JAKARTA - Tradisi Seren Taun di Kesepuhan Gelar Alam mendadak viral dan jadi sorotan warganet. Bukan hanya karena rangkaian upacara adatnya yang sakral, tetapi juga karena keramahan warga yang membuat banyak orang tak menyangka: tamu yang datang bisa makan gratis, bahkan menginap gratis.
Dalam video yang beredar, suasana dapur besar di rumah tokoh adat setempat terlihat sibuk sejak pagi. Ratusan warga, terutama ibu-ibu, kompak memasak untuk para tamu dan undangan. Aroma masakan mengepul dari tungku-tungku tradisional, sementara nasi dan lauk disiapkan tanpa henti.
Menariknya, siapapun boleh masuk dan ikut menikmati hidangan. “Kalau makan di sini gratis,” kata salah satu warga saat ditanya soal sajian yang disediakan untuk tamu. Inilah yang membuat Seren Taun di Kesepuhan Gelar Alam bukan hanya sekadar perayaan budaya, tapi juga simbol kuat gotong royong dan solidaritas warga adat.
Baca Juga: UPT Pengujian Kendaraaan Bermotor Targetkan 8000 Kali Pengujian di Tahun 2026
Dapur Gotong Royong, Ayam 4 Kuintal Disiapkan
Kesibukan di dapur terlihat luar biasa. Tidak hanya satu jenis masakan, melainkan banyak lauk disiapkan oleh tim yang berbeda-beda. Bahkan disebutkan, untuk acara tahun ini warga menyiapkan ayam hingga empat kuintal.
“Empat kintal,” ujar seorang ibu saat ditanya jumlah ayam yang dimasak. Jumlah itu bahkan disebut bisa lebih jika digabung dengan menu lain seperti kambing dan ikan mas.
Pemandangan tersebut memperlihatkan betapa besarnya skala acara adat ini. Bukan sekadar seremoni, namun juga pesta rakyat yang melibatkan banyak tangan. Semua dilakukan dengan semangat kebersamaan, tanpa hitung-hitungan untung rugi.
Baca Juga: Atasi Genangan Air, Disperkimhub Revitalisasi dan Lakukan Perawatan Drainase
Abah Ugi: Seren Taun Itu Amanat Leluhur
Dalam video, salah satu sesepuh adat, Abah Ugi, menjelaskan bahwa Seren Taun bukan acara biasa. Ia menyebut tradisi ini sebagai amanat turun-temurun yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan.
Menurutnya, sejak dulu leluhur sudah mewariskan pesan agar masyarakat adat kuat memegang nilai-nilai yang menjadi pegangan hidup. Salah satu inti yang terus ditekankan adalah tentang pertanian dan ketahanan pangan.
Abah Ugi juga menyinggung sejarah masa penjajahan Jepang, ketika banyak orang mengalami kelaparan. Namun, ia mengatakan masyarakat adat tetap bisa bertahan karena memiliki sistem kebersamaan dan kemandirian pangan.
“Zaman dulu penjajah Jepang itu banyak orang kelaparan, tapi orang adat Alhamdulillah enggak ada yang kelaparan,” ujarnya. Ia menekankan bahwa sejak dulu setiap kampung punya lumbung dan budaya kompak dalam menjaga persediaan pangan.
Nilai inilah yang dianggap masih hidup sampai sekarang. Seren Taun menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan juga warisan budaya.
Baca Juga: Akibat Laka Bus di Kediri, Terminal Trenggalek Perketat Keamanan Armada
Ritual Sakral dan Penghormatan pada Padi
Dalam rangkaian acara, terlihat pula ritual yang dilakukan dengan suasana khidmat. Ada doa-doa yang dipanjatkan, permohonan kepada Yang Maha Kuasa, hingga prosesi yang menunjukkan penghormatan tinggi terhadap padi sebagai sumber kehidupan.
Pengunjung dalam video bahkan menyebut pengalaman ini sangat berbeda karena masyarakat di sana memperlakukan padi dengan penuh rasa hormat. Bukan hanya hasil panen, tetapi simbol keberkahan yang dijaga lewat tradisi.
Ritual ini juga menegaskan bahwa budaya Sunda di wilayah tersebut masih dijalankan dengan kuat. Beberapa bagian prosesi terdengar menggunakan bahasa Sunda, menambah kesan sakral sekaligus autentik.
Pengunjung Merinding: “Feel-nya Dapat Banget”
Tak sedikit pengunjung yang mengaku terkesan. Ada yang menyebut acara ini sebagai pengalaman baru, karena nuansa adatnya begitu terasa dan dijalankan serius.
“Acaranya menurut aku lumayan sakral… feel-nya dapat banget,” ujar salah satu pengunjung. Ia mengaku merinding sekaligus salut dengan budaya adat yang masih terjaga.
Perjalanan menuju lokasi juga disebut cukup ekstrem, namun tetap seru. Mereka harus melewati jalur yang menantang dan menggunakan kendaraan khusus. Meski begitu, semua terbayar ketika melihat langsung prosesi Seren Taun.
Rangkaian Acara: Rukun Tani hingga Pesta Panen
Di bagian akhir video, disebutkan rangkaian acara Seren Taun mencakup beberapa kegiatan, mulai dari rukun tani, rengkong, pesta panen, arak-arakan, hingga rapat adat di balai sosial.
Bagi masyarakat adat, ini bukan sekadar tontonan. Seren Taun adalah momentum mempererat persaudaraan, menguatkan nilai gotong royong, serta menjaga hubungan manusia dengan alam.
Viralnya Seren Taun di Kesepuhan Gelar Alam akhirnya menjadi pengingat bahwa tradisi lokal bisa tetap hidup, bahkan menarik perhatian luas, ketika dijalankan dengan tulus dan penuh kebersamaan.
Editor : Natasha Eka Safrina