mereka telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga ke luar Pulau Jawa termasuk Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatra.
Hal ini menunjukkan bahwa kualitas sangkar burung buatan perajin lokal mampu bersaing di pasar nasional.
Keberadaan sentra kerajinan sangkar burung ini tidak hanya menjadi sumber penghidupan warga, tetapi juga memperkuat identitas Desa Karanganyar sebagai desa penghasil kerajinan bambu.
Di tengah keterbatasan lapangan kerja, kreativitas dan keterampilan warga menjadi bukti bahwa potensi lokal mampu menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan. (bim/c1/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah