TRENGGALEK – Nama Gus Ipin kini dikenal luas sebagai Bupati Trenggalek. Namun, jauh sebelum duduk di kursi kepemimpinan daerah, Gus Ipin tumbuh dari keluarga yang sangat sederhana. Ia bukan berasal dari keluarga berada, apalagi elite politik. Kisah masa kecilnya justru penuh dengan keterbatasan dan perjuangan.
Dalam sebuah perbincangan, Gus Ipin mengenang masa kecilnya saat sang ayah bekerja sebagai tukang becak, sementara ibunya menjadi pembantu rumah tangga. Kehidupan ekonomi keluarga saat itu jauh dari kata cukup. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun harus diakali.
“Saya masih ingat, untuk uang saku kuliah, saya bantu ibu jualan kacang goreng,” tutur Gus Ipin.
Keterbatasan ekonomi juga tercermin dari kebiasaan makan keluarga mereka. Gus Ipin mengungkapkan bahwa dahulu mereka tidak selalu menikmati nasi hangat setiap waktu. Bukan karena ibunya tidak memasak, melainkan karena pada masa itu mereka belum mampu membeli peralatan modern seperti magic jar atau magic com.
“Nasinya kalau sudah siang atau malam kan sudah dingin. Kalau makan nasi dingin itu rasanya malas,” ujarnya sambil tertawa mengenang masa lalu.
Namun, sang ibu memiliki cara cerdas untuk menyiasatinya. Beras dimasak dengan air lebih banyak sehingga menjadi seperti nasi liwet, lalu dimasak beberapa kali dalam sehari dengan porsi kecil. Dengan begitu, keluarga tetap bisa makan nasi hangat meski dengan bahan yang terbatas.
Cerita kesederhanaan ini, menurut Gus Ipin, bukan untuk mengundang rasa iba, melainkan sebagai sumber inspirasi bahwa perjalanan menuju posisi hari ini bukan sesuatu yang instan. Ada proses panjang yang penuh kerja keras.
Meski sering disebut sebagai contoh seseorang yang berhasil keluar dari jerat kemiskinan, Gus Ipin menegaskan bahwa pahlawan sesungguhnya adalah orang tuanya, terutama sang ayah.
Ia lalu menceritakan kisah ayahnya saat merantau ke Surabaya. Kala itu, sang ayah mangkal sebagai tukang becak di kawasan Pasar Wonokromo, tepat di seberang Stasiun Wonokromo. Karena baru datang dari Trenggalek, ayahnya bahkan tidak mengetahui tarif becak yang lazim.
“Kalau ditanya tarif, Bapak saya jawab, ‘Mboten ngertos, Bu. Biasane pinten?’ Akhirnya dikasih seikhlasnya,” kenang Gus Ipin.
Kejujuran itu justru membuat ayahnya menjadi tukang becak favorit pelanggan. Namun, kondisi tersebut memicu kecemburuan rekan sesama tukang becak yang merasa rezekinya diambil.
Tekanan itu membuat sang ayah merenung dan berdoa. Ia mempertanyakan makna hidupnya dan memohon agar jika masih diberi umur, hidupnya bisa menjadi lebih bermanfaat. Dari titik itulah sang ayah memutuskan beralih profesi.
Ia mulai berjualan peralatan rumah tangga seperti panci dan wajan secara door to door, hingga akhirnya memiliki toko sendiri. Gus Ipin baru menyadari perubahan besar itu saat duduk di bangku SMA, ketika keluarganya akhirnya memiliki mobil dan rumah yang lebih layak.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Dua tahun kemudian, sang ayah meninggal dunia pada usia 41 tahun. Saat itu, Gus Ipin baru berusia 16 tahun.
“Artinya perjuangan orang tua itu besar sekali,” ujarnya lirih.
Bagi Gus Ipin, kisah hidupnya menjadi pengingat bahwa peran orang tua sangat menentukan dalam membentuk karakter dan jalan hidup seorang anak. Kerja keras, kejujuran, dan doa orang tua menjadi fondasi utama yang mengantarkannya hingga berada di posisi sekarang.
Kisah ini sekaligus menjadi pesan bagi generasi muda bahwa keterbatasan ekonomi bukan akhir dari segalanya. Dengan ketekunan, kejujuran, dan nilai-nilai keluarga yang kuat, jalan menuju masa depan yang lebih baik selalu mungkin untuk diperjuangkan.
Baca Juga: 4 Wisata Klaten Murah dan Berdekatan, HTM Mulai Rp10 Ribu Cocok Liburan Keluarga Akhir Pekan
Editor : Natasha Eka Safrina