TRENGGALEK - Kampung Kerbau Ngawi di Dusun Bulak Pepe, Desa Banyubiru, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, menjadi perhatian publik karena seluruh warganya menggantungkan hidup dari beternak kerbau secara turun-temurun.
Kampung unik ini berkembang pesat dan kini dikenal sebagai sentra peternakan kerbau terbesar di wilayah setempat.
Kampung Kerbau Ngawi mulai tertata sekitar lima tahun terakhir.
Sebelumnya, kandang kerbau tersebar di tengah permukiman warga.
Namun kini seluruh kandang dipusatkan di pinggiran hutan dan dekat aliran sungai demi kenyamanan ternak dan kebersihan lingkungan.
Kampung Kerbau Ngawi, Sentra Peternakan Berbasis Alam
Mayoritas warga Kampung Kerbau Ngawi memiliki antara 10 hingga 19 ekor kerbau per kandang.
Dalam satu kampung, jumlah kerbau yang dipelihara mencapai ratusan ekor.
Pemandangan ini menjadikan Bulak Pepe berbeda dengan desa-desa lain di Ngawi.
Setiap pagi, kerbau dilepas ke kawasan hutan untuk mencari rumput secara alami.
Metode ini mengurangi biaya pakan sekaligus menjaga kesehatan ternak.
Kerbau dikenal sebagai hewan yang kuat dan mampu beradaptasi dengan lingkungan liar.
Siang hari menjadi waktu paling khas di Kampung Kerbau Ngawi.
Puluhan kerbau digiring menuju sungai untuk dimandikan dan berendam.
Warga setempat menyebut lokasi pemandian ini dengan istilah plegungan.
Tradisi Memandikan Kerbau Jadi Daya Tarik
Kerbau memiliki kulit gelap yang sensitif terhadap panas.
Karena itu, berendam di sungai menjadi rutinitas wajib setiap hari.
Pemandangan kerbau berendam berlumpur menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Usai dimandikan, kerbau kembali dilepas sebentar sebelum sore hari masuk kandang.
Pada malam hari, ternak diberi pakan jerami padi kering atau kawul dalam istilah lokal.
Jerami ini berasal dari sisa panen sawah warga sekitar.
Nilai Ekonomi Kampung Kerbau Ngawi
Dari sisi ekonomi, Kampung Kerbau Ngawi menyimpan potensi besar.
Harga satu ekor kerbau dewasa atau indukan berkisar antara Rp20 juta hingga Rp25 juta.
Sementara kerbau anakan dibanderol Rp10 juta hingga Rp15 juta per ekor.
Jika seorang peternak memiliki 15 hingga 19 ekor kerbau, nilai asetnya bisa menembus ratusan juta rupiah.
Tak heran jika kampung ini disebut sebagai kampung dengan “aset berjalan” terbesar di daerahnya.
Menariknya, satu orang penggembala mampu mengurus hingga 15 sampai 19 ekor kerbau sekaligus.
Kerbau-kerbau tersebut sudah terbiasa dengan rute harian dari kandang, hutan, hingga sungai.
Kampung Kerbau Ngawi sebagai Wisata Edukasi
Selain sebagai pusat peternakan, Kampung Kerbau Ngawi berpotensi menjadi wisata edukasi pedesaan.
Pengunjung dapat melihat langsung sistem beternak tradisional yang masih bertahan di era modern.
Aktivitas menggembala, memandikan kerbau, hingga pemberian pakan menjadi pengalaman unik yang jarang ditemukan di wilayah lain.
Potensi ini dinilai mampu mendorong ekonomi desa melalui sektor wisata berbasis budaya dan pertanian.
Baca Juga: Perempuan Asal Trenggalek, Firnanda Dwi Ventina, Menyemai Semangat Lari dari Desa
Pemerintah desa dan warga berharap Kampung Kerbau Ngawi terus berkembang tanpa meninggalkan kearifan lokal.
Dengan pengelolaan yang tepat, kampung ini bisa menjadi ikon peternakan tradisional Jawa Timur.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina