Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Pertanian Kogabwilhan I Disulap Jadi Lumbung Pangan Rakyat, Panglima TNI dan Bupati Trenggalek Buktikan Lahan Mustahil Bisa Panen Melimpah

Natasha Eka Safrina • Jumat, 6 Februari 2026 | 10:48 WIB

Gus Ipin Bupati Trenggalek mengungkap kisah hidupnya dari anak tukang becak hingga pemimpin daerah. Cerita perjuangan yang menginspirasi.
Gus Ipin Bupati Trenggalek mengungkap kisah hidupnya dari anak tukang becak hingga pemimpin daerah. Cerita perjuangan yang menginspirasi.

TANJUNG PINANG – Upaya membangun ketahanan pangan nasional tak melulu bergantung pada lahan subur dan anggaran besar. Hal itu dibuktikan melalui pengembangan pertanian Kogabwilhan I yang digagas Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I (Kogabwilhan I), Letjen TNI Kunto Arif Wibowo, bersama Bupati Trenggalek Muhammad Nur Arifin. Lahan yang sebelumnya dianggap tak mungkin ditanami kini berubah menjadi kawasan pertanian produktif yang hasilnya langsung dinikmati rakyat.

Kunjungan Bupati Trenggalek ke kawasan pertanian Kogabwilhan I di Tanjung Pinang menjadi simbol kolaborasi lintas wilayah dan lintas institusi. Pertemuan ini sekaligus menjadi kunjungan balasan setelah sebelumnya Panglima Kogabwilhan I mengunjungi Trenggalek pada 2024 lalu dan terlibat langsung dalam program konservasi serta penanaman bambu.

Baca Juga: Kisah Hidup Gus Ipin: Dari Anak Tukang Becak hingga Bupati Trenggalek

Dari Tambang Hijau ke Lahan Pertanian Produktif

Panglima Kogabwilhan I menegaskan, pendekatan yang dibangun bukan “tambang emas”, melainkan tambang hijau berupa pertanian dan perkebunan berkelanjutan. Konsep ini menekankan pemulihan tanah, pemanfaatan pupuk hayati, serta kesabaran dalam membangun ekosistem.

“Yang penting bukan langsung panen, tapi membangun tanahnya dulu. Unsur haranya dikembalikan, ekosistemnya ditata,” ujarnya dalam dialog di lokasi.

Hasilnya mulai terlihat. Di atas lahan seluas sekitar 10 hektare yang dikelola dua kelompok tani, kini tumbuh berbagai komoditas seperti semangka, cabai, tomat, jagung, pisang, mentimun, hingga blewah. Bahkan, semangka yang dipanen mampu mencapai bobot hingga 13 kilogram per buah dan sudah terserap pasar.

Baca Juga: Gus Ipin Bupati Trenggalek: Dari Anak Tukang Becak, Musisi Indie, hingga Jadi Pelayan Rakyat di Usia Muda

Pertanian Kogabwilhan I untuk Rakyat

Yang menarik, pertanian Kogabwilhan I ini tidak dikelola secara elitis. Model yang diterapkan adalah pertanian rakyat berbasis demplot, di mana petani dilibatkan penuh dari pengolahan tanah hingga panen. Petani juga didorong mandiri pupuk tanpa ketergantungan penuh pada subsidi.

“Kita bikin contoh dulu. Kalau tidak panen, saya ganti. Tapi kalau berhasil, petani jadi yakin,” ujar Panglima.

Pendekatan ini dinilai efektif membangun kepercayaan petani, terutama di lahan-lahan yang sebelumnya dianggap tidak layak tanam karena bekas tambang, rawa, hingga keterbatasan air.

Konservasi, Bambu, dan Ketahanan Pangan

Dalam perbincangan tersebut, Bupati Trenggalek Muhammad Nur Arifin menyoroti pentingnya integrasi pertanian dan konservasi. Salah satunya melalui pengembangan hutan bambu yang berfungsi menahan longsor, menyerap air, sekaligus bernilai ekonomi.

“Kalau tidak ada air, tidak ada pangan. Maka bambu ini bukan hanya konservasi, tapi investasi masa depan,” kata Bupati.

Ia juga mencontohkan keberhasilan Trenggalek dalam meningkatkan indeks pertanaman (IP) dari 1,6 menjadi 2,9, serta menaikkan nilai tukar petani hingga 113. Artinya, pendapatan petani meningkat sekitar 10 persen.

Baca Juga: Misteri Kanjeng Jimat Trenggalek Terkuak, Sosok Tokoh Bersejarah yang Namanya Abadi hingga Hari Jadi Kabupaten

Ketahanan Pangan sebagai Pertahanan Negara

Lebih jauh, Panglima Kogabwilhan I menekankan bahwa ekonomi rakyat, khususnya pangan, adalah fondasi pertahanan semesta. Jika masyarakat tidak berdaya dan mandiri, maka persoalan sosial dan keamanan akan muncul.

“Pertanian bukan sekadar soal pangan, tapi soal ketahanan negara,” tegasnya.

Keberhasilan pertanian Kogabwilhan I ini diharapkan menjadi model nasional, terutama bagi daerah yang memiliki lahan marginal. Pesannya jelas: dengan keyakinan, ilmu, dan kolaborasi, yang mustahil bisa menjadi mungkin.

Editor : Natasha Eka Safrina
#ketahanan pangan nasional #pertanian #kogabwilhan I