SUKABUMI - Desa Adat Gelar Alam Kasepuhan Cipta Gelar kembali mencuri perhatian publik setelah kisah perjalanan menuju kampung adat ini dibagikan lewat video YouTube. Berada di kaki Gunung Halimun, kawasan yang dulu lebih dikenal sebagai Kasepuhan Cipta Gelar ini kini disebut Gelar Alam. Lokasinya tidak mudah dijangkau, karena perjalanan menuju desa adat ini harus melewati jalur menantang dari arah Pelabuhan Ratu, Sukabumi.
Dalam perjalanan tersebut, rombongan wisatawan tiba di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Udara dingin, jalur berbatu, hingga kondisi jalan yang licin saat hujan menjadi tantangan tersendiri. Namun, semua itu seolah terbayar ketika mereka disambut hangat oleh warga yang masih memegang teguh tradisi Sunda dan hidup selaras dengan alam.
Yang menarik, Desa Adat Gelar Alam Kasepuhan Cipta Gelar bukan destinasi wisata komersial. Warga setempat menegaskan bahwa kasepuhan adalah komunitas adat yang menjalankan tatanan leluhur, bukan tempat pariwisata yang menjual paket liburan. Meski begitu, siapa pun yang datang dianggap sebagai tamu, bahkan seperti saudara.
Disambut di Imah Gede, Rumah Sakral Pemimpin Adat
Setibanya di lokasi sekitar pukul 18.00, rombongan langsung menuju Imah Gede, rumah utama sekaligus pusat kegiatan pemimpin adat tertinggi. Di sinilah musyawarah dan keputusan penting adat dilakukan. Pemimpin adat yang disebut dalam video adalah Abah Ugi, sosok yang dikenal ramah dan terbuka menerima tamu.
Baca Juga: Destinasi Wisata Luar Negeri Murah dan Ramah di Kantong Wisatawan Indonesia
Suasana penyambutan di Imah Gede terasa sederhana namun hangat. Tamu disuguhi kopi, teh, camilan, bahkan dodol yang mengingatkan pada dodol Betawi. Tak hanya itu, rombongan juga dipersilakan makan malam bersama, dengan menu rumahan seperti sayur, ayam kecap, telur ceplok, sayur asem, hingga kerupuk.
Secara spiritual, Imah Gede dianggap sebagai bangunan paling sakral di kasepuhan. Tempat ini menjadi titik pusat harmoni antara manusia, alam, dan leluhur. Beberapa ritual besar seperti Seren Tahun atau panen raya biasanya berpusat di area ini dan bisa menghadirkan ribuan hingga puluhan ribu orang, termasuk dari luar negeri.
Filosofi Rumah Adat: Tiang Cagak, Atap Daun Salak
Bangunan adat di Gelar Alam punya filosofi kuat. Dalam video dijelaskan, rumah adat menggunakan konsep “tiang hang cagak” dan “hateup salak”. Tiangnya bercagak, sedangkan atapnya menggunakan daun salak yang harus dibalik agar membentuk struktur seperti atap.
Rumah juga dibuat panggung dengan kolong, yang dimaknai sebagai perlindungan dari bawah, samping, maupun atas. Dindingnya menggunakan bilik bambu, sementara sirkulasi udara dibuat sehat lewat jendela besar yang bisa dibuka. Pengunjung yang masuk pun merasakan suasana menyatu dengan lingkungan karena material bangunan berasal dari alam.
Karena minim jaringan, tamu bahkan harus membeli voucher internet seharga Rp10.000 untuk 24 jam. Hal ini menunjukkan bahwa Gelar Alam benar-benar berada di kawasan yang jauh dari hiruk-pikuk kota.
Baca Juga: Liburan ke Luar Negeri Tetap Murah, Ini Daftar Negara dengan Nilai Tukar Rupiah Tinggi
“Gratis” Tapi Bukan Jual-Beli, Ini Penjelasan Warga
Salah satu hal yang membuat banyak orang penasaran adalah cerita “semua gratis” di desa adat ini. Dalam video, warga menjelaskan bahwa makan dan menginap tidak memiliki konsep harga karena tidak ada konotasi jual-beli. Tamu yang datang dipersilakan makan, bahkan bisa menginap di kamar yang tersedia.
Jika kamar penuh, tamu bisa tidur beralaskan tikar atau memanfaatkan rumah warga. Namun, warga juga menekankan pentingnya etika berkunjung: tetap membawa bekal sendiri dan menyiapkan “rasa terima kasih” sesuai kemampuan masing-masing.
Selain itu, ada aturan tatanan adat yang harus dipatuhi. Misalnya, laki-laki disarankan memakai ikat kepala atau penutup kepala. Bagi yang tidak membawa, bisa meminjam atau membeli sebagai oleh-oleh khas. Di sana juga tersedia kaus, kain, hingga bahan kebaya.
Baca Juga: Cara Mendapatkan Tiket Pesawat Murah ke Luar Negeri ala Traveller Berpengalaman
Cadangan Padi 95 Tahun, Lumbung Jadi Simbol Ketahanan Pangan
Bagian paling mencengangkan dari perjalanan ini adalah keberadaan barisan lumbung padi atau leit. Padi dianggap sakral dan dihormati, bahkan disebut “hidup” sehingga bisa tahan lama tanpa kedaluwarsa.
Menurut informasi yang disampaikan dalam video, total padi dari seluruh kasepuhan disebut mencapai 12.000 dan dapat bertahan hingga 95 tahun sebagai cadangan pangan. Ada pula leit khusus bernama Leit Si Jimat yang disakralkan dan menjadi tabungan komunal. Padi di lumbung ini bisa digunakan saat paceklik, panen gagal, atau untuk kebutuhan di rumah Abah dan Imah Gede.
Selain tradisi pertanian, masyarakat juga masih menumbuk padi secara manual, mengambil kebutuhan beras dari lumbung tanpa alat modern. Semua dilakukan mengikuti kalender adat dan sistem pertanian tanpa bahan kimia.
Perjalanan ke Gelar Alam memberi gambaran bahwa masih ada komunitas di Indonesia yang menjaga nilai gotong royong, hidup dekat hutan, dan mempertahankan warisan leluhur. Di tengah isu ketahanan pangan nasional, kisah dari Desa Adat Gelar Alam Kasepuhan Cipta Gelar ini menjadi pengingat bahwa tradisi juga bisa menjadi kekuatan bertahan hidup.
Baca Juga: 5 Negara Wisata Termurah di Asia, Liburan ke Luar Negeri Bisa Lebih Murah dari Dalam Negeri
Editor : Natasha Eka Safrina