TRENGGALEK - Kampung Bulak PP Ngawi menjadi salah satu kampung unik yang masih bertahan dengan tradisi beternak kerbau di tengah hutan jati Kabupaten Ngawi.
Berada di Desa Banyu Biru, Kecamatan Widodaren, kampung ini dikenal luas sebagai kampung kerbau karena sebagian besar warganya menggantungkan hidup dari ternak kerbau.
Di saat tren peternakan nasional lebih condong ke sapi dan kambing, Kampung Bulak PP Ngawi justru tetap setia memelihara kerbau secara turun-temurun.
Baca Juga: Pemdes Pandean Trenggalek Terus Kebut KDMP untuk Pusat Kegiatan Ekonomi Desa
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2020, populasi kerbau di Indonesia hanya tersisa sekitar 1,17 juta ekor.
Jumlah tersebut tergolong kecil jika dibandingkan dengan luas wilayah dan jumlah penduduk Indonesia.
Namun kondisi itu tidak berlaku di Kampung Bulak PP Ngawi yang justru menjadi kantong populasi kerbau terbesar di wilayah setempat.
Kampung Kerbau di Tengah Hutan Jati
Untuk mencapai Kampung Bulak PP Ngawi, pengunjung harus melewati hutan jati sejauh kurang lebih dua kilometer.
Akses jalan menuju kampung ini relatif mudah karena berada di dataran rendah dan sudah beraspal.
Meski berada di tengah hutan, suasana kampung terasa sejuk, asri, dan tertata rapi.
Permukiman warga terlihat bersih dengan jalan kampung yang sudah dipaving.
Rumah-rumah warga berjajar rapi dan sebagian besar tampak permanen dengan kondisi terawat.
Sekilas, Kampung Bulak PP Ngawi tidak berbeda dengan kampung lain di pedesaan Jawa Timur.
Ratusan Kerbau Jadi Sumber Penghidupan
Keunikan Kampung Bulak PP Ngawi terletak pada jumlah kerbau yang dipelihara warganya.
Sedikitnya terdapat lebih dari 700 ekor kerbau yang menjadi aset ekonomi masyarakat setempat.
Menariknya, kandang kerbau sengaja dipisahkan dari permukiman warga.
Area kandang berada di lahan milik Perhutani yang disewa secara kolektif oleh warga setiap tahun.
Pemisahan ini membuat lingkungan kampung tetap bersih dan tidak berbau kotoran ternak.
Pengunjung pun tidak akan mencium aroma menyengat meski berada di kampung yang dipenuhi peternak kerbau.
Tradisi Menggembala dan Mandi Kerbau
Setiap pagi, kerbau-kerbau digembalakan ke kawasan hutan di sekitar kampung.
Menjelang siang hingga sore, gerombolan kerbau kembali ke kandang secara berkelompok.
Sebelum masuk kandang, kerbau-kerbau tersebut biasanya mandi di sungai yang mengalir di sekitar area kandang.
Pemandangan kerbau mandi di sungai menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Momen ini sering dimanfaatkan wisatawan untuk berfoto atau sekadar menikmati suasana pedesaan.
Aktivitas tersebut kini mulai dikenal sebagai potensi wisata berbasis budaya dan alam di Kampung Bulak PP Ngawi.
Alasan Warga Tetap Memilih Kerbau
Warga Kampung Bulak PP Ngawi memiliki alasan kuat mengapa tetap memilih kerbau dibanding sapi.
Kerbau dinilai lebih hemat biaya perawatan karena bisa mencari pakan sendiri di hutan.
Selain itu, kerbau tidak memerlukan perawatan intensif seperti suntik hormon atau pakan khusus.
Dari sisi ekonomi, harga kerbau dewasa bisa mencapai puluhan juta rupiah per ekor.
Dalam setahun, satu indukan kerbau dapat melahirkan anak sehingga menjadi investasi jangka panjang.
Tak heran jika banyak warga yang tampak sederhana, namun sejatinya memiliki aset ternak bernilai tinggi.
Potensi Wisata Desa yang Terus Berkembang
Keberadaan Kampung Bulak PP Ngawi kini mulai dilirik sebagai destinasi wisata alternatif.
Wisatawan yang merindukan suasana desa asri di tengah hutan bisa menikmati kehidupan peternak kerbau secara langsung.
Keunikan budaya, alam, serta kearifan lokal menjadi kekuatan utama kampung ini.
Baca Juga: Dua Pejabat Eselon II Pemkab Trenggalek Purna Tugas, Kursi Kepala Dinas Banyak Kosong
Dengan pengelolaan yang tepat, Kampung Bulak PP Ngawi berpotensi menjadi desa wisata unggulan di Kabupaten Ngawi.
Kampung ini membuktikan bahwa tradisi lama masih bisa bertahan dan memberikan kesejahteraan di era modern.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina