TRENGGALEK – Di balik rimbunnya perbukitan Desa Kamulan, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, terdapat sebuah kompleks makam tua yang hingga kini terus diziarahi ribuan orang dari berbagai daerah. Tempat itu dikenal sebagai Makam Gunung Cilik Kamulan, atau oleh masyarakat setempat juga disebut Makam Kanjengan atau Giri Laya Kamulyan.
Kompleks makam ini berada di sebuah bukit kecil yang oleh warga dimuliakan sebagai tempat peristirahatan tokoh-tokoh penting masa lalu. Ziarah ke Gunung Cilik tak hanya menjadi tradisi religi, tetapi juga bagian dari napak tilas sejarah panjang Trenggalek dan wilayah sekitarnya.
Makam Tokoh Penting dan Leluhur Daerah
Menurut penuturan juru kunci setempat, Gunung Cilik merupakan kompleks pemakaman para pinisepuh Desa Kamulan, bangsawan Mataram Islam, hingga tokoh-tokoh pemerintahan masa lalu. Di antara makam yang paling dikenal adalah makam Raden Mangunnegoro, yang disebut sebagai Bupati pertama Trenggalek.
Selain itu, terdapat pula makam seorang bupati dari wilayah Tulungagung beserta leluhurnya, yang diyakini masih memiliki garis keturunan dari Adipati pertama. Keberadaan makam-makam tersebut menjadikan Gunung Cilik sebagai titik temu sejarah Trenggalek dan Tulungagung.
Tak hanya tokoh pemerintahan, sejumlah wali dan ulama juga dimakamkan di kawasan ini. Salah satunya adalah Mbah Baidlowi, tokoh dari Mataram Islam yang makamnya berada tak jauh dari pagar pembatas makam Kanjengan.
Asal-usul Nama Giri Laya Kamulyan
Istilah Giri Laya Kamulyan berasal dari bahasa Jawa yang dapat dimaknai sebagai “gunung mulia” atau “tempat peristirahatan orang-orang berjasa pada masanya”. Penamaan ini merefleksikan keyakinan masyarakat bahwa Gunung Cilik bukan sekadar makam biasa, melainkan situs penghormatan terhadap leluhur yang memiliki peran penting dalam sejarah dan penyebaran agama.
Di sekitar kompleks makam, masih banyak dijumpai nisan-nisan kuno berbahan batu andesit berukuran besar. Bentuk dan materialnya menguatkan dugaan bahwa kawasan ini telah digunakan sebagai tempat pemakaman sejak masa kerajaan kuno.
Keterkaitan dengan Prasasti Kamulan
Nilai historis Makam Gunung Cilik Kamulan juga dikaitkan dengan keberadaan Prasasti Kamulan, peninggalan masa Kerajaan Kediri. Prasasti tersebut diketahui dikeluarkan oleh Raja Kertajaya dan bertarikh tahun 1116 Saka atau sekitar 1194 Masehi.
Dalam prasasti itu disebutkan peristiwa penyerangan terhadap wilayah tertentu serta tanggal penting, yakni 31 Agustus 1194. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa kawasan Kamulan, termasuk Gunung Cilik, telah memiliki peran strategis sejak era Kediri.
Kisah Mistis yang Hidup di Tengah Masyarakat
Selain sejarah tertulis, Gunung Cilik juga lekat dengan berbagai kisah mistis yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu cerita yang paling dikenal adalah tentang pusaka Kiai Upas, milik seorang bupati terdahulu. Konon, roh sang pemilik pusaka dapat menjelma menjadi burung perkutut yang suaranya kerap terdengar, namun wujudnya tak pernah terlihat.
Ada pula cerita tentang sosok macan putih dan seorang gadis jelita yang dipercaya sebagai penjaga makam Kanjengan. Selain itu, masyarakat juga kerap menyebut kemunculan ular-ular kecil yang berada di sekitar makam, yang pada hari-hari tertentu menghilang dan diyakini muncul di wilayah lain seperti Pendopo Tulungagung.
Meski demikian, kisah-kisah tersebut dipahami sebagai bagian dari folklor lokal yang tidak dapat diverifikasi secara ilmiah. Warga setempat menekankan bahwa cerita mistis hanya dikaitkan dengan makam Kanjengan, dan tidak berlaku untuk makam-makam umum di area bawah Gunung Cilik.
Ziarah dan Upaya Pelestarian
Setiap peziarah yang datang diimbau untuk menjaga kesakralan lokasi. Larangan mengambil batu, kayu, atau benda apa pun dari area makam terpasang jelas di sejumlah titik. Hal ini dilakukan untuk menjaga kelestarian situs bersejarah tersebut.
Hingga kini, Makam Gunung Cilik Kamulan terus menjadi destinasi ziarah religi yang ramai, sekaligus pengingat akan lapisan sejarah, kepercayaan, dan budaya yang menyatu dalam perjalanan panjang Trenggalek.
Editor : Natasha Eka Safrina