TRENGGALEK – Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan (Diskomidag) Kabupaten Trenggalek harus terus menggenjot keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Upaya itu mulai membuahkan hasil.
Buktinya, sejumlah UMKM di Trenggalek yang terhubung dengan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melaporkan lonjakan omzet hingga berkali-kali lipat.
Apalagi, berdasarkan data pada Diskomidag Trenggalek saat ini sudah ada lima UMKM binaan yang menjadi pemasok resmi kebutuhan dapur MBG. Seluruhnya mengalami peningkatan penjualan.
“Kami aktif memfasilitasi melalui business matching agar UMKM bisa masuk rantai pasok SPPG. Ini amanat bupati supaya MBG memberi dampak ekonomi bagi masyarakat,” ungkap Kepala Diskomidag Trenggalek, Saniran.
Apalagi saat ini business matching telah digelar tiga sampai empat kali, dengan mempertemukan langsung pelaku UMKM dan pengelola dapur MBG.
Terbaru, kegiatan itu berlangsung pada Senin (12/1/2026) dengan melibatkan 90 UMKM dan 52 SPPG.
Saniran menegaskan kebijakan tersebut sejalan dengan arahan presiden agar pelaksanaan MBG memaksimalkan potensi lokal di setiap daerah.
“Kalau tidak kita pertemukan, UMKM dan SPPG sulit berkolaborasi. Pemerintah daerah wajib memfasilitasi,” tegasnya.
Salah satu UMKM yang merasakan dampak langsung adalah produsen kue di Kecamatan Pule.
Usaha milik Erna Yunita itu kini menjadi pemasok roti basah untuk dua dapur MBG, yakni SPPG Desa Tanggaran dan SPPG Desa Jombok.
“Sekarang ada dua SPPG yang pesan rutin. Dalam seminggu bisa tiga kali pengiriman,” ujar Erna.
Sebelum terlibat dalam MBG, dia hanya mengandalkan penjualan di toko dan kantin sekolah.
Namun, sejak menjadi pemasok SPPG, omzetnya melonjak tajam. “Biasanya sekitar Rp 2 juta per hari, sekarang bisa sampai Rp 6 juta,” katanya.
Lonjakan produksi memaksa Erna menambah tenaga kerja dan peralatan. Dari semula dua karyawan, kini bertambah tiga orang.
Dia juga membeli mixer dan oven baru untuk mengejar target produksi.
Meski begitu, kapasitas masih terbatas. Dia mengaku belum bisa menerima tawaran dari SPPG lain.
“Masih kami atur supaya produksi dan pesanan harian tetap terlayani,” imbuhnya.
Saniran menambahkan, produk UMKM Trenggalek dinilai layak dan sesuai standar MBG. Bahkan, pada hari tertentu seperti Sabtu, ketika dapur tidak menyajikan nasi, produk kue UMKM lokal justru menjadi menu utama.
“Produknya cocok dengan selera anak-anak dan sesuai karakter masyarakat Trenggalek,” pungkasnya.(jaz/c1/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah