MAGELANG – Kabupaten Magelang kembali menyimpan kisah unik yang bikin penasaran. Kali ini soal mata air abadi yang disebut memiliki kandungan mineral tinggi dan dipercaya tak pernah kering meski musim kemarau. Dua lokasi yang ramai diperbincangkan adalah mata air Tok Umbul di Desa Ngarompo, Kecamatan Windusari, serta mata air Tok Putri di Desa Tampir Kulon.
Cerita tentang Tok Umbul dan Tok Putri ini muncul dari penelusuran sebuah konten perjalanan “Sobat Desa” yang mengangkat tema Mata Air Abadi Desa Lereng Gunung Merapi. Dalam video tersebut, sang pembuat konten mencoba membuktikan langsung bagaimana kondisi mata air, bagaimana akses menuju lokasi, hingga mendengar testimoni warga yang selama ini mengambil air dari sumber tersebut.
Perjalanan ke Tok Umbul Windusari: Mata Air di Tepi Sungai
Perjalanan dimulai dari jalur utama Yogyakarta–Semarang via Magelang, tepatnya dari daerah Payaman. Cuaca mendung dan hujan singkat beberapa hari terakhir justru membuat perjalanan terasa sejuk, dengan pemandangan persawahan di kanan-kiri jalan.
Menuju Tok Umbul, rute diarahkan melewati Pasar Windusari lalu belok kanan mengikuti jalan desa. Sepanjang perjalanan, pembuat konten menggambarkan panorama yang indah, bahkan disebut mirip “Little Ubud Bali” karena hamparan sawah, jalan berkelok, sungai, hingga latar pegunungan yang tampak saat cuaca cerah.
Baca Juga: UMK Naik, Beberapa Perusahaan Kesulitan Menerapkan
Sesampainya di area desa, petunjuk menuju Tok Umbul memang tidak terlalu mencolok. Namun warga setempat ramah menunjukkan arah hingga akhirnya sampai di lokasi mata air.
Tok Umbul sendiri berada di tepi sungai, dinaungi pohon besar, dengan air yang menyembul dari celah bebatuan keras. Keunikan yang paling sering diceritakan warga adalah air tersebut “hanya mau keluar” jika dipasang bambu sebagai jalur aliran. Jika diganti pipa paralon atau besi, aliran air dipercaya akan berhenti.
Meski lokasinya di pinggir sungai, kemurnian air Tok Umbul disebut tetap terjaga. Bahkan dalam narasi video disebutkan ada uji laboratorium pemerintah daerah tahun 2021 yang menyatakan air Tok Umbul bersih dan aman dikonsumsi langsung.
Dipercaya Punya Khasiat, Banyak Warga Datang Ambil Air
Di lokasi, terlihat beberapa warga mengambil air menggunakan wadah, bahkan disebut sering ada yang datang dari luar daerah. Warga yang ditemui menyebutkan air Tok Umbul sering diminum langsung tanpa dimasak, karena rasanya lebih segar dibanding air biasa.
Salah satu warga bernama Pak Yitno menceritakan bahwa air Tok Umbul sudah dikenal sejak lama dan dimanfaatkan untuk diminum harian maupun sebagai terapi. Ia menyebut banyak orang merasa cocok setelah mengonsumsi air tersebut, meski efeknya bisa berbeda pada setiap orang.
Baca Juga: UPT Pengujian Kendaraaan Bermotor Targetkan 8000 Kali Pengujian di Tahun 2026
Menariknya, warga juga menyampaikan bahwa meski banjir datang dari aliran sungai, air Tok Umbul tetap terlihat bening. Hal ini yang semakin membuat sumber mata air tersebut dianggap “istimewa” dan berbeda dari air sungai biasa.
Untuk pengambilan air, tidak ada tarif resmi. Namun ada sistem seikhlasnya bagi siapa pun yang datang. Bahkan disebutkan anak-anak pondok pun sering mengambil dalam jumlah banyak hingga galon-galon.
Lanjut ke Tok Putri Tampir Kulon, Masih Satu Kabupaten
Setelah dari Tok Umbul, perjalanan berlanjut menuju mata air Tok Putri yang berada di wilayah Tampir Kulon. Lokasi ini diketahui dari informasi seorang subscriber bernama Mas Deni yang sejak lama merekomendasikan beberapa titik mata air alami di Magelang.
Meski cuaca masih mendung dan berkabut, penelusuran tetap dilakukan. Patokan menuju Tok Putri disebut melewati area tugu pensil, lalu masuk jalur yang cukup berkelok seperti jalan kampung.
Tok Putri menjadi destinasi lanjutan dalam eksplorasi mata air alami Magelang yang disebut tetap mengalir saat kemarau. Meski belum banyak detail ditampilkan dalam potongan perjalanan ini, penelusuran Tok Putri menegaskan bahwa Magelang memang kaya sumber air yang jernih dan masih dirawat warga.
Dengan kisah Tok Umbul dan Tok Putri ini, Magelang bukan hanya dikenal karena wisata pegunungan dan candi, tetapi juga karena “harta” alam berupa mata air abadi yang dipercaya membawa manfaat bagi masyarakat sekitar.
Editor : Natasha Eka Safrina