JAKARTA – Kampung Adat Ciptarasa Sukabumi kembali jadi perbincangan warganet setelah video perjalanan wisata budaya menampilkan pemandangan unik berupa rumah-rumah panggung tradisional dengan ratusan leuit (lumbung padi) yang berdiri rapi di puncak kawasan Gunung Halimun. Suasana kampung adat yang masih asri, lengkap dengan tradisi pertanian yang dijaga ketat, membuat banyak orang penasaran ingin datang langsung.
Dalam video tersebut, kreator konten menyebut Kampung Adat Ciptarasa Sukabumi berada di jalur menuju Kasepuhan Gelar Alam. Kampung ini menjadi salah satu tahapan yang wajib dilewati wisatawan sebelum melanjutkan perjalanan lebih jauh ke kawasan adat lainnya. Perjalanan menuju lokasi disebut cukup menantang karena rute yang terjal dan jarak tempuh yang tidak dekat.
Menariknya, kampung adat ini tidak menutup diri dari modernisasi. Warga disebut sudah menggunakan listrik, televisi, hingga ponsel. Meski begitu, aturan adat dan kearifan lokal tetap menjadi pegangan utama dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang berkaitan dengan padi sebagai sumber pangan utama.
Baca Juga: Mata Air Tok Umbul dan Tok Putri di Magelang Viral, Disebut Tak Pernah Kering dan Kaya Mineral
Akses Menuju Kampung Adat Ciptarasa: 10 Km dari Jalan Provinsi
Kreator dalam video menjelaskan, jarak dari jalan raya provinsi menuju Kampung Adat Ciptarasa sekitar 10 kilometer. Setelah itu, perjalanan menuju Kampung Adat Gelar Alam masih harus ditempuh sekitar 11 kilometer lagi dengan jalur yang menanjak.
Di tengah perjalanan, rombongan sempat melewati area sungai yang disebut memiliki sumber air melimpah. Lanskap alam di sekelilingnya dinilai sangat indah, dengan udara sejuk khas pegunungan.
Sesampainya di gapura, suasana kampung adat langsung terlihat mencolok: rumah-rumah beratap tradisional berdiri di area perkampungan yang berada di puncak gunung. Sebuah papan sambutan bertuliskan “Wilujeng Sumping” menandai bahwa pengunjung sudah memasuki kawasan Kampung Adat Ciptarasa.
Ratusan Leuit dan Aturan Padi: “Di Sini Tak Boleh Jual Beras”
Salah satu hal yang paling menyita perhatian adalah ratusan leuit yang tersebar di area kampung. Leuit merupakan lumbung padi untuk menyimpan hasil panen warga. Dalam video disebut, hampir setiap rumah memiliki leuit sendiri.
Kreator juga menegaskan, aturan adat di kampung ini melarang warganya menjual beras. Padi yang disimpan di leuit diprioritaskan untuk kebutuhan keluarga dan ketahanan pangan warga kampung.
Selain itu, padi di kampung adat ini juga terlihat diikat dengan bentuk khas yang disebut popocongan atau “ikat pocong”. Dalam video, satu ikatan popocongan disebut memiliki ukuran sekitar 5 kilogram.
Tradisi Nganyaran: Numbuk Padi dengan Irama “Gegenek”
Video juga menyorot aktivitas warga yang sedang melakukan Nganyaran, yakni tradisi penumbukan padi menggunakan halu dan lisung. Menariknya, proses numbuk padi ini dilakukan dengan irama tertentu yang disebut warga sebagai irama gegenek.
Tradisi tersebut bukan sekadar aktivitas dapur, melainkan bagian dari budaya yang terus dijaga. Warga menyebut, saat musim nganyaran, hampir setiap rumah bisa menggelar kegiatan serupa. Kebersamaan dan gotong royong warga terlihat kuat, karena tradisi ini dilakukan ramai-ramai dan menjadi semacam perayaan kecil di lingkungan kampung.
Baca Juga: 8 Wisata Malang Terbaru dan Paling Populer 2026, Ada Waterpark hingga Spot Jepang yang Instagramable
Imah Gede, Homestay Rp50 Ribu, dan Budaya “Makan Jangan Beli”
Di Kampung Adat Ciptarasa, pengunjung juga bisa singgah di Imah Gede, rumah besar yang disediakan untuk menerima tamu, wisatawan, maupun rombongan edukasi seperti mahasiswa.
Kreator menyebut beberapa rumah di kampung ini juga dapat dijadikan homestay, dengan tarif sekitar Rp50.000 per orang. Konsep wisata budaya di kampung ini terasa kuat karena pengunjung tidak hanya melihat pemandangan, tetapi juga bisa merasakan kehidupan warga.
Hal unik lainnya adalah aturan makan. Di kampung ini, tamu disebut tidak diperbolehkan membeli nasi. Jika lapar, tamu dianjurkan “minta” atau nyuhunkeun emam kepada warga. Dalam video, kreator bahkan diajak masuk ke pawon (dapur) dan melihat proses memasak tradisional.
Warga menjelaskan, di rumah besar, memasak bisa mencapai beberapa gantang, apalagi jika sedang ramai tamu atau ada acara tertentu. Keramahan warga menjadi nilai tambah yang membuat kampung ini terasa seperti “surga” bagi masyarakat perkotaan yang rindu suasana tradisional.
Jalur Menuju Gelar Alam, Wisata Budaya yang Kian Dilirik
Kampung Adat Ciptarasa disebut sebagai pintu awal sebelum wisatawan melanjutkan perjalanan ke Kasepuhan Gelar Alam. Kreator menutup video dengan ajakan agar masyarakat yang ingin wisata budaya bisa berkunjung langsung, tentu dengan menjaga sopan santun dan menghormati adat setempat.
Dengan pemandangan ratusan leuit, tradisi Nganyaran, serta konsep homestay murah meriah, Kampung Adat Ciptarasa kini menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang semakin dilirik di Sukabumi.
Editor : Natasha Eka Safrina