Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Kasepuhan Ciptagelar: Saat Padi Dianggap Nyawa, Perempuan Jadi Penjaga Kehidupan, dan Tradisi Bertahan 700 Tahun

Natasha Eka Safrina • Kamis, 5 Februari 2026 | 14:10 WIB

Kasepuhan Ciptagelar menjaga padi sebagai kehidupan, perempuan sebagai penjaga pangan, dan adat leluhur yang bertahan lebih 700 tahun.
Kasepuhan Ciptagelar menjaga padi sebagai kehidupan, perempuan sebagai penjaga pangan, dan adat leluhur yang bertahan lebih 700 tahun.

SUKABUMI – Kasepuhan Ciptagelar, komunitas adat Sunda Wiwitan yang secara administratif berada di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, terus mempertahankan tradisi leluhur yang telah hidup lebih dari 700 tahun. Meski berada di wilayah Jawa Barat, budaya yang tumbuh di Kasepuhan Ciptagelar justru memiliki kedekatan kuat dengan budaya Banten, terutama dalam sistem adat, ritual, dan tata kehidupan sosial.

Sekitar 30 ribu jiwa anggota Kasepuhan Ciptagelar menggantungkan hidup pada pertanian padi. Pola hidup yang menyatu dengan alam menjadikan masyarakat adat ini memiliki sistem pertanian, ketahanan pangan, serta nilai budaya yang lestari hingga kini. Padi tidak sekadar tanaman, melainkan pusat kehidupan.

Baca Juga: LeBron James Mengamuk, Lakers Hancurkan Brooklyn dengan Pesta Dunk dan Assist, Aksi Sang Raja Bikin Fans Berdiri

Padi sebagai Kehidupan, Bukan Komoditas

Bagi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar, padi adalah nyawa. Menjual padi sama artinya dengan menjual kehidupan. Karena itu, padi hasil panen tidak diperjualbelikan, melainkan disimpan di leuit atau lumbung padi untuk kebutuhan jangka panjang.

Dalam keyakinan mereka, padi memiliki jiwa dan rasa seperti manusia. Padi hidup untuk menghidupi manusia, dan manusia hidup dengan menjaga padi. Padi juga dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Dewi Sri atau Sanghyang Sri Pohaci, simbol berkah dan keseimbangan alam.

Tradisi bertani dilakukan secara ketat mengikuti tata adat. Penanaman, pemeliharaan, hingga panen padi harus mendapat izin leluhur dan dipimpin oleh pemangku adat. Setiap fase pertumbuhan padi diperlakukan layaknya daur hidup manusia, termasuk saat padi “hamil”.

Ritual Padi Hamil hingga Seren Taun

Saat padi memasuki usia sekitar tiga bulan dan mulai “bunting”, masyarakat Kasepuhan Ciptagelar menggelar ritual ngangkleung bubur atau paringi ram, sebuah doa keselamatan bagi padi yang tengah mengandung. Ritual ini dipimpin oleh rorokan, pejabat adat yang setara menteri dalam struktur pemerintahan adat Ciptagelar.

Doa-doa dipanjatkan agar padi tumbuh sempurna hingga masa panen. Puluhan ritual adat digelar sepanjang tahun, dengan puncaknya adalah Seren Taun, upacara panen raya yang menjadi simbol rasa syukur kepada alam dan leluhur.

Baca Juga: Viral Kampung Sapu Angin Klaten, Disebut Desa Tertinggi di Lereng Merapi: Ada Rumah Paling Atas dan Kedai Kopi Tertinggi

Perempuan sebagai Penyangga Ketahanan Pangan

Dalam sistem adat Kasepuhan Ciptagelar, perempuan memegang peran sentral dalam menjaga keberlanjutan pangan. Setelah padi dipanen dan dipindahkan ke leuit oleh laki-laki, tanggung jawab pengelolaan padi sepenuhnya beralih ke perempuan.

Konsep kerja sama ini dikenal sebagai sakuren, relasi timbal balik yang seimbang antara laki-laki dan perempuan. Perempuan bertanggung jawab menumbuk padi, mengolah beras, hingga memasak nasi untuk keluarga dan komunitas.

Pada prosesi nganyaran, yaitu memasak nasi pertama dari hasil panen, hanya perempuan tertentu yang diperbolehkan menumbuk padi. Ritual ini dianggap sakral dan menjadi simbol penghormatan terhadap kehidupan.

Dapur Komunal dan Tamu sebagai Saudara

Kehidupan komunal Kasepuhan Ciptagelar berpusat di Imah Gede, rumah besar adat yang menjadi pusat aktivitas bersama. Di dalamnya terdapat dapur komunal yang dipimpin perempuan dan aktif setiap hari menyediakan makanan bagi warga dan tamu.

Menariknya, semua tamu yang datang, termasuk wisatawan, disuguhi makanan secara gratis. Bagi masyarakat Ciptagelar, tamu adalah saudara. Mereka menolak menjadikan adat dan pangan sebagai komoditas wisata berbayar.

Baca Juga: 7 Masjid Terindah dan Terunik di Indonesia: Dari Masjid Atahir Depok hingga Masjid Raya Sumatera Barat

Perempuan dalam Daur Hidup Manusia

Peran perempuan di Kasepuhan Ciptagelar tidak hanya terlihat dalam urusan pangan, tetapi juga dalam daur hidup manusia. Indung beurang atau paraji lahiran mendampingi perempuan hamil sejak usia tiga bulan hingga pascamelahirkan. Mereka menjadi penolong utama di tengah keterbatasan fasilitas medis modern.

Dalam pernikahan adat, perempuan juga memegang peran penting sebagai paraji hias, yang memimpin prosesi sakral dan menjembatani restu antara pasangan, orang tua, leluhur, dan Tuhan. Bagi warga Ciptagelar, pernikahan adat bahkan dianggap lebih sah dibanding pernikahan formal negara.

Kasepuhan Ciptagelar membuktikan bahwa manusia adalah bagian dari semesta. Dengan menjaga adat, mereka menjaga kehidupan. Di tengah dunia modern yang serba komersial, Ciptagelar tetap teguh memegang prinsip: kehidupan tidak untuk diperjualbelikan.

Editor : Natasha Eka Safrina
#ketahanan pangan lokal #Kasepuhan Ciptagelar Sukabumi