KABUPATEN NGAWI – Di tengah hamparan hutan jati yang luas, ada sebuah permukiman unik yang masih bertahan dengan tradisi beternak kerbau. Namanya Kampung Bulak PP Ngawi, sebuah kampung yang kerap dijuluki “kampung kerbau” karena mayoritas warganya menggantungkan hidup dari ternak kerbau.
Keberadaan Kampung Bulak PP Ngawi menjadi menarik karena di zaman sekarang, memelihara kerbau sudah bukan pilihan utama masyarakat pedesaan. Kebanyakan orang lebih memilih sapi atau kambing yang dinilai lebih praktis dan lebih mudah dijual. Namun berbeda dengan warga kampung ini, yang justru tetap teguh mempertahankan ternak kerbau dari generasi ke generasi.
Dalam perjalanan menyusuri kampung tersebut, suasana pedesaan terasa begitu kental. Tenang, sejuk, dan jauh dari hiruk-pikuk kota. Lokasinya berada di wilayah Desa Banyu Biru, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, dan untuk mencapainya pengunjung harus melewati jalur hutan jati sekitar 2 kilometer.
Meski berada di tengah hutan, Kampung Bulak PP ternyata berada di dataran rendah. Artinya akses menuju kampung ini relatif mudah karena tidak harus melewati tanjakan curam seperti kawasan pegunungan. Inilah yang membuat kampung tersebut cocok dijadikan tujuan wisata alternatif bagi masyarakat yang ingin merasakan suasana desa asri di tengah rimbunnya pepohonan jati.
Saat pagi hari, warga tampak melakukan kerja bakti. Jalan-jalan kampung sudah banyak yang dipaving, rumah-rumah berdiri rapi dan terlihat bersih. Bahkan ada hal menarik yang jarang ditemui di kampung ternak pada umumnya: di kawasan permukiman hampir tidak tercium bau kotoran kerbau.
Ternyata, kebersihan itu bukan kebetulan. Warga setempat sengaja memisahkan area permukiman dengan kandang kerbau. Kandang-kandang tersebut ditempatkan di lahan milik Perhutani. Dengan pemisahan itu, kampung tetap nyaman dihuni, sementara aktivitas beternak tetap berjalan.
Seorang warga bernama Ibu Warni menjelaskan, sistem pemeliharaan kerbau di kampung tersebut sudah berlangsung lama. Bahkan sebagian warga memiliki kerbau, namun pengelolaannya dilakukan bersama keluarga atau kerabat. Kerbau dianggap lebih cocok dengan kondisi lingkungan sekitar dibandingkan sapi.
Menurut penuturan warga, memelihara sapi membutuhkan biaya pakan yang lebih besar karena harus rutin mencari rumput atau membeli pakan. Sedangkan kerbau bisa lebih fleksibel karena sering digembalakan di area hutan dan tidak selalu memerlukan pakan tambahan setiap saat.
Tak hanya itu, kerbau juga dinilai lebih “alami” karena tidak banyak perlakuan tambahan seperti suntikan agar cepat besar atau cepat berkembang biak. Kerbau berkembang dengan cara alami, dan warga tinggal mengatur waktu kawin dengan mencari pejantan ketika diperlukan.
Yang membuat Kampung Bulak PP makin unik, jumlah kerbau yang dipelihara warga ternyata sangat banyak. Dalam narasi perjalanan, disebutkan ada sekitar 700 ekor kerbau yang menjadi “penghuni” kampung tersebut. Angka itu jelas bukan jumlah kecil untuk ukuran kampung yang berada di tengah hutan.
Namun saat pengunjung datang, area kandang sempat terlihat sepi. Kerbau-kerbau itu rupanya sedang digembalakan di hutan. Baru sekitar pukul 10.00, gerombolan kerbau mulai kembali ke kandang. Momen inilah yang menjadi daya tarik utama Kampung Bulak PP.
Pemandangan ratusan kerbau pulang beriringan menjadi tontonan yang jarang ditemui di daerah lain. Sebelum masuk kandang, kerbau-kerbau itu biasanya akan mandi terlebih dahulu di sungai. Suara gemericik air, langkah kerbau, serta suasana hutan jati menciptakan pengalaman yang terasa “hidup” dan sangat khas pedesaan.
Tak heran, aktivitas mandi kerbau di sungai sering menjadi incaran pengunjung. Selain unik, suasananya juga menenangkan. Bagi warga, kegiatan tersebut adalah rutinitas harian. Namun bagi orang luar, itu bisa menjadi pengalaman wisata yang berkesan.
Menariknya lagi, meski penampilan warga terlihat sederhana, banyak yang sebenarnya memiliki penghasilan cukup baik dari ternak kerbau. Harga kerbau dewasa bisa mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah tergantung ukuran dan kualitasnya.
Dengan segala keunikannya, Kampung Bulak PP layak masuk daftar destinasi wisata desa di Ngawi. Bagi siapa pun yang rindu suasana kampung, udara sejuk, jalanan rapi, dan pemandangan kerbau mandi di sungai, kampung ini bisa menjadi pilihan untuk dikunjungi.
Editor : Natasha Eka Safrina