TRENGGALEK NJENGGELEK-Kisah asal-usul Trenggalek ternyata tidak sekadar lahir dari keputusan administratif atau penamaan wilayah biasa. Di balik nama Trenggalek tersimpan legenda kuno yang hingga kini hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Jawa Timur, tentang cahaya gaib yang muncul dari dalam bumi dan perjalanan spiritual seorang pengembara sakti.
Cerita asal-usul Trenggalek ini berangkat dari masa lampau, ketika wilayah selatan Jawa Timur masih berupa hutan lebat yang sunyi dan nyaris tak tersentuh peradaban. Kawasan tersebut dikenal angker, dipenuhi pepohonan tua, kabut tebal, serta cerita tentang suara aneh dan bayangan misterius yang kerap menampakkan diri pada malam hari.
Bagi masyarakat sekitar, tanah di selatan Jawa ini diyakini sebagai wilayah pertemuan antara alam manusia dan alam gaib. Karena itu, hanya orang-orang tertentu dengan niat dan tujuan spiritual yang berani memasuki kawasan tersebut. Dari sinilah kisah asal-usul Trenggalek perlahan bermula.
Tanah Sunyi yang Menyimpan Kekuatan
Dalam kepercayaan leluhur, wilayah Trenggalek purba bukanlah tanah biasa. Sungai-sungai kecil mengalir di antara bebatuan besar, udara terasa lembap dan dingin, serta alam seakan hidup dan mengamati setiap manusia yang datang. Kesunyian itu diyakini bukan tanpa makna, melainkan tanda bahwa tanah tersebut “menunggu” seseorang yang ditakdirkan membukanya.
Orang itu adalah seorang pengembara sakti, bangsawan yang meninggalkan pusat kekuasaan demi menjalani laku spiritual. Perjalanannya melintasi hutan dan lembah bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi pencarian petunjuk hidup. Ia mengikuti bisikan batin hingga akhirnya tiba di wilayah yang kelak dikenal sebagai Trenggalek.
Laku Spiritual Sang Pengembara
Saat menginjakkan kaki di tanah tersebut, sang pengembara merasakan energi yang berbeda. Langkahnya terasa ringan, batinnya bergetar, dan hatinya meyakini bahwa tempat ini bukan sekadar persinggahan. Ia kemudian memutuskan menetap dan melakukan pertapaan.
Hari-harinya diisi dengan puasa, doa, dan menyatu dengan alam. Penduduk sekitar yang melihat sosoknya merasakan wibawa tanpa kata. Meski demikian, sang pengembara tidak pernah mengaku sebagai tokoh besar. Ia hanya menyebut dirinya sedang mencari izin dari alam dan Tuhan untuk membuka kehidupan baru di tanah sunyi tersebut.
Peristiwa Terang Galih
Puncak dari kisah asal-usul Trenggalek terjadi pada suatu malam yang hening. Sang pengembara mendapat isyarat batin untuk menggali tanah di tempat ia bersila. Tanpa ragu, ia menjalankan perintah itu.
Saat galian semakin dalam, muncul peristiwa luar biasa. Dari dalam tanah memancar cahaya putih kekuningan yang lembut, menerangi kegelapan malam. Cahaya itu tidak menyilaukan, justru menenangkan. Tak lama kemudian, dari lubang yang sama muncul mata air jernih yang mengalir pelan.
Peristiwa tersebut dinamai “Terang Galih”. Terang berarti cahaya, galih berarti tanah atau inti bumi. Nama itu bukan sekadar sebutan, melainkan doa agar tanah tersebut menjadi sumber kehidupan dan harapan.
Dari Teranggalih Menjadi Trenggalek
Kabar tentang cahaya dan mata air itu menyebar ke wilayah sekitar. Penduduk yang datang merasakan ketenangan dan keberkahan. Seiring waktu, wilayah itu mulai dihuni. Hutan dibuka dengan penuh kehati-hatian, ladang dirintis, dan mata air dimanfaatkan untuk kehidupan.
Nama Teranggalih kemudian mengalami perubahan pelafalan dari mulut ke mulut. Dari Teranggalih menjadi Trenggalih, hingga akhirnya dikenal sebagai Trenggalek. Meski berubah, maknanya tetap hidup sebagai simbol cahaya harapan yang lahir dari kesunyian.
Warisan Nilai Leluhur
Legenda asal-usul Trenggalek tidak hanya berbicara tentang peristiwa mistis, tetapi juga nilai kehidupan. Masyarakat diajarkan untuk hidup selaras dengan alam, tidak serakah, dan menjaga keseimbangan. Setiap mata air, bukit, dan hutan diperlakukan dengan hormat karena diyakini memiliki penjaga tak kasat mata.
Hingga kini, kisah Terang Galih masih diceritakan turun-temurun. Ia menjadi pengingat bahwa kemajuan sejati lahir dari ketulusan niat, kesabaran, dan penghormatan terhadap alam serta leluhur. Trenggalek bukan sekadar nama wilayah, melainkan simbol cahaya yang terus menyertai kehidupan masyarakatnya.
Editor : Ichaa Melinda Putri