Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Genteng Tanah Liat Sukorejo Trenggalek Bertahan di Tengah Gempuran Atap Modern

Mohammad Bima Faisal Mirza • Rabu, 21 Januari 2026 | 12:21 WIB

Aktivitas bongkar muat genteng Sukorejo, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, yang hingga kini masih bertahan.
Aktivitas bongkar muat genteng Sukorejo, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, yang hingga kini masih bertahan.
 

TRENGGALEK- Di tengah maraknya penggunaan atap modern seperti galvalum, seng, dan asbes, perajin genteng tanah liat di Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, masih berjuang mempertahankan usaha tradisionalnya.

Salah satunya adalah Asrofi, produsen genteng rumahan yang telah lebih dari dua dekade menggantungkan hidup dari tanah liat.

Sentra genteng di wilayah Gandusari telah ada sejak puluhan tahun lalu dan menjadi bagian penting dari denyut ekonomi desa.

Pada masanya, genteng tanah liat merupakan material utama yang digunakan hampir di setiap rumah warga.

Namun, perubahan tren pembangunan yang lebih memilih bahan ringan dan cepat pasang membuat permintaan genteng tradisional perlahan menurun.

Meski demikian, Asrofi memilih tetap setia memproduksi genteng dari tanah liat.

Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar mata pencaharian, tetapi juga warisan keterampilan yang diwariskan turun-temurun.

“Genteng ini sudah menjadi bagian dari hidup saya. Dari dulu sampai sekarang, saya tetap bertahan meskipun persaingan makin berat,” ujar Asrofi, Selasa (20/1/2026). 

Tanah liat dari daerah Gandusari dikenal memiliki kualitas baik, dengan karakter padat dan lengket, dua syarat utama untuk menghasilkan genteng yang kuat dan tahan lama.

Bahan baku tersebut diambil dari lahan milik warga Desa Sukorejo yang memang disiapkan sebagai sumber tanah mentah untuk produksi genteng.

Setiap dua hari sekali, Asrofi bersama satu orang pekerja dan istrinya memulai proses produksi secara manual.

Baca Juga: Cara Unik Siswa dan Guru SMPN 1 Karangan Trenggalek Gunakan Piring untuk Kurangi Sampah Plastik

Tahapan dimulai dari mengolah tanah, mencetak genteng, menjemurnya di bawah sinar matahari, hingga membakar dalam tungku tradisional.

Dalam kondisi cuaca normal, ia mampu menghasilkan sekitar 200 hingga 300 buah genteng.

“Produksi sangat tergantung cuaca. Kalau panas, hasilnya bisa banyak. Tapi kalau hujan terus, penjemuran lama dan jumlahnya berkurang,” kata Asrofi.

Genteng tanah liat bukan hanya bagian dari bangunan rumah, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan ekonomi Desa Sukorejo.

Usaha kecil seperti milik Asrofi turut membuka lapangan pekerjaan meski dalam skala terbatas, serta menjaga roda ekonomi desa tetap berputar.

Di tengah pembangunan yang serba cepat dan modern, keberadaan perajin genteng tanah liat di Gandusari menjadi pengingat bahwa kekuatan ekonomi lokal juga bertumpu pada ketekunan masyarakat desa.

Kisah Asrofi mencerminkan bagaimana tradisi dan kerja keras masih bertahan, menjaga warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman.(*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#genteng #trenggalek