KLATEN – Kampung Sapu Angin Klaten mendadak jadi perbincangan setelah diangkat dalam video perjalanan kanal YouTube Jejak Richard. Kampung ini disebut sebagai perkampungan tertinggi di Kabupaten Klaten yang berada di lereng Gunung Merapi, dengan jarak hanya sekitar 3–4 kilometer dari puncak.
Dalam video tersebut, pembuat konten memulai perjalanan sekitar siang hari menuju kawasan wisata Deles Indah, Kecamatan Kemalang. Meski cuaca mendung membuat puncak Merapi tidak terlihat jelas, suasana kampung tetap menarik karena udara yang sejuk, lingkungan asri, dan panorama alam terbuka dari ketinggian.
Menariknya, Kampung Sapu Angin Klaten berada di wilayah Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang. Lokasinya masuk kawasan Taman Nasional Gunung Merapi. Dalam penjelajahan itu, disebutkan bahwa kampung ini berada pada radius sekitar 3 kilometer dari puncak Merapi, dengan ketinggian mencapai 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Kampung Sapu Angin Klaten Dekat Merapi, Dulu Basecamp Pendakian
Dalam narasi video, Kampung Sapu Angin disebut pernah menjadi basecamp jalur pendakian menuju puncak Gunung Merapi sebelum erupsi dan sebelum status gunung meningkat. Namun saat ini jalur pendakian dari arah kampung tersebut belum dibuka karena kondisi Merapi yang masih dalam status siaga.
Baca Juga: UMK Naik, Beberapa Perusahaan Kesulitan Menerapkan
Pembuat konten juga menyebut, banyak wisatawan selama ini lebih mengenal Kampung Giripasang sebagai kampung tertinggi di Klaten. Padahal menurut informasi yang didapatnya, perkampungan Sapu Angin-lah yang berada di titik paling tinggi.
Dari kawasan Deles Indah, perjalanan dilanjutkan ke sisi timur menuju area kampung yang lebih tinggi. Pemandangan yang tersaji disebut sangat luas, bahkan memungkinkan melihat view 360 derajat dari ketinggian. Di sekitar area wisata juga tampak warung-warung dan fasilitas sederhana untuk pengunjung.
Panorama Hijau dan Lahan Subur Jadi Daya Tarik
Walau mendung, keindahan lereng Merapi tetap terasa. Kamera merekam hamparan perkebunan warga yang tampak subur. Di beberapa titik terlihat tanaman lombok, tembakau, dan berbagai tanaman lainnya.
Suasana pedesaan juga terasa kuat. Udara sejuk, perbukitan hijau, serta kicauan burung liar menjadi “bonus” yang membuat perjalanan terasa menenangkan. Pembuat konten menyebut, jika datang saat pagi hari atau ketika cuaca cerah, pemandangan dari kawasan ini diyakini jauh lebih maksimal.
Selain panorama alam, interaksi dengan warga menjadi bagian menarik dari video tersebut. Salah satunya saat bertemu Bapak Termo, warga yang sedang menyiapkan hajatan mantu. Uniknya, warga memasang papan kayu lebar di atas jalan kampung untuk kebutuhan acara. Menurut penuturan warga, pemasangan papan itu membutuhkan banyak bambu dan biaya, karena memang dipersiapkan untuk acara besar.
Tak jauh dari lokasi itu, pembuat konten juga bertemu seorang ibu bernama Tentrem yang sedang mencari rumput untuk pakan ternak. Ia menyebut memiliki kambing di rumah dan aktivitas mencari pakan menjadi rutinitas warga.
Sapu Angin Disebut Sentra Kopi di Lereng Merapi
Di balik suasana sunyi dan tenang, Kampung Sapu Angin Klaten ternyata punya potensi ekonomi lokal yang cukup kuat. Dalam video disebutkan, kawasan Sapu Angin dikenal sebagai sentra penghasil kopi. Selain kopi, warga juga mengembangkan perkebunan sayur serta tembakau.
Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat di kawasan tinggi lereng Merapi tidak hanya bergantung pada wisata, tetapi juga pertanian dan perkebunan yang menjadi penopang utama.
Ada Rumah dan Kedai Kopi Tertinggi di Klaten
Salah satu bagian yang paling mencuri perhatian adalah keberadaan rumah yang disebut sebagai rumah paling tinggi di Kabupaten Klaten. Rumah tersebut milik Bapak Hardi dan lokasinya terpisah dari rumah warga lainnya. Meski sederhana, suasana di sekitarnya disebut seperti tinggal di vila karena berada di titik tinggi dengan pemandangan terbuka.
Tak hanya itu, Kampung Sapu Angin Klaten juga memiliki kedai kopi yang disebut paling tinggi di Klaten, yakni Kedai Sapu Angin. Kedai ini bergaya rumah Jawa dan dikelola secara kelompok atau komunitas warga setempat.
Menurut penuturan penjaga kedai, tempat tersebut mulai beroperasi sejak 2021. Menu yang ditawarkan cukup sederhana, seperti kopi lokal hasil olahan warga, serta camilan seperti empek-empek dan kentang goreng. Kopinya disebut berasal dari kebun warga sekitar, diproses sendiri, dan menjadi identitas kampung.
Di akhir perjalanan, pembuat konten menyebut Kedai Sapu Angin menjadi bukti kearifan lokal dan semangat komunitas yang mampu menciptakan inovasi, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga lereng Merapi.
Editor : Natasha Eka Safrina