TRENGGALEK – Nama Desa Kamulan Trenggalek kembali mencuat seiring upaya pemerintah desa mengangkat sejarah panjang, potensi wisata religi, dan ketahanan ekonomi berbasis kearifan lokal. Desa yang terletak di wilayah timur Kecamatan Durenan ini menyimpan jejak sejarah sejak era Kerajaan Jenggala Kediri hingga masa masuknya Islam, sekaligus tengah berbenah menuju desa wisata yang berdampak langsung bagi kesejahteraan warga.
Kepala Desa Kamulan, Ruri, menyebutkan bahwa sejarah desa ini berawal dari perpecahan Kerajaan Jenggala Kediri pada tahun 1194 Masehi. Dari peristiwa itu lahir Kerajaan Sendang Kamulyan yang menjadi tonggak awal berdirinya Desa Kamulan. Bukti sejarah tersebut diperkuat dengan ditemukannya prasasti batu bertulis yang merupakan anugerah Prabu Kertajaya kepada wilayah yang kemudian dinobatkan sebagai tanah perdikan.
“Sendang Kamulyan sudah ada bahkan sebelum masa kerajaan. Dari situlah kemudian nama kerajaan dan desa ini berkembang,” ujar Ruri.
Jejak Kerajaan dan Masuknya Islam
Sejarah Desa Kamulan Trenggalek terbagi dalam dua fase besar. Fase pertama adalah masa kerajaan, ditandai dengan keberadaan Kerajaan Sendang Kamulyan yang diperkirakan bertahan sekitar 280 tahun. Setelah itu, wilayah ini sempat mengalami kekosongan hingga masuknya syiar Islam pada abad ke-17.
Masuknya Islam ditandai dengan berdirinya Masjid Al-Ihsan pada tahun 1790, yang menjadi bagian dari Pondok Pesantren Hidayatut Tulab. Sejumlah tokoh penting dimakamkan di kawasan Gunung Cilik, mulai dari Mbah Raden Wiroyati—leluhur Bupati pertama Tulungagung—hingga para wali penyebar Islam seperti Mbah Mangun Mustofa dari Madura dan Mbah Ya Yunus.
“Makanya kawasan makam Gunung Cilik ini kami rawat betul. Setiap tahun jumlah peziarah terus meningkat,” kata Ruri.
Ledakan Peziarah dan Arah Wisata Religi
Pemerintah desa mencatat lonjakan signifikan jumlah peziarah. Menjelang Ramadan terakhir, tercatat sekitar 10.000 peziarah datang hanya dalam satu bulan, berasal dari Surabaya, Malang, Mataram, hingga wilayah eks Karesidenan Kediri. Fenomena ini memperkuat arah pengembangan Desa Kamulan Trenggalek sebagai desa wisata religi.
Renovasi makam dan akses tangga Gunung Cilik telah dilakukan pada 2024. Ke depan, pemerintah desa juga merencanakan ekskavasi dan renovasi Sendang Kamulyan, meski masih terkendala sertifikasi lahan. Target pembangunan fisik direncanakan pada 2026 dengan dukungan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) dari Provinsi Jawa Timur.
Tantangan dan Transformasi Ekonomi
Di sektor ekonomi, Desa Kamulan dikenal sebagai sentra industri rumah tangga genteng. Namun, kejayaan industri ini mulai menurun akibat keterbatasan bahan baku dan persaingan kualitas. Jika sebelumnya 70 persen warga bergantung pada produksi genteng, kini hanya sekitar 30 persen yang masih bertahan.
Sebagai solusi, pemerintah desa mendorong pengembangan UMKM sejak 2023. Produk seperti keripik ketela, tempe tepung, dan keripik bayam kini telah bersertifikat halal dan dipasarkan secara online melalui BUMDes. Pada 2025, desa menargetkan pengembangan produk berbahan ketela dari hulu ke hilir bekerja sama dengan UNISA dan Bank Indonesia.
Ketahanan Pangan Berbasis Inovasi
Sektor pertanian juga menjadi perhatian utama. Dengan lahan tadah hujan yang mendominasi sepertiga wilayah desa, Desa Kamulan sebelumnya hanya mampu satu kali tanam padi. Namun sejak 2023, program pipanisasi dan pompanisasi memungkinkan dua kali masa tanam.
Tak hanya itu, desa juga merancang pengembangan greenhouse untuk melon dan semangka, serta penggemukan kambing sebagai bagian dari program ketahanan pangan yang dikelola bersama BUMDes dan koperasi desa.
“Kami ingin wisata, sejarah, dan ekonomi berjalan beriringan,” tegas Ruri.
Dengan kekayaan sejarah, lonjakan wisata religi, serta transformasi ekonomi berbasis UMKM dan pangan, Desa Kamulan Trenggalek kini menapaki babak baru sebagai desa yang menggabungkan nilai spiritual, budaya, dan kesejahteraan masyarakat.
Editor : Natasha Eka Safrina