Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Jejak Sunan Wilis dan Sejarah Panjang Pondok Pesantren Hidayatut Thullab Kamulan, Dari Reruntuhan Kerajaan hingga Benteng Perjuangan

Natasha Eka Safrina • Jumat, 6 Februari 2026 | 10:10 WIB

Pondok Pesantren Hidayatut Thullab Kamulan, warisan Sunan Wilis sejak 1790, saksi dakwah, kerajaan, hingga perjuangan kemerdekaan.
Pondok Pesantren Hidayatut Thullab Kamulan, warisan Sunan Wilis sejak 1790, saksi dakwah, kerajaan, hingga perjuangan kemerdekaan.

TRENGGALEK – Di tengah Desa Kamulan, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, berdiri sebuah pesantren tua yang menjadi saksi perjalanan panjang sejarah Islam, kerajaan, hingga perjuangan kemerdekaan. Pesantren itu adalah Pondok Pesantren Hidayatut Thullab Kamulan, yang oleh masyarakat setempat lebih akrab disebut Pondok Tengah, Pondok Kamulan, atau Pondok Durenan.

Pesantren ini didirikan pada tahun 1790 Masehi oleh Kyai Ahmad Yunus, tokoh ulama kharismatik yang dikenal dengan sebutan Sunan Wilis. Tahun pendirian tersebut tercatat jelas pada ukiran angka di salah satu tiang kayu bangunan pondok, menjadi bukti autentik usia panjang pesantren yang telah berdiri sejak era awal Kerajaan Mataram Islam.

Asal-usul Nama Pondok Tengah

Sebutan Pondok Tengah muncul karena di Desa Kamulan terdapat lima pondok pesantren, dan Hidayatut Thullab berada tepat di posisi geografis tengah desa. Sementara nama Pondok Kamulan dan Pondok Durenan mengikuti wilayah administratif desa dan kecamatan tempat pesantren berada.

Baca Juga: Prasasti Kampak Trenggalek, Jejak Mpu Sindok Tahun 929 M yang Mengungkap Desa Bebas Pajak di Lereng Perbukitan

Secara arsitektur, Pesantren Hidayatut Thullab tampil cukup megah, meski awalnya dibangun di kawasan yang masih berupa hutan belantara. Lokasi pesantren diketahui merupakan bekas reruntuhan Kerajaan Sendang Kamulan, yang bercorak Hindu-Buddha. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya berbagai arca kuno, seperti patung Ganesha, bekas pemandian kerajaan, serta pondasi bangunan batu andesit di sekitar area pondok.

Sunan Wilis dan Jejak Walisongo

Kyai Ahmad Yunus atau Sunan Wilis memiliki nasab yang bersambung hingga Syekh Maulana Ishak, salah satu generasi awal Walisongo. Ia juga diketahui memiliki hubungan keluarga dengan lingkungan Kerajaan Mataram. Bahkan, Sunan Wilis disebut pernah menjadi menantu raja.

Namun, pada masa itu ia memilih menjauh dari pusat kekuasaan karena perbedaan pandangan terhadap kebijakan kerajaan yang menjalin hubungan dengan Belanda. Jika ditilik dari periode sejarah, pendirian pesantren ini sezaman dengan pemerintahan Hamengkubuwono I di Yogyakarta dan Pakubuwono IV di Surakarta.

Baca Juga: Gegok Trenggalek, Kuliner Legendaris Sejak 1970 dengan Pedas Ekstrem yang Masih Bertahan di Tengah Serbuan Makanan Modern

Keputusan Sunan Wilis meninggalkan kerajaan menjadi awal penyebaran Islam di wilayah Kamulan. Ia membangun tempat tinggal sederhana beratapkan ilalang, lalu disusul anak dan istrinya. Dari situlah terbentuk perkampungan yang kemudian berkembang menjadi Desa Kamulan.

Kisah Ali Murtado dan Perjuangan Nasional

Beberapa dekade kemudian, datang seorang pelarian dari arah barat yang mengaku bernama Do Ali. Ia kemudian mengungkap jati dirinya sebagai Ali Murtado, prajurit Pangeran Diponegoro yang melarikan diri usai penangkapan sang pangeran oleh Belanda pada 28 Maret 1830.

Ali Murtado ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan Sunan Wilis dan kemudian dinikahkan dengan putri bungsu Kyai Ahmad Yunus, Nyai Bashiroh. Setelah wafatnya Sunan Wilis, kepemimpinan pesantren diteruskan oleh Kyai Ali Murtado, yang merenovasi masjid pesantren—bangunan yang hingga kini masih dipertahankan keasliannya.

Baca Juga: Pabrik Kopi Vanili Trenggalek, Peninggalan Belanda Sejak 1929 yang Masih Beroperasi dengan Tenaga Air

Pesantren dan Peristiwa Pengeboman

Estafet kepemimpinan berlanjut hingga era Kyai Haji Ihsan. Pada masa ini, sekitar 1948–1949, Pondok Pesantren Hidayatut Thullab menjadi markas sementara Tentara Hizbullah di wilayah Trenggalek. Akibatnya, pesantren menjadi target serangan tentara Sekutu.

Pada 10 November 1948, bom dijatuhkan di Pasar Kamulan dan sekitar pesantren. Tiga bom jatuh tanpa meledak. Salah satu selongsong bom yang berhasil dijinakkan kini diabadikan sebagai lonceng sekolah, penanda waktu kegiatan pesantren.

Pesantren Salaf yang Terus Berkembang

Kini, Pondok Pesantren Hidayatut Thullab Kamulan diasuh oleh Kyai Haji Bahrul Munir dan Kyai Baharudin. Sistem pendidikan yang diterapkan tetap salaf, namun dengan sarana prasarana yang telah dimodernisasi.

Baca Juga: Siapa Kanjeng Jimat Trenggalek? Sosok Bupati Legendaris Era Kolonial yang Makamnya Masih Diziarahi hingga Kini

Menariknya, aktivitas mengaji dimulai sore hingga malam hari, karena sebagian besar santri bekerja sejak pagi hingga siang. Unit pendidikan yang tersedia meliputi PAUD, RA, TPQ, Madrasah Diniyah, MI, MTs, hingga MA.

Pesantren juga menyediakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler, mulai dari tahfidz Al-Qur’an, hadrah, kajian kitab kuning, pramuka, jurnalistik, hingga keterampilan hidup seperti teknik sepeda motor dan tata busana.

Dengan sejarah panjang yang menyatu dengan dakwah, perjuangan, dan pendidikan, Pondok Pesantren Hidayatut Thullab Kamulan bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga penjaga warisan peradaban Islam di Trenggalek.

Baca Juga: Candi Brongkah Trenggalek, Situs Misterius di Pekarangan Warga yang Diduga Petirtaan Kuno Peninggalan Hindu

Editor : Natasha Eka Safrina
#sejarah trenggalek #desa kamulan #pesantren tertua