Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Viral Kampung Adat Gelar Alam Sukabumi di Puncak Gunung Halimun: Leuit Si Jimat Umur 600 Tahun, Padi Pantang Dijual!

Natasha Eka Safrina • Rabu, 4 Februari 2026 | 14:40 WIB

Kampung Adat Gelar Alam Sukabumi viral! Ada Leuit Si Jimat umur 600 tahun, padi pantang dijual, tradisi Seren Taun sakral.
Kampung Adat Gelar Alam Sukabumi viral! Ada Leuit Si Jimat umur 600 tahun, padi pantang dijual, tradisi Seren Taun sakral.

JAKARTA - Nama Kampung Adat Gelar Alam Sukabumi kembali ramai dibicarakan warganet setelah video perjalanan ke perkampungan adat di puncak Gunung Halimun itu beredar luas. Bukan hanya panorama alamnya yang menyejukkan, kampung ini juga menyimpan warisan budaya yang membuat banyak orang takjub: ada Leuit Si Jimat yang disebut berusia 600 tahun, aturan adat ketat soal padi, hingga tradisi Seren Taun yang sakral.

Dalam video tersebut, perjalanan dimulai dari kawasan perkampungan yang berada di Gelar Alam atau Cipta Gelar. Sepanjang jalur, pengunjung disuguhi pemandangan rumah-rumah adat dengan atap tradisional, udara dingin pegunungan, serta aliran air jernih yang langsung berasal dari gunung.

Tak heran, Kampung Adat Gelar Alam kini menjadi magnet baru bagi wisatawan, budayawan, hingga konten kreator yang ingin melihat langsung kehidupan masyarakat adat yang masih memegang teguh kearifan lokal.

Baca Juga: Negosiasi Trump kepada Iran Kian Buntu, Kini Amerika Desak Uranium Diserahkan, Militer Iran Siaga Penuh dan Warga Tetap Tenang

Sejarah Gelar Alam: Pernah Bernama Cipta Rasa dan Cipta Gelar

Pemandu lokal bernama Kang Ricky menjelaskan, Gelar Alam merupakan kampung adat yang sebelumnya dikenal sebagai Cipta Rasa, lalu berpindah ke Cipta Gelar, hingga akhirnya menetap di lokasi sekarang yang disebut Gelar Alam.

Menurutnya, perpindahan ini terjadi bukan tanpa alasan. Ada “wangsit” atau amanat leluhur yang menjadi dasar keputusan tokoh adat untuk berpindah tempat, sesuai keyakinan masyarakat setempat.

Saat ini, Kampung Adat Gelar Alam dihuni sekitar 150 kepala keluarga dan telah beroperasi sebagai pemukiman adat di lokasi baru selama 3–4 tahun terakhir. Meski berada di atas gunung, kebutuhan air tetap tercukupi karena sumbernya langsung dari aliran pegunungan.

Aturan Berkunjung: Wajib Izin ke Sesepuh Abah Ugi

Bagi wisatawan yang ingin berkunjung, ada aturan penting yang harus dipatuhi. Kang Ricky menegaskan, setiap tamu diminta izin terlebih dahulu kepada sesepuh, yakni Abah Ugi.

Mulai dari sekadar silaturahmi hingga pengambilan foto dan video, semuanya harus melalui izin sebagai bentuk penghormatan terhadap adat dan tata krama kampung.

Menariknya, pengunjung ke Gelar Alam tidak hanya datang dari dalam negeri. Kang Ricky menyebut ada tamu dari luar negeri, salah satunya dari China, yang pernah berkunjung ke kampung adat ini.

Baca Juga: UPT Pengujian Kendaraaan Bermotor Targetkan 8000 Kali Pengujian di Tahun 2026

Untuk tamu yang ingin bermalam, tersedia pula homestay. Jalur menuju Gelar Alam sendiri cukup menantang karena harus menempuh perjalanan naik gunung sekitar 30 kilometer dari jalan provinsi.

Leuit dan Larangan Menjual Padi: Cadangan Pangan Dijaga Ketat

Salah satu daya tarik utama Kampung Adat Gelar Alam Sukabumi adalah keberadaan leuit atau lumbung padi. Kang Ricky menyebut jumlah leuit di kawasan ini lebih dari 50 yang tersebar di beberapa bukit.

Leuit bukan sekadar bangunan penyimpanan, tetapi simbol ketahanan pangan masyarakat adat. Padi disimpan sebagai cadangan makanan dan menjadi bagian penting dari tradisi.

Yang membuat banyak orang terkejut, di Gelar Alam terdapat aturan adat yang melarang padi diperjualbelikan. Padi dianggap sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga, bukan komoditas untuk transaksi bebas.

Di salah satu bangunan musyawarah tokoh adat, terlihat padi disimpan dalam bentuk ikatan khas. Proses panen pun masih tradisional menggunakan ani-ani, dipetik satu per satu, bukan menggunakan arit seperti di sawah modern.

Baca Juga: Atasi Genangan Air, Disperkimhub Revitalisasi dan Lakukan Perawatan Drainase

Leuit Si Jimat: Lumbung Padi Sakral Berusia 600 Tahun

Sorotan utama video ini adalah Leuit Si Jimat, leuit yang disebut paling sakral dan paling tua di antara leuit lainnya. Disebutkan, usia Leuit Si Jimat mencapai 6 abad atau sekitar 600 tahun.

Leuit ini akan dihias khusus ketika menjelang upacara Seren Taun. Warga menyebut Leuit Si Jimat sebagai “raja” atau induk dari seluruh leuit yang ada di Gelar Alam.

Menariknya, leuit ini juga memiliki “siloka” atau filosofi kehidupan. Salah satunya, pintu leuit berada di bagian atas, bukan di bawah. Maknanya, siapa pun yang ingin mendapatkan hasil harus mau berusaha dan “mendaki” terlebih dahulu.

Filosofi ini dinilai sejalan dengan prinsip hidup masyarakat adat: kerja keras, ikhtiar, serta menjaga keseimbangan dengan alam.

Baca Juga: Liga Brazil Vasco da Gama vs Mirassol: Jual Beli Serangan Sejak Awal, Kini Gol Sundulan Bikin Vascão Unggul Meski Coutinho Tumbang

Seren Taun Digelar Sekali Setahun, Biasanya September–Oktober

Kampung Adat Gelar Alam juga dikenal sebagai pusat tradisi Seren Taun, upacara adat tahunan sebagai puncak rangkaian pertanian padi. Dalam video disebutkan, Seren Taun biasanya berlangsung sekitar September hingga Oktober, meski tanggal pastinya menyesuaikan keputusan adat.

Abah Ugi, sesepuh Kampung Adat Gelar Alam, menjelaskan bahwa masyarakat adat masih menjaga tradisi bertani dengan bibit lokal. Bahkan disebutkan ada sekitar 168 varietas padi yang hidup di lingkungan kasepuhan.

Teknologi modern tidak digunakan sembarangan. Dari menanam hingga panen, ada rangkaian adat yang dijaga turun-temurun, demi menjaga tradisi sekaligus ketahanan pangan.

Di era sekarang, kisah Kampung Adat Gelar Alam Sukabumi menjadi bukti bahwa budaya lokal masih bisa bertahan, bahkan menjadi inspirasi, ketika dijaga dengan konsisten dan penuh penghormatan.

Editor : Natasha Eka Safrina
#tradisi masyarakat #Gunung Halimun #kampung adat #lumbung padi