Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Mengenal Kanjeng Jimat Trenggalek, Sosok Raden Mangunnegoro Pelindung Pangeran Diponegoro di Masa Perang Jawa

Natasha Eka Safrina • Jumat, 6 Februari 2026 | 10:35 WIB

Kisah Kanjeng Jimat Trenggalek atau Raden Mangunnegoro, bupati pertama Trenggalek yang melindungi Pangeran Diponegoro saat Perang Jawa.
Kisah Kanjeng Jimat Trenggalek atau Raden Mangunnegoro, bupati pertama Trenggalek yang melindungi Pangeran Diponegoro saat Perang Jawa.

TRENGGALEK – Perjalanan sejarah Kabupaten Trenggalek tidak bisa dilepaskan dari sosok Raden Mangunnegoro, tokoh yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Kanjeng Jimat Trenggalek. Makam tokoh bersejarah ini berada di Trenggalek dan hingga kini menjadi salah satu lokasi ziarah yang paling dihormati oleh masyarakat setempat.

Raden Mangunnegoro dikenal sebagai Bupati pertama Trenggalek pada masa kolonial Belanda. Namun, nama Kanjeng Jimat bukan hanya disematkan pada dirinya. Dalam catatan sejarah lisan Jawa, gelar Kanjeng Jimat juga pernah digunakan oleh sejumlah bupati di daerah lain seperti Nganjuk, Pacitan, Blitar, dan beberapa kabupaten lainnya. Meski demikian, Kanjeng Jimat Trenggalek memiliki posisi istimewa karena kiprah dan perannya yang besar dalam sejarah perjuangan Jawa.

Baca Juga: Prasasti Kampak Trenggalek, Jejak Mpu Sindok Tahun 929 M yang Mengungkap Desa Bebas Pajak di Lereng Perbukitan

Raden Mangunnegoro diperkirakan lahir pada kisaran tahun 1700-an, pada masa kekuasaan kolonial Belanda. Ia dikenal sebagai sosok yang tegas, berprinsip kuat, dan berpihak kepada rakyat. Dalam kepemimpinannya, Kanjeng Jimat tercatat berani menentang berbagai kebijakan kolonial yang dinilai merugikan masyarakat.

Peran Kanjeng Jimat semakin menonjol ketika Perang Jawa (1825–1830) meletus, perang besar yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro melawan pemerintah kolonial Belanda. Dalam periode genting tersebut, Trenggalek menjadi wilayah yang sangat penting. Beberapa catatan menyebutkan bahwa Pangeran Diponegoro beberapa kali berlindung di wilayah Trenggalek, tepatnya di bawah perlindungan Raden Mangunnegoro.

Keberanian Kanjeng Jimat melindungi Pangeran Diponegoro bukanlah perkara kecil. Pada masa itu, siapa pun yang membantu Diponegoro berisiko tinggi mendapat hukuman berat dari Belanda. Namun, demi prinsip dan keberpihakannya kepada perjuangan rakyat, Raden Mangunnegoro tetap memberikan perlindungan.

Baca Juga: Pabrik Kopi Vanili Trenggalek, Peninggalan Belanda Sejak 1929 yang Masih Beroperasi dengan Tenaga Air

Setelah Perang Jawa berakhir dan Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda, para pengikut dan prajurit Diponegoro menyebar ke berbagai wilayah Nusantara untuk menyelamatkan diri. Wilayah Trenggalek menjadi salah satu tujuan utama pelarian, karena dikenal aman dan berada di bawah pengaruh Kanjeng Jimat.

Sejarah mencatat, hampir di setiap desa di Trenggalek terdapat satu atau dua orang pengikut Pangeran Diponegoro yang kemudian menetap. Banyak di antara mereka mendirikan pesantren dan menjadi tokoh agama yang berpengaruh. Hal ini pula yang menjelaskan kuatnya tradisi keislaman dan pesantren di berbagai wilayah Trenggalek hingga saat ini.

Fakta menarik lainnya, salah satu putra Pangeran Diponegoro juga ikut menetap di Trenggalek dan kembali berada di bawah perlindungan Raden Mangunnegoro. Bahkan, di kemudian hari, putra Diponegoro tersebut diangkat sebagai anak mantu oleh Kanjeng Jimat. Dari garis keturunan inilah kemudian lahir penerus-penerus yang kelak menjadi bupati di wilayah Trenggalek dari masa ke masa.

Baca Juga: Gua Lowo Trenggalek, Gua Terpanjang di Asia Tenggara yang Menyimpan Keindahan dan Sejarah Mengejutkan

Lebih dari sekadar tokoh sejarah, Raden Mangunnegoro meninggalkan teladan kepemimpinan yang kuat. Ia menunjukkan bahwa seorang pemimpin sejati harus berani menempatkan kepentingan sosial di atas kepentingan pribadi dan keluarga. Prinsip inilah yang membuat Kanjeng Jimat dikenang bukan hanya sebagai penguasa, tetapi sebagai abdi rakyat.

Nilai kepemimpinan Kanjeng Jimat Trenggalek menjadi refleksi penting bagi generasi masa kini. Kepedulian sosial, keberanian membela rakyat, serta kesediaan mengorbankan kepentingan pribadi adalah fondasi utama seorang pemimpin yang amanah.

Hingga kini, makam Kanjeng Jimat tetap menjadi pengingat bahwa Trenggalek memiliki sejarah panjang perjuangan, pengabdian, dan nilai luhur kepemimpinan yang patut dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Editor : Natasha Eka Safrina
#sejarah trenggalek #bupati trenggalek #Kanjeng Jimat