Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Dusun Cemoro Sewu Magetan Diselimuti Kabut Tebal, Petani Stroberi Mengeluh Gagal Panen: “Agustus Harusnya Untung, Ini Malah Tekor”

Natasha Eka Safrina • Rabu, 4 Februari 2026 | 14:00 WIB

Dusun Cemoro Sewu Magetan berkabut tebal. Petani stroberi mengeluh gagal panen, Agustus yang harusnya untung malah tekor.
Dusun Cemoro Sewu Magetan berkabut tebal. Petani stroberi mengeluh gagal panen, Agustus yang harusnya untung malah tekor.

MAGETAN - Dusun Cemoro Sewu Magetan kembali ramai diperbincangkan setelah diulas dalam video kanal YouTube Jejak Richard. Bukan hanya karena dikenal sebagai kawasan wisata populer di lereng Gunung Lawu, tetapi juga karena sisi lain kehidupan warganya yang jarang tersorot. Di balik udara dingin dan panorama pegunungan, para petani stroberi di Dusun Cemoro Sewu mengaku sedang menghadapi musim sulit akibat cuaca yang tak menentu.

Dalam video tersebut, kreator menyebut lokasi yang dikunjungi berada di Dusun Semorosewu, Desa Ngancar, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan. Wilayah ini dikenal sebagai destinasi wisata di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, sekaligus jalur pendakian Gunung Lawu. Banyak wisatawan datang dari berbagai kota, mulai Semarang, Surabaya, hingga Solo.

Namun pada kunjungan yang dilakukan Selasa (5/8/2025) sekitar pukul 12.00 WIB, suasana Cemoro Sewu tidak menampilkan langit cerah seperti yang biasa muncul di unggahan wisata. Matahari tak terlihat, kabut tebal menutup jarak pandang hingga diperkirakan hanya sekitar 20 meter. Suhu udara terasa sangat dingin meski berada di siang hari.

Baca Juga: Kasus Pemukulan Guru di Trenggalek, Solidaritas Guru Lintas Daerah dari Jatim hingga Jateng Datangi PN dan Kawal Kasus

Kabut Tebal dan Kemarau Basah Bikin Jarak Pandang Terbatas

Kondisi cuaca yang disebut “kemarau basah” membuat kawasan pertanian di Cemoro Sewu tampak suram. Kebun stroberi, wortel, hingga kol yang menjadi andalan warga tidak terlihat jelas karena kabut yang terus turun. Meski begitu, aktivitas warga tetap berjalan. Sejumlah petani terlihat masih berada di kebun, melakukan perawatan tanaman dan memetik buah yang masih bisa diselamatkan.

Di sepanjang jalan kampung, rumah-rumah warga berdiri sederhana dan sebagian besar berada tepat di pinggir lahan pertanian. Bahkan, beberapa rumah disebut hanya perlu melangkah keluar pintu untuk langsung melihat kebun stroberi atau sayuran di halaman belakang.

Kreator juga sempat menyinggung adanya tempat wisata seperti Gumarang Park dan kebun stroberi petik sendiri. Artinya, Cemoro Sewu tidak hanya hidup dari pertanian, tetapi juga mengandalkan kunjungan wisatawan.

Baca Juga: Wisata Danau Toba Makin Lengkap, Menginap di Rumah Pohon hingga Kano dan Desa Adat Batak Jadi Daya Tarik Baru

Curhat Petani Stroberi: Buah Rusak karena Kabut dan Embun

Saat menyambangi petani stroberi, kreator mendapatkan cerita yang cukup mengkhawatirkan. Seorang petani menyebut cuaca dingin, kabut, serta embun justru merusak buah stroberi. Kondisi ini membuat banyak hasil panen tidak maksimal, bahkan mengalami kegagalan.

“Buahnya rusak, Pak, ngeten iki,” kata salah satu petani dalam percakapan di video tersebut. Petani lain menambahkan bahwa cuaca tahun ini sulit diprediksi. Mereka menyebut banyak tanaman “gagal sedoyo” karena tidak mendapat panas yang cukup.

Padahal, menurut warga, bulan Juli hingga Agustus biasanya menjadi puncak panen raya stroberi di Cemoro Sewu. Pada periode itu, petani biasanya sudah balik modal dan mulai menikmati keuntungan. Tahun ini situasinya berbeda.

“Agustus niki modal pun balik ngoten mestine,” ujar petani. Namun karena cuaca buruk berkepanjangan, hasil panen tidak sesuai harapan. Beberapa bahkan mengaku “tekor” atau merugi.

“Sing Penting Mboten Rugi”, Tapi Nyatanya Tetap Tekor

Yang menarik, para petani tetap bertahan menjalankan aktivitas berkebun meski hasilnya tidak menentu. Mereka memilih terus merawat tanaman sambil berharap ada rezeki yang datang. Ada yang mengatakan “sing penting mboten rugi”, namun kemudian diakui bahwa kondisi sekarang tetap membuat mereka merasakan kerugian.

Bagi petani stroberi, cuaca panas menjadi faktor penting agar buah bisa berkembang maksimal. Ketika kabut dan hujan terus datang, stroberi lebih mudah busuk dan kualitasnya menurun.

Baca Juga: Bukit Holbung hingga Air Terjun Situmurun, Deretan Spot Wisata Danau Toba yang Disebut Bak Negeri Dongeng

Selain stroberi, sebagian warga juga menanam wortel atau sayuran lain. Namun stroberi tetap menjadi komoditas utama karena dianggap paling cocok dengan karakter tanah di lereng Gunung Lawu.

Wisata Tetap Jalan, Tapi Pengunjung Disebut Berkurang

Dalam video tersebut, kreator menyebut penjualan hasil kebun sebenarnya tidak terlalu sulit karena biasanya wisatawan yang datang membeli stroberi langsung di lokasi. Bahkan pada musim ramai, petani mengaku bisa kewalahan melayani tamu.

Namun saat cuaca tak mendukung, wisatawan juga disebut berkurang. Artinya, petani terdampak ganda: hasil panen turun, jumlah pembeli juga tidak sebanyak biasanya.

Meski demikian, kehidupan di Cemoro Sewu tetap berjalan sederhana. Warga mengandalkan alam, bekerja di kebun setiap hari, lalu menjual hasil panen di pinggir jalan kawasan wisata.

Baca Juga: Menginap di Rumah Pohon Tepi Danau Toba, Sensasi Wisata Alam, Kano Pagi, hingga Jelajah Budaya Batak yang Jarang Diketahui

Perjuangan Pedagang Jajanan: Ongkos Ojek Rp50 Ribu Sekali Jalan

Selain petani, kreator juga menyorot perjuangan pedagang kecil yang ikut menggantungkan penghasilan dari wisata Cemoro Sewu. Salah satunya ibu penjual kacang godok dan jajanan ringan yang datang setiap hari dari daerah bawah Sarangan.

Ibu tersebut mengaku harus naik ojek dengan ongkos sekitar Rp50 ribu untuk sampai ke lokasi. Saat pulang, ia kadang menumpang motor wisatawan yang kembali turun. Ia tetap berjualan meski suasana sepi, demi mendapat penghasilan harian.

Kreator pun mengajak penonton untuk lebih peduli. Jika bertemu pedagang kecil seperti itu, disarankan membeli dagangannya sebagai bentuk dukungan.

Di akhir video, kreator menutup blusukan dengan kesan bahwa Dusun Cemoro Sewu bukan hanya tentang wisata dan jalur pendakian. Di balik kabut tebal dan udara dingin, ada warga yang tetap bekerja keras meski cuaca membuat panen tidak lagi menjanjikan.

Editor : Natasha Eka Safrina
#Gunung Lawu #lereng gunung lawu #desa ngancar