TRENGGALEK – Nama Kanjeng Jimat Trenggalek kembali menjadi perbincangan seiring peringatan Hari Jadi Kabupaten Trenggalek ke-828. Sosok yang makamnya berada di area Pemakaman Margoayu, Desa Sanggulan Kulon, Kecamatan Pogalan ini diyakini memiliki peran penting dalam sejarah awal berdirinya Trenggalek, meski hingga kini masih diselimuti berbagai versi cerita.
Setiap bulan Agustus, khususnya menjelang hari jadi kabupaten, makam Kanjeng Jimat Trenggalek selalu ramai dikunjungi peziarah. Warga datang tidak hanya untuk berdoa, tetapi juga mengenang jasa tokoh yang disebut-sebut sebagai figur sentral pada masa transisi pemerintahan di era kolonial Belanda.
Menurut penuturan juru kunci dan tokoh masyarakat setempat, Kanjeng Jimat dikenal sebagai sosok berilmu tinggi, berpengaruh, serta memiliki kharisma yang kuat. Ia dipercaya pernah memegang jabatan penting dan memiliki hubungan dengan lingkungan keraton, baik dari trah Mataraman maupun Surakarta.
Dua Versi Asal-Usul Kanjeng Jimat
Sejarah Kanjeng Jimat Trenggalek berkembang dalam dua versi besar. Versi pertama menyebutkan bahwa Kanjeng Jimat masih memiliki garis keturunan dari lingkungan Keraton Surakarta, bahkan dikaitkan dengan trah Pakubuwono. Versi lainnya menyebut ia berasal dari wilayah Ponorogo, sebelum akhirnya menetap dan mengabdi di kawasan Trenggalek.
Perbedaan versi ini hingga kini belum sepenuhnya terjawab karena keterbatasan sumber tertulis. Namun, kesamaan dari berbagai cerita rakyat adalah pengakuan atas peran Kanjeng Jimat sebagai tokoh pelindung masyarakat dan penjaga wilayah pada masa penjajahan.
Lokasi Makam Sarat Nilai Sejarah
Makam Kanjeng Jimat Trenggalek berada di kawasan yang sejak zaman kolonial disebut-sebut sebagai lokasi “pengujian” oleh pemerintah Belanda. Beberapa warga meyakini tempat tersebut dipilih karena letaknya strategis dan memiliki makna simbolik sebagai pusat pengayoman.
Di dalam kompleks makam, terdapat pembagian area yang unik. Bagian dalam pagar diyakini sebagai makam utama tokoh sentral, sementara di bagian luar terdapat makam-makam lain yang disebut sebagai pejabat pendamping atau trah yang masih memiliki hubungan keluarga.
Hingga kini, area makam telah ditetapkan sebagai bagian dari cagar budaya daerah. Pemerintah Kabupaten Trenggalek secara bertahap melakukan penataan untuk menjaga kelestarian situs sekaligus mengakomodasi tradisi ziarah masyarakat.
Tradisi dan Ritual yang Terjaga
Tradisi ziarah ke makam Kanjeng Jimat Trenggalek masih berlangsung hingga sekarang. Setiap malam Jumat, warga rutin menggelar tahlilan dan doa bersama. Selain itu, pada momen tertentu seperti hari jadi kabupaten, bupati dan jajaran pemerintah daerah juga melakukan ziarah sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah.
Warga setempat meyakini kawasan makam memiliki aura sakral. Cerita-cerita mistis kerap beredar, mulai dari suara-suara aneh hingga penampakan tertentu. Meski demikian, masyarakat lebih menekankan nilai spiritual dan sejarah dibandingkan sisi mistisnya.
Simbol Sejarah dan Identitas Daerah
Bagi masyarakat Trenggalek, Kanjeng Jimat bukan sekadar tokoh masa lalu. Namanya telah menjadi simbol perjalanan sejarah daerah, pengingat bahwa Trenggalek memiliki akar panjang dalam dinamika politik dan sosial Nusantara.
Pemerhati sejarah lokal menilai pentingnya pendokumentasian yang lebih serius terhadap kisah Kanjeng Jimat Trenggalek. Penelitian lanjutan diperlukan agar sejarah tidak hanya bertumpu pada cerita lisan, tetapi juga didukung data akademik yang kuat.
Keberadaan makam ini diharapkan dapat menjadi sarana edukasi sejarah bagi generasi muda. Dengan memahami tokoh-tokoh lokal seperti Kanjeng Jimat, masyarakat Trenggalek diharapkan semakin bangga terhadap identitas daerahnya sendiri.
Di tengah modernisasi dan perubahan zaman, kisah Kanjeng Jimat Trenggalek tetap hidup, menghubungkan masa lalu dengan masa kini, sekaligus menjadi pengingat bahwa sejarah daerah adalah fondasi penting dalam membangun masa depan.
Editor : Natasha Eka Safrina