Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Gus Ipin Bupati Trenggalek: Dari Anak Tukang Becak, Musisi Indie, hingga Jadi Pelayan Rakyat di Usia Muda

Natasha Eka Safrina • Jumat, 6 Februari 2026 | 10:40 WIB

Gus Ipin Bupati Trenggalek mengungkap kisah hidupnya dari anak tukang becak hingga pemimpin daerah. Cerita perjuangan yang menginspirasi.
Gus Ipin Bupati Trenggalek mengungkap kisah hidupnya dari anak tukang becak hingga pemimpin daerah. Cerita perjuangan yang menginspirasi.

TRENGGALEK – Nama Gus Ipin Bupati Trenggalek atau Haji Muhammad Nur Arifin dikenal luas sebagai salah satu kepala daerah muda dengan latar belakang perjuangan hidup yang tidak biasa. Dari keluarga sederhana, Gus Ipin tumbuh dengan nilai kerja keras dan keberpihakan pada rakyat kecil, prinsip yang terus ia bawa hingga menjabat sebagai orang nomor satu di Trenggalek.

Dalam berbagai kesempatan, Gus Ipin menegaskan bahwa menjadi pejabat publik bukan soal terlihat keren atau berkuasa. Menurutnya, seorang bupati sejatinya adalah pelayan masyarakat. Prinsip tersebut sejalan dengan ajaran Bung Karno tentang kemerdekaan sejati, yakni kemerdekaan 100 persen yang berpihak pada rakyat dan berdiri di atas kemandirian bangsa.

Gus Ipin Bupati Trenggalek lahir pada 7 April 1990. Ia resmi dilantik sebagai Bupati Trenggalek pada 28 Mei 2019, setelah sebelumnya menjabat sebagai Wakil Bupati mendampingi Emil Elestianto Dardak. Di usia yang relatif muda, Gus Ipin tampil sebagai figur pemimpin yang dekat dengan anak muda, UMKM, serta kelompok masyarakat akar rumput.

Baca Juga: Mengenal Kanjeng Jimat Trenggalek, Sosok Raden Mangunnegoro Pelindung Pangeran Diponegoro di Masa Perang Jawa

Lahir dari Keluarga Sederhana

Kehidupan masa kecil Gus Ipin jauh dari kata mewah. Ia lahir dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Kedua orang tuanya sempat merantau dari Trenggalek ke Surabaya demi mencari penghidupan. Sang ayah bekerja sebagai tukang becak, sementara ibunya menjadi asisten rumah tangga.

Kondisi ekonomi keluarga mulai membaik ketika ayahnya beralih profesi menjadi pedagang perabot rumah tangga keliling hingga memiliki usaha sendiri. Namun, cobaan besar datang saat sang ayah meninggal dunia pada 2007. Saat itu, Gus Ipin masih berusia 17 tahun dan harus belajar mandiri lebih cepat dari anak seusianya.

Pernah Menjadi Musisi, Pilih Pulang Kampung

Pasca kepergian sang ayah, Gus Ipin sempat mondar-mandir Jakarta–Surabaya untuk menekuni dunia musik. Ia membesarkan band Marshmallow dan merilis beberapa karya, salah satunya lagu berjudul Tegas. Dunia kreatif menjadi ruang pencarian jati diri sebelum akhirnya ia memutuskan pulang ke Trenggalek.

Keputusan pulang kampung bukan tanpa alasan. Salah satu wasiat almarhum ayahnya adalah agar ia kembali dan berbuat sesuatu bagi keluarga serta masyarakat Trenggalek. Dari sinilah semangat pengabdian Gus Ipin mulai tumbuh kuat.

Baca Juga: Potensi Trenggalek Terungkap: Dari Candi Purba, Sekolah Tani, hingga Wisata Alam yang Diakui Dunia

Fokus Pemberdayaan dan Anak Muda

Di Trenggalek, Gus Ipin mulai mengembangkan usaha sekaligus membuka lapangan pekerjaan. Ia kemudian menginisiasi program pemberdayaan petani dan ekonomi desa melalui gerakan Trenggalek Menyemai Tunas (Trengginas). Program ini menjadi pintu masuknya ke dunia sosial dan politik lokal.

Namanya mulai dikenal luas ketika pada 2015 ia terlibat dalam penyelenggaraan Festival Pantai Prigi. Dalam kegiatan itulah ia bertemu Emil Dardak. Pertemuan tersebut berlanjut pada kerja sama politik hingga keduanya maju sebagai pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Trenggalek.

Kiprah Politik dan Gagasan Sosial

Selain menjabat sebagai bupati, Gus Ipin juga dipercaya sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Trenggalek periode 2019–2024. Ia ditunjuk langsung oleh DPP PDI Perjuangan dalam konferensi cabang di Madiun.

Baca Juga: Gegok Trenggalek, Kuliner Legendaris Sejak 1970 dengan Pedas Ekstrem yang Masih Bertahan di Tengah Serbuan Makanan Modern

Dalam bidang pemikiran, Gus Ipin menulis buku Bung Karno Menerjemahkan Alquran yang diterbitkan oleh Mizan. Buku tersebut mencerminkan kekagumannya terhadap pemikiran nasionalisme religius Soekarno.

Inovasi Penanggulangan Kemiskinan

Di bidang kebijakan, Gus Ipin dikenal dengan inovasi GERTAK (Gerakan Tengok Bawah Masalah Kemiskinan). Program ini dirancang untuk memastikan intervensi pemerintah tepat sasaran dan berbasis data lapangan. GERTAK menjadi salah satu program andalan Pemkab Trenggalek dalam menekan angka kemiskinan.

Bagi Gus Ipin, kepemimpinan bukan tentang kekuasaan, melainkan keberanian mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi. Nilai itu tumbuh dari pengalaman hidupnya sendiri—dari anak tukang becak hingga dipercaya memimpin Trenggalek.

Baca Juga: Prasasti Kampak Trenggalek, Jejak Mpu Sindok Tahun 929 M yang Mengungkap Desa Bebas Pajak di Lereng Perbukitan

Editor : Natasha Eka Safrina
#bupati trenggalek #gus ipin