Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Viral Petualangan ke Kasepuhan Gelar Alam Sukabumi, Main Sosorodotan sampai Ikut Tradisi 14an: Perjalanan 6 Jam dari Jakarta Terbayar Lunas!

Natasha Eka Safrina • Rabu, 4 Februari 2026 | 15:00 WIB

Kasepuhan Gelar Alam Sukabumi viral! Dari sosorodotan sampai Tradisi 14an tumbuk tepung, perjalanan 6 jam dari Jakarta terbayar.
Kasepuhan Gelar Alam Sukabumi viral! Dari sosorodotan sampai Tradisi 14an tumbuk tepung, perjalanan 6 jam dari Jakarta terbayar.

JAKARTA - Kasepuhan Gelar Alam Sukabumi belakangan ramai diperbincangkan setelah muncul dalam tayangan petualangan yang menampilkan kehidupan kampung adat di tengah alam pegunungan. Perjalanan menuju kawasan ini disebut tak mudah, namun semua tantangan itu terbayar ketika pengunjung disuguhi panorama hijau, udara sejuk, dan suasana hangat khas masyarakat adat.

Dalam tayangan tersebut, sang pembuat konten menceritakan dirinya harus menempuh jarak sekitar 171 kilometer dari Jakarta dengan durasi perjalanan kurang lebih enam jam. Medannya menantang karena berada di dataran tinggi, ditambah akses jalan yang tidak selalu mulus. Meski begitu, begitu memasuki wilayah Kasepuhan Gelar Alam Sukabumi, pemandangan yang memanjakan mata langsung menyambut.

Kehangatan warga menjadi hal pertama yang dirasakan. Anak-anak setempat tampak antusias menyambut kedatangan tamu. Menariknya, meski jauh dari kesan modern, anak-anak di kampung adat ini justru punya cara sederhana untuk menciptakan kebahagiaan tanpa bergantung pada gadget.

Baca Juga: UPT Pengujian Kendaraaan Bermotor Targetkan 8000 Kali Pengujian di Tahun 2026

Serunya Sosorodotan, Permainan Tradisional Anak Gelar Alam

Salah satu momen yang paling mencuri perhatian adalah saat sang petualang mencoba permainan tradisional bernama sosorodotan. Permainan ini memanfaatkan tanah licin pada permukaan miring sehingga tubuh meluncur terbawa gravitasi dari ketinggian.

Dengan kondisi musim hujan, tanah dibuat basah dan licin agar lintasan semakin seru. Anak-anak tampak menikmati permainan itu dengan penuh tawa. Bahkan, untuk mempercepat laju, mereka menggunakan kulit batang pisang atau potongan drum sebagai alas meluncur.

Sensasinya disebut sangat memacu adrenalin. Meski tubuh kotor oleh lumpur, pengalaman itu justru menghadirkan nostalgia masa kecil. Menurut sang pembuat konten, keseruan seperti ini membuktikan kebahagiaan bisa hadir tanpa teknologi mahal, cukup dengan alam dan kebersamaan.

Baca Juga: Atasi Genangan Air, Disperkimhub Revitalisasi dan Lakukan Perawatan Drainase

Kampung Adat dengan Ratusan Kampung yang Berpusat di Gelar Alam

Di balik keseruannya, Kasepuhan Gelar Alam Sukabumi ternyata bukan kampung adat biasa. Disebutkan, Gelar Alam merupakan pusat dari kampung-kampung adat lain yang jumlahnya mencapai ratusan.

Setidaknya ada sekitar 569 kepala kampung adat yang memusatkan kegiatan adatnya ke Gelar Alam. Kampung-kampung tersebut tersebar di beberapa wilayah, mulai dari Kabupaten Bogor, Kabupaten Lebak, hingga Kabupaten Sukabumi.

Jumlah anggotanya pun disebut sangat besar, mencapai sekitar 56 ribu orang. Angka ini menunjukkan betapa luasnya komunitas adat yang masih bertahan dan terus menjaga warisan leluhur di tengah perubahan zaman.

Ikut Tradisi 14an, Perayaan Bulan Purnama yang Sakral

Selain permainan tradisional, tayangan itu juga memperlihatkan tradisi khas yang masih dijaga, yakni Tradisi 14an. Tradisi ini dikenal sebagai perayaan bulan purnama yang dilakukan sebagai bentuk syukur dan penghormatan kepada Sang Pencipta.

Dalam rangkaian tradisi tersebut, warga menggelar kegiatan menumbuk beras dan ketan menjadi tepung. Sang petualang pun ikut bergabung dan mencoba langsung prosesnya.

Ia mengaku awalnya mengira tepung hanya tinggal beli dan pakai. Namun setelah ikut menumbuk, ia merasakan sendiri betapa berat dan melelahkannya proses tradisional yang dilakukan warga.

Baca Juga: Akibat Laka Bus di Kediri, Terminal Trenggalek Perketat Keamanan Armada

Tumbuk Tepung Pakai Alu dan Lesung, Ada Irama Musiknya

Proses menumbuk dilakukan secara tradisional menggunakan alu dan lesung. Puluhan warga, terutama perempuan, terlibat dalam kegiatan ini. Mereka bekerja berjam-jam dengan ritme tumbukan yang teratur.

Menariknya, bunyi tumbukan dari alu dan lesung terkadang membentuk alunan irama yang indah. Di sinilah muncul elemen budaya lain yang membuat tradisi ini terasa hidup, bukan sekadar kerja fisik.

Ada pula musik khas yang disebut gegend, dimainkan untuk menyemangati para peserta. Irama tersebut membuat suasana tetap hangat, kompak, dan penuh “good vibes” meski kegiatan berlangsung seharian.

Setelah ditumbuk, beras yang sudah halus masih harus melalui tahapan ayak atau penyaringan agar teksturnya semakin lembut. Proses ini menjadi bukti bahwa tradisi bukan hanya soal seremoni, tetapi juga kerja kolektif yang sarat nilai kebersamaan.

Baca Juga: Bridgerton Season 4 Resmi Hadir, Inilah Kisah Cinta Baru, Konflik Pernikahan, dan Rahasia Masa Lalu Mulai Terkuak

Peran Laki-laki: Siapkan Kelapa dan Kayu Bakar

Kegiatan Tradisi 14an bukan hanya melibatkan perempuan. Para lelaki juga memiliki peran penting, seperti menyiapkan kelapa hingga kayu bakar. Semua bergerak sesuai tugas masing-masing demi kelancaran acara.

Rangkaian pengalaman ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Kasepuhan Gelar Alam menjaga tradisi turun-temurun sekaligus mempertahankan harmoni hidup dengan alam. Dari permainan anak-anak hingga ritual adat, semuanya memperlihatkan kekuatan budaya yang tetap berdiri tegak di tengah modernisasi.

Editor : Natasha Eka Safrina
#upacara adat #Kasepuhan Gelar Alam