Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Camping Jelang Ramadan di Kampung Burat Ngawi, Kampung Terpencil 4 KK di Lereng Gunung Lawu: Malamnya Dingin Berkabut, Paginya Bikin Takjub!

Natasha Eka Safrina • Kamis, 5 Februari 2026 | 13:10 WIB

Camping jelang Ramadan di Kampung Burat Ngawi! Kampung 4 KK di lereng Gunung Lawu, malam dingin berkabut, pagi damai memukau.
Camping jelang Ramadan di Kampung Burat Ngawi! Kampung 4 KK di lereng Gunung Lawu, malam dingin berkabut, pagi damai memukau.

NGAWI - Camping jelang Ramadan di Kampung Burat Ngawi mendadak jadi sorotan setelah kanal YouTube Jejak Richard membagikan pengalaman bermalam di kampung terpencil yang disebut sebagai salah satu kampung terindah di Kabupaten Ngawi. Dalam video tersebut, Jejak Richard memperlihatkan suasana Kampung Burat dari sore menjelang magrib, malam hari yang dingin, hingga pagi hari yang berkabut namun tetap memanjakan mata.

Kampung Burat berada di lereng Gunung Lawu sisi utara, wilayah Kabupaten Ngawi. Dari titik awal perjalanan, Gunung Lawu terlihat tertutup kabut tebal. Jejak Richard juga menyebut kawasan sekitar berada di perbatasan dengan wilayah Magetan, dengan destinasi lain seperti Sarangan dan kawasan Cemoro Sewu tak jauh dari jalur pegunungan tersebut.

Perjalanan menuju Kampung Burat dilakukan pada sore hari menjelang magrib. Kondisi itu membuat perjalanan terasa lebih menantang karena cuaca tidak bersahabat. Beberapa kali rombongan diguyur hujan deras, dan setelah hujan turun, kabut justru semakin tebal. Alhasil, perjalanan harus dilakukan pelan-pelan dengan kehati-hatian ekstra demi keselamatan.

Baca Juga: Viral Kampung Sapu Angin Klaten, Disebut Desa Tertinggi di Lereng Merapi: Ada Rumah Paling Atas dan Kedai Kopi Tertinggi

Akses Menuju Kampung Burat Ngawi: Jalan Sempit, Tepi Jurang, dan Licin

Salah satu bagian paling menegangkan dari perjalanan ini adalah akses menuju Kampung Burat yang terkenal sempit. Jalan menuju kampung terpencil ini berada di pinggir jurang dan parit, sehingga pengendara tidak bisa sembarangan melaju cepat.

Selain sempit, kontur jalan juga bergelombang dan “geronjal”, membuat rekaman video sempat tampak bergoyang. Jejak Richard menyebut situasi itu membuat suasana terasa horor, apalagi karena hari semakin gelap dan hujan masih turun. Meski begitu, perjalanan tetap dilanjutkan hingga akhirnya rombongan tiba di Kampung Burat.

Kampung Burat Hanya 4 KK, Jadi Kampung Paling Tinggi di Kawasan Ini

Sesampainya di lokasi, suasana Kampung Burat tampak sepi. Kampung ini diketahui hanya dihuni sekitar 4 kepala keluarga (KK). Secara administratif, Kampung Burat masuk wilayah Desa Giri Mulyo, Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi.

Dalam video, Jejak Richard sempat mampir ke rumah salah satu warga bernama Pak Yono sebelum mendirikan tenda. Rencana utama perjalanan kali ini memang bukan sekadar berkunjung, melainkan camping dan bermalam di kampung terpencil tersebut.

Namun, cuaca kembali menjadi tantangan. Saat tenda mulai didirikan, hujan deras kembali turun. Kondisi itu membuat kegiatan camping terasa lebih ekstrem, karena air sempat merembes dan suasana menjadi sangat dingin. Meski begitu, rombongan tetap bertahan, bahkan sempat menyiapkan makanan sederhana untuk menemani malam yang berkabut.

Baca Juga: Mata Air Tok Umbul dan Tok Putri di Magelang Viral, Disebut Tak Pernah Kering dan Kaya Mineral

Pagi Hari di Kampung Burat: Dingin, Mendung, Tapi Suasananya Bikin Betah

Keesokan harinya, suasana Kampung Burat terlihat sangat berbeda. Udara masih dingin, cuaca mendung, dan matahari tidak muncul sehingga tidak ada sunrise. Meski begitu, pagi di Kampung Burat tetap terasa segar.

Jejak Richard memperlihatkan perkampungan yang mulai “hidup” saat pagi hari. Rumah-rumah warga sudah dibuka, dan suasana desa terasa damai. Tenda yang didirikan berada tepat di pinggir aliran sungai. Menariknya, sungai tersebut tampak kering pada pagi hari, tetapi area sekitar tetap memberikan kesan alami yang kuat.

Tradisi Megengan Jelang Ramadan Masih Dilestarikan

Momen camping ini bertepatan dengan waktu menjelang Ramadan. Dalam video, Jejak Richard menyoroti bahwa warga Kampung Burat juga menjalankan tradisi megengan, yakni tradisi genduri atau doa bersama sebelum memasuki bulan puasa.

Warga menjelaskan megengan dilakukan sebagai bentuk persiapan spiritual jelang Ramadan, biasanya dengan kegiatan berkumpul dan doa di langgar atau musala kecil. Tradisi ini menjadi bukti bahwa meski jumlah warga sedikit, kekompakan masyarakat Kampung Burat masih sangat terasa.

Baca Juga: Boyolali Viral Lagi! Jalan ke Dukuh Brongkol Drajitan Ini Disebut Sejuk Banget, Dekat Lereng Merapi dan Sentra Susu Sapi Perah

Anak Sekolah di Kampung Burat Hanya Tiga Orang

Karena warganya hanya beberapa keluarga, jumlah anak-anak di Kampung Burat juga sangat sedikit. Dalam video disebutkan hanya ada tiga anak usia sekolah di kampung tersebut. Salah satunya adalah adik Dani yang duduk di kelas 6 SD.

Jejak Richard juga menyinggung soal jarak sekolah yang cukup jauh. Beberapa anak harus menempuh perjalanan ke Jogorogo untuk melanjutkan pendidikan, sebuah gambaran nyata perjuangan hidup di wilayah terpencil lereng Gunung Lawu.

Ada Sawah Terasering Cantik, Disebut Mirip Ubud Bali

Di bagian akhir perjalanan, Jejak Richard menemukan spot menarik di sisi barat perkampungan. Ternyata ada area persawahan terasering yang indah. Bentuknya disebut mirip seperti terasering di Ubud, Bali.

Dengan pemandangan alam yang sejuk, suasana kampung yang sunyi, serta pengalaman bermalam di tengah kabut pegunungan, camping jelang Ramadan di Kampung Burat Ngawi menjadi cerita perjalanan yang sulit dilupakan.

Baca Juga: Boyolali Viral Lagi! Jalan ke Dukuh Brongkol Drajitan Ini Disebut Sejuk Banget, Dekat Lereng Merapi dan Sentra Susu Sapi Perah

Editor : Natasha Eka Safrina
#Kampung Burat Ngawi #Kecamatan Jogorogo