Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Sejarah Menak Sopal Trenggalek: Keturunan Majapahit, Kisah Buaya Putih Sungai Bagong, hingga Legenda Bendungan Bagong yang Tak Pernah Roboh Lagi

Natasha Eka Safrina • Senin, 2 Februari 2026 | 22:31 WIB

Sejarah Minak Sopal Trenggalek mengungkap legenda Dam Bagong, buaya putih, kepala gajah, hingga jejak Wali Songo di makamnya.
Sejarah Minak Sopal Trenggalek mengungkap legenda Dam Bagong, buaya putih, kepala gajah, hingga jejak Wali Songo di makamnya.

TRENGGALEK - Sejarah Minak Sopal Trenggalek kembali menjadi perbincangan setelah kisahnya beredar luas dalam berbagai tayangan sejarah lokal di media sosial. Cerita ini bukan sekadar legenda, tetapi juga menautkan jejak Majapahit, penyebaran Islam, hingga pembangunan bendungan yang dipercaya menjadi solusi kekeringan di wilayah Trenggalek pada masa lampau.

Dalam versi tutur yang berkembang, sejarah Minak Sopal Trenggalek bermula dari kisah seorang perempuan keturunan kerajaan Majapahit yang mengalami penyakit kulit aneh. Penyakit itu membuat tubuhnya berbau amis menyengat, sehingga ia dijuluki Dewi Roro Amiswati. Kondisi tersebut membuatnya diasingkan dari pusat kerajaan dan menetap di wilayah yang kini dikenal sebagai Trenggalek.

Tak ingin menyerah dengan penyakitnya, Dewi Roro Amiswati disebut mengadakan sayembara. Siapa pun—laki-laki atau perempuan—yang sanggup menyembuhkannya akan mendapatkan balasan besar. Jika penyembuhnya laki-laki, ia akan dijadikan suami. Jika perempuan, akan diangkat sebagai saudara.

Baca Juga: Legenda Terang Bale Mojokerto Bikin Merinding! Kisah Putri Majapahit Bau Amis, Buaya Putih Penunggu Sungai Bagong, hingga Asal-usul Bendungan Dagong

Kisah Penyembuhan Dewi Roro Amiswati

Dalam cerita itu, sosok yang berhasil menyembuhkan Dewi Roro Amiswati adalah Minak Sabra. Penyembuhan dilakukan dengan cara “dicilati” atau diobati melalui tangan Minak Sabra. Setelah sembuh, nama Dewi Roro Amiswati kemudian berubah menjadi Dewi Roro Menur.

Selain itu, berkembang pula versi yang menyebut Dewi Roro Amiswati melakukan ritual bertapa dan berendam di Sungai Bagong. Sungai ini diyakini menjadi tempat penting dalam kisah tersebut, karena terkait dengan upaya menghilangkan penyakit kulit yang dideritanya.

Nama Bagong sendiri disebut berasal dari istilah “Babakan Agung” yang kemudian lebih dikenal masyarakat sebagai Bagong hingga sekarang. Lokasi Sungai Bagong pun menjadi titik yang kerap dikaitkan dengan sejarah lokal Trenggalek.

Minak Sopal, Wali Songo, dan Perintah Sultan Demak

Dalam perjalanan berikutnya, Minak Sopal disebut berguru kepada Wali Songo. Ia kemudian mengabdi atas perintah Sultan Demak. Dalam kisah yang beredar, Minak Sopal sempat berhubungan dengan tokoh Adipati Batoro Katong di Ponorogo, sebelum akhirnya diutus ke wilayah Trenggalek.

Baca Juga: Wisata Gunung Banyak Batu Malang Makin Viral! View 360 Derajat, Spot Paralayang hingga Taman Langit Bak Negeri Dongeng, Cuma Jalan 10 Menit

Di Trenggalek, Minak Sopal disebut mengabdi kepada Kiai Ageng Lengkuro atau Raden Joko Lengko, yang disebut sebagai adik dari Adipati Batoro Katong. Pada masa itu, wilayah Trenggalek digambarkan tengah mengalami paceklik dan kekeringan parah, sehingga kebutuhan air untuk pertanian menjadi persoalan besar.

Legenda Bendungan Bagong yang Selalu Dirusak Buaya Putih

Karena situasi krisis air, Minak Sopal kemudian merencanakan pembangunan bendungan yang dikenal sebagai Dam Bagong. Namun pembangunan itu disebut selalu gagal karena bendungan yang dibuat pada siang hari, akan rusak kembali pada malam hari.

Kerusakan tersebut diyakini dilakukan oleh “bajul putih” atau buaya putih. Kejadian itu berulang berkali-kali hingga akhirnya terungkap sosok buaya putih tersebut bukan makhluk biasa.

Dalam cerita, buaya putih itu disebut sebagai Minak Sabra—ayah Minak Sopal—yang berubah wujud. Gangguan terhadap pembangunan bendungan dipercaya bukan untuk mencelakai, melainkan menguji kesabaran sang anak.

Minak Sabra kemudian memberi petunjuk: jika ingin bendungan bisa berdiri dan tidak roboh lagi, Minak Sopal harus melakukan penyembelihan kepala gajah tepat di bawah bendungan.

Baca Juga: 8 Wisata Mojokerto Terbaru 2026 yang Lagi Hits: Ada Pantai di Atas Awan Aone Trawas, Tiket Masuk Mulai Rp5 Ribu!

Kepala Gajah dan Mbok Rondo Grandandon

Minak Sopal lalu mencari gajah hingga ke Ponorogo. Diketahui pemilik gajah itu adalah Mbok Rondo Grandandon. Minak Sopal menyampaikan maksudnya meminjam gajah untuk membantu pembangunan Dam Bagong.

Namun setelah gajah dibawa ke Trenggalek, gajah tersebut justru disembelih. Kepalanya diletakkan sesuai amanat sang ayah. Mendengar hal itu, Mbok Rondo Grandandon marah dan mengutus prajurit untuk menemui Minak Sopal.

Dikisahkan, sebelum prajurit tiba, Minak Sopal membuat terowongan dari Sungai Bagong yang tembus hingga wilayah Tulungagung, Ponorogo. Tujuannya agar ia bisa lebih cepat menemui Mbok Rondo Grandandon dan menjelaskan alasan penyembelihan gajah tersebut.

Setelah bertemu, Minak Sopal menegaskan bahwa tindakan itu dilakukan untuk kepentingan rakyat banyak, terutama untuk mengairi persawahan di Trenggalek. Mendengar penjelasan tersebut, kemarahan Mbok Rondo Grandandon akhirnya mereda.

Makam Minak Sopal dan Jejak Sejarah yang Masih Dipercaya

Hingga kini, kisah Minak Sopal tidak hanya hidup sebagai legenda. Disebutkan Minak Sopal dimakamkan di Kelurahan Ngantru, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Lokasi makamnya berada dekat Dam Bagong.

Di sekitar makam, juga terdapat makam ibu Minak Sopal, serta sembilan prajurit yang dimakamkan di sisi kanan dan kiri. Keberadaan sembilan makam ini sering dikaitkan sebagai simbol Wali Songo.

Tak jauh dari sana, terdapat pula makam Mas Ajeng Sururi, sosok yang disebut memiliki ilmu setingkat wali dan dikenal sebagai penyebar Islam awal di Trenggalek. Berdasarkan tulisan pada batu nisan berbahasa Arab, disebutkan angka tahun 1358.

Dalam narasi sejarah lokal, Minak Sopal bukan hanya tokoh legenda Trenggalek, tetapi juga dianggap sebagai sesepuh dan peletak dasar pembangunan, sekaligus bagian dari perjalanan penyebaran Islam pada masa Kesultanan Demak Bintoro.

Editor : Natasha Eka Safrina
#Menak sopal #Cerita Rakyat Trenggalek