JAKARTA - Kasepuhan Gelar Alam kembali menyedot perhatian publik lewat filosofi hidupnya yang memandang padi bukan sebagai komoditas, melainkan sebagai sumber kehidupan. Di tengah krisis pangan dan iklim global, masyarakat adat Sunda Wiwitan ini justru menunjukkan sistem ketahanan pangan yang bertahan lintas generasi, dengan perempuan sebagai pilar utamanya.
Dalam tradisi Kasepuhan Gelar Alam, bertani padi adalah amanat leluhur yang dijalankan secara sakral. Padi tidak diperjualbelikan, melainkan disimpan sebagai cadangan hidup bersama. Bahkan pada 2017, pemimpin adat setempat menyebut stok padi mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga puluhan tahun ke depan. Filosofi ini menjadi antitesis dari sistem pangan modern yang berorientasi pasar.
Bertani untuk Kehidupan, Bukan Keuntungan
Bagi masyarakat Kasepuhan Gelar Alam, bertani bukan mata pencaharian, melainkan ibadah. Penanaman padi hanya dilakukan satu kali dalam setahun, mengikuti petunjuk alam dan rasi bintang Orion serta Pleiades yang dalam terminologi Sunda disebut Kidang dan Kerti. Alam diposisikan sebagai guru, bukan objek eksploitasi.
Konsep “ibu bumi” dan “bapak langit” menjadi dasar kosmologi pertanian mereka. Tanah diperlakukan seperti ibu yang perlu waktu istirahat agar tetap subur. Karena itu, eksploitasi berlebihan seperti tanam tiga kali setahun dan penggunaan pestisida dianggap melukai kehidupan.
Tidak Ada Hama, Semua Makhluk Berhak Hidup
Menariknya, masyarakat Kasepuhan Gelar Alam tidak mengenal istilah “hama”. Tikus, burung, dan serangga dipandang sebagai makhluk hidup yang juga berhak menikmati hasil bumi. Jika ada padi yang dimakan hewan, itu dianggap sebagai bagian dari berbagi kehidupan, bukan kerugian.
Penggunaan pestisida dilarang karena dianggap membunuh kehidupan. Prinsip ini menjadikan pertanian mereka ramah lingkungan sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem hutan dan sungai.
Perempuan sebagai Penjaga Pangan dan Ritual
Dalam sistem adat Kasepuhan Gelar Alam, kesetaraan gender tidak diwacanakan, tetapi dipraktikkan. Laki-laki dan perempuan memiliki peran berbeda namun setara, terutama dalam siklus pangan. Laki-laki bertanggung jawab pada proses dari ladang hingga lumbung, sementara perempuan memegang peran sakral dari lumbung hingga menjadi nasi di meja makan.
Pada ritual ngasek (penanaman padi), laki-laki membuat lubang tanam, sementara perempuan memasukkan benih. Dalam nganyaran, ritual memasak nasi pertama dari panen, perempuan memimpin penuh prosesi. Tanpa salah satu peran, ritual dianggap tidak sah karena tidak seimbang.
Bagi mereka, keseimbangan adalah inti kesetaraan. Laki-laki tanpa perempuan, dan sebaliknya, dianggap belum lengkap untuk menjalankan amanat adat.
Pangan sebagai Kehidupan yang Harus Dihormati
Makan dalam tradisi Kasepuhan Gelar Alam adalah bentuk penghormatan terhadap kehidupan. Ada tata cara khusus: makan harus duduk, perempuan memakai kain, laki-laki mengenakan ikat kepala. Nasi diletakkan di tempat tertentu dan tidak boleh sembarangan dipindah.
Tidak ada konsep menyia-nyiakan makanan. Nasi sisa diolah kembali atau diberikan pada ternak. Praktik ini kontras dengan realitas urban Indonesia yang termasuk penyumbang limbah makanan terbesar di dunia.
Relevansi di Tengah Krisis Global
Saat pandemi Covid-19 melanda, masyarakat Kasepuhan Gelar Alam relatif tidak terdampak secara pangan. Mereka mampu memenuhi kebutuhan sendiri tanpa bergantung pada distribusi luar. Kondisi ini menjadi kritik nyata terhadap sistem pangan modern yang rapuh dan sangat tergantung industri.
Filosofi mereka dirangkum dalam pepatah Sunda: ngigelan zaman tapi ulah kabawa ku zaman—mengikuti zaman tanpa kehilangan nilai. Pesan leluhur ini kian relevan di tengah krisis iklim, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan sosial.
Kasepuhan Gelar Alam membuktikan bahwa kearifan lokal bukan masa lalu, melainkan alternatif masa depan. Sebuah pelajaran bahwa kesejahteraan tidak selalu diukur dari materi, melainkan dari kecukupan, keseimbangan, dan rasa syukur.
Editor : Natasha Eka Safrina