Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Viral Kasepuhan Gelar Alam Sukabumi Punya Stok Beras 95 Tahun, Ini Rahasia “SAS Sembada Pangan” dan Serunya Tradisi 14an Bikin Papais

Natasha Eka Safrina • Rabu, 4 Februari 2026 | 15:10 WIB

Kasepuhan Gelar Alam Sukabumi viral karena stok beras 95 tahun. Intip SAS Sembada Pangan dan Tradisi 14an bikin papais bareng warga!
Kasepuhan Gelar Alam Sukabumi viral karena stok beras 95 tahun. Intip SAS Sembada Pangan dan Tradisi 14an bikin papais bareng warga!

SUKABUMI - Kasepuhan Gelar Alam Sukabumi kembali jadi sorotan setelah viral di media sosial dan diberitakan berbagai platform online. Kampung adat yang berada di wilayah Sina Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini disebut memiliki stok beras yang bisa bertahan hingga 95 tahun ke depan.

Kabar soal ketahanan pangan luar biasa itu membuat banyak warganet penasaran. Dalam sebuah video yang beredar, seorang kreator konten mengaku sengaja datang langsung ke kampung tersebut karena ingin membuktikan sendiri cerita yang ramai dibicarakan. Ia menyebut konsep ini sebagai SAS Sembada Pangan, sebuah warisan leluhur Sunda yang masih dijaga ketat hingga sekarang.

Perjalanan menuju Kasepuhan Gelar Alam Sukabumi pun digambarkan cukup melelahkan, namun terbayar lunas saat tiba di lokasi. Sang kreator terlihat antusias karena bisa menyaksikan langsung kehidupan kampung adat yang tetap kuat memegang tradisi, termasuk dalam urusan pangan dan gotong royong.

Viral Stok Beras 95 Tahun, Apa Itu SAS Sembada Pangan?

Salah satu alasan utama kampung ini jadi pembicaraan adalah klaim stok beras yang mampu mencukupi kebutuhan hingga puluhan tahun. Dalam video tersebut, disebutkan angka “95 tahun” sebagai daya tahan stok beras di kampung adat ini.

Baca Juga: Atasi Genangan Air, Disperkimhub Revitalisasi dan Lakukan Perawatan Drainase

Narasi itu kemudian dikaitkan dengan SAS Sembada Pangan, yang disebut sebagai sistem ketahanan pangan berbasis kearifan lokal. Intinya, masyarakat menjaga pasokan beras secara disiplin, memanfaatkan hasil panen, dan mengelola persediaan dengan aturan adat yang diwariskan turun-temurun.

Di tengah isu naik-turunnya harga pangan dan kekhawatiran krisis beras, konsep seperti ini otomatis memantik rasa ingin tahu publik. Apalagi, kampung adat ini dinilai mampu membuktikan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar wacana, tetapi benar-benar dipraktikkan.

Sosok Mak Anom, Sesepuh Perempuan di Kasepuhan Gelar Alam

Tak hanya soal beras, video tersebut juga menyorot sosok penting di balik kehidupan adat. Salah satunya adalah Mak Anom atau Mama Dede, yang disebut sebagai sesepuh perempuan di Kasepuhan Gelar Alam.

Mak Anom juga dikenal sebagai istri dari Abah Ugi, ketua adat Kasepuhan Gelar Alam. Perannya tampak kuat dalam aktivitas masyarakat, terutama saat ada agenda adat. Dalam tayangan itu, kreator konten menggambarkan Mak Anom sebagai figur yang dihormati, sekaligus penggerak kebersamaan warga.

Baca Juga: UMK Naik, Beberapa Perusahaan Kesulitan Menerapkan

Tradisi 14an: Pantang Cuma Diam, Semua Harus Turun Tangan

Kebetulan, kedatangan sang kreator bertepatan dengan pelaksanaan Tradisi 14an, salah satu tradisi penting yang rutin dilakukan masyarakat. Dalam suasana tersebut, ada semacam “pantangan” untuk hanya diam dan tidak membantu.

Akhirnya, sang kreator ikut bergabung bersama ibu-ibu kampung untuk persiapan acara. Suasana terlihat ramai, kompak, dan penuh energi. Kegiatan utama yang dilakukan adalah menumbuk beras secara tradisional untuk dijadikan tepung.

Bagi warga, kegiatan ini bukan sekadar memasak. Ini juga bentuk syukur, kebersamaan, sekaligus menjaga warisan budaya agar tetap hidup dari generasi ke generasi.

Baca Juga: Akibat Laka Bus di Kediri, Terminal Trenggalek Perketat Keamanan Armada

Numbuk Beras Jadi Tepung, Kunci Papais Khas Sunda

Dalam tradisi tersebut, ibu-ibu tampak menumbuk beras dengan semangat. Dari kejauhan, aktivitas itu terdengar seperti ritme yang khas—bunyi tumbukan yang teratur bahkan disebut “merdu” karena kompaknya gerakan.

Tepung yang dibuat bukan tepung instan dari toko. Di Kasepuhan Gelar Alam Sukabumi, beras asli ditumbuk sampai benar-benar halus. Setelah itu, tepung masih harus melalui proses penyaringan agar tidak ada bagian yang menggumpal.

Tepung beras yang sudah lembut kemudian dibawa ke dapur untuk diolah menjadi aneka makanan khas, salah satunya papais.

Papais Manis dan Asin, Dibuat Gotong Royong Sampai Tujuh Jenis

Papais merupakan camilan khas Sunda yang biasanya dibungkus daun. Dalam video tersebut, papais disebut bisa dibuat dari tepung beras atau tepung ketan, dengan rasa yang beragam.

Di Kasepuhan Gelar Alam, papais dibuat dalam jumlah besar karena persiapan Tradisi 14an melibatkan banyak warga. Ada papais manis, termasuk yang berisi pisang, hingga papais asin. Bahkan disebut ada sekitar tujuh macam papais yang dibuat, mulai dari yang polos sampai yang memiliki isian.

Baca Juga: Bridgerton Season 4 Resmi Hadir, Inilah Kisah Cinta Baru, Konflik Pernikahan, dan Rahasia Masa Lalu Mulai Terkuak

Kegiatan memasak ini dibagi per kelompok. Ada yang fokus menyiapkan adonan, ada yang mengolah kelapa agar lebih gurih, dan ada yang memasak di dapur. Gotong royong menjadi kunci agar pekerjaan cepat selesai.

Viralnya Kasepuhan Gelar Alam bukan hanya karena stok beras puluhan tahun, tetapi juga karena cara hidup masyarakatnya yang rapi, disiplin, dan kuat menjaga tradisi. Di tengah modernisasi, kampung adat ini memberi gambaran bahwa kemandirian pangan dan budaya bisa berjalan beriringan.

Editor : Natasha Eka Safrina
#adat sunda #Kasepuhan Gelar Alam