Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Legenda Asal Usul Trenggalek, Kisah Menak Sopal Anak Buaya Putih hingga Dam Bagong yang Menjadi Sejarah Jawa Timur

Ingge Nayla Ayu Karina • Selasa, 27 Januari 2026 | 17:50 WIB
Legenda asal usul Trenggalek mengisahkan Menak Sopal, anak buaya putih, Dam Bagong, dan kebesaran hati demi kesejahteraan rakyat.
Legenda asal usul Trenggalek mengisahkan Menak Sopal, anak buaya putih, Dam Bagong, dan kebesaran hati demi kesejahteraan rakyat.

 

TRENGGALEK – Legenda asal usul Trenggalek menjadi salah satu cerita rakyat Jawa Timur yang sarat pesan moral, mitologi, dan nilai pengabdian terhadap masyarakat.

Kisah ini berawal dari Padepokan Sinawang, sebuah pusat pertapaan yang berada di wilayah barat bumi perdikan Sendang Kamulyan, pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit.

 

Kala itu, Majapahit tengah dirundung duka. Putri tunggal sang raja, Raden Ayu Saraswati, menderita penyakit aneh.

Dari tubuhnya tercium bau amis yang sangat menyengat hingga membuat siapa pun tak tahan mendekat.

Berbagai tabib terbaik dari penjuru negeri telah diundang, namun tak satu pun mampu menyembuhkan penyakit tersebut.

 

Merasa putus asa sekaligus malu jika kondisi putrinya diketahui kerajaan lain, sang raja akhirnya meminta saran patihnya.

Atas nasihat sang patih, Raden Ayu Saraswati dibawa ke Padepokan Sinawang untuk dititipkan kepada Ki Ageng Sinawang, tokoh sakti yang dikenal bijaksana dan disegani.

 

Rara Amis dan Pertemuan Takdir di Sungai Bagong

Ki Ageng Sinawang menerima Raden Ayu Saraswati dengan tangan terbuka.

Namun, para murid padepokan tak mampu menyembunyikan ketidaknyamanan akibat bau amis yang keluar dari tubuh sang putri.

Sejak saat itu, Raden Ayu Saraswati dijuluki Rara Amis.

 

Upaya penyembuhan dilakukan dengan cara berendam di Sungai Bagong.

Hari demi hari berlalu, bau amis justru semakin menyengat.

Hingga memasuki hari ke-40, Raden Ayu hampir menyerah pada nasibnya.

Di saat itulah muncul seorang pemuda tampan bernama Sraba yang berenang menghampirinya.

Baca Juga: Di Trenggalek, Ekonomi dan Pertengkaran Masih Jadi Pemicu 1.779 Perkara Perceraian Masuk PA

Sraba berjanji akan menyembuhkan penyakit Raden Ayu Saraswati dengan satu syarat: sang putri bersedia menjadi istrinya.

Karena putus asa, Raden Ayu menyanggupi janji tersebut.

Sraba lalu merendam kedua tangannya ke dalam sungai hingga air bergejolak.

Ajaibnya, air terasa sejuk dan bau amis itu seketika menghilang.

 

Pernikahan dan Rahasia Buaya Putih

Sraba kemudian melamar Raden Ayu Saraswati dan keduanya menikah secara sederhana.

Sang raja Majapahit merestui pernikahan itu dan mengizinkan putrinya menetap di Padepokan Sinawang.

Tak lama, Raden Ayu Saraswati mengandung.

 

Saat kehamilan istrinya, Sraba memutuskan bertapa.

Ia berpesan agar Raden Ayu tidak mengambil jemuran sebelum senja dan dilarang masuk ke tempat pertapaannya.

Namun, larangan itu akhirnya dilanggar.

Ketika Raden Ayu memasuki tempat pertapaan, ia terkejut melihat seekor buaya putih besar.

 

Buaya itu mengaku sebagai Sraba.

Ia menjelaskan bahwa dirinya adalah penguasa Sungai Bagong.

Karena larangan dilanggar, ia harus kembali ke wujud aslinya.

Sebelum pergi, Sraba berpesan agar jika anak mereka lahir laki-laki, diberi nama Menak Sopal.

 

Menak Sopal dan Bendungan Penyelamat Desa

Menak Sopal tumbuh menjadi pemuda cerdas dan sakti.

Ia menguasai berbagai ilmu, termasuk ilmu malih rupa yang membuatnya mampu berubah menjadi harimau besar.

Meski memiliki kesaktian luar biasa, Menak Sopal dikenal rendah hati dan gemar menolong.

 

Suatu saat, warga sekitar padepokan mengalami kekeringan akibat kekurangan air Sungai Bagong.

Menak Sopal berinisiatif membangun bendungan bersama para pemuda desa.

Namun, bendungan itu selalu hancur setiap malam.

 

Dengan mata batin, Menak Sopal mengetahui bahwa buaya putihlah yang merusaknya.

Buaya itu menuntut kepala gajah putih sebagai syarat agar bendungan tidak dirusak lagi.

Demi kepentingan bersama, Menak Sopal menyembelih gajah putih milik Mbok Rondo Krandon dan memberikan kepalanya kepada buaya putih.

 

Setelah itu, bendungan yang dikenal sebagai Dam Bagong berdiri kokoh dan mampu mengairi sawah serta ladang warga.

Meski sempat memicu kemarahan Mbok Rondo, konflik berakhir damai setelah kebenaran terungkap.

Baca Juga: Kebakaran di Trenggalek, Dapur Warga Terbakar usai Ditinggal ke Sawah, 9.000 Liter Air untuk Padamkan, Terungkap Kobaran Api

Ucapan Ki Ageng Sinawang tentang kebesaran hati, “teranging penggalih”, lambat laun berubah pelafalan menjadi Trenggalek, yang hingga kini dikenal sebagai nama daerah tersebut.

Editor : Ingge Nayla Ayu Karina
#Legenda Asal Usul Trenggalek #Dam Bagong #Menak sopal #Buaya Putih Sungai Bagong #cerita rakyat Jawa Timur