SUKABUMI - Desa Adat Gelar Alam menjadi salah satu potret langka kehidupan masyarakat adat yang masih bertahan di tengah arus modernisasi. Terletak di kaki Gunung Halimun, Sukabumi, Jawa Barat, Desa Adat Gelar Alam—yang juga dikenal sebagai Kasepuhan Gelar Alam—berada di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut dan hanya bisa dicapai melalui perjalanan menantang dari Pelabuhan Ratu.
Perjalanan panjang dan medan yang berat seolah terbayar lunas ketika memasuki wilayah Desa Adat Gelar Alam. Udara sejuk, hamparan hutan, serta bangunan tradisional dari bambu dan kayu menyambut setiap tamu yang datang. Desa ini bukan destinasi wisata komersial, melainkan komunitas adat Sunda yang masih menjalankan tatanan hidup leluhur secara utuh.
Kehidupan Selaras Alam di Desa Adat Gelar Alam
Masyarakat Desa Adat Gelar Alam hidup dengan prinsip harmoni antara manusia, alam, dan leluhur. Sistem pertanian dilakukan tanpa bahan kimia dan mengikuti kalender adat. Padi dianggap sebagai makhluk hidup yang harus dihormati, bukan sekadar komoditas pangan.
Cadangan padi disimpan di lumbung-lumbung tradisional yang disebut leuit. Salah satunya adalah Leuit Si Jimat, lumbung padi komunal yang disakralkan dan menjadi simbol ketahanan pangan masyarakat. Berdasarkan perhitungan adat, cadangan padi di seluruh wilayah kasepuhan diperkirakan cukup untuk bertahan hingga puluhan tahun ke depan.
Imah Gede, Pusat Kehidupan dan Spiritualitas
Jantung kehidupan adat di Desa Adat Gelar Alam berada di Imah Gede, rumah besar sekaligus pusat kegiatan adat yang menjadi tempat tinggal pemimpin adat tertinggi, Abah Ugi. Imah Gede menjadi lokasi musyawarah adat, ritual, hingga penerimaan tamu dari berbagai daerah.
Bangunan ini sepenuhnya terbuat dari bahan alam seperti bambu, kayu, dan atap daun. Desain rumah panggung dengan kolong berfungsi sebagai perlindungan alami, sementara sirkulasi udara yang baik membuat bangunan tetap nyaman tanpa pendingin udara.
Secara spiritual, Imah Gede dipandang sebagai bangunan paling sakral karena menyimpan nilai-nilai warisan leluhur dan menjadi titik keseimbangan kehidupan adat.
Bukan Tempat Wisata, Tapi Ruang Kehidupan
Berbeda dengan desa wisata pada umumnya, Desa Adat Gelar Alam tidak menerapkan konsep jual beli kepada tamu. Setiap orang yang datang dianggap sebagai saudara dan diperlakukan sebagai tamu adat. Makan dan menginap tidak dikenakan tarif tertentu.
Namun demikian, masyarakat adat menekankan pentingnya etika dan rasa terima kasih. Pengunjung dianjurkan menyiapkan bekal atau memberikan kontribusi sukarela sebagai bentuk penghargaan, bukan transaksi komersial.
Gotong Royong dan Relokasi Desa
Desa Adat Gelar Alam merupakan hasil relokasi dari Kasepuhan Cipta Gelar yang dilakukan secara bertahap sejak 2022. Seluruh proses pemindahan desa dilakukan tanpa alat berat, mengandalkan gotong royong ribuan warga dan peralatan tradisional.
Dalam satu kali gotong royong besar, lebih dari 3.000 orang terlibat membangun kembali rumah, lumbung padi, dan infrastruktur adat. Hingga kini, jejak tanah merah masih terlihat sebagai tanda desa yang relatif baru, namun tata ruangnya mulai tertata rapi.
Ketahanan Pangan dan Kearifan Lokal
Salah satu pelajaran penting dari Desa Adat Gelar Alam adalah konsep ketahanan pangan berbasis kearifan lokal. Di saat banyak wilayah menghadapi krisis pangan, masyarakat adat justru memiliki cadangan beras yang berlimpah tanpa merusak hutan.
Hutan dijaga sebagai sumber kehidupan. Air bersih mengalir langsung dari mata air tanpa batas, dapur adat selalu aktif, dan seluruh kebutuhan hidup dipenuhi secara mandiri.
Pesan dari Desa Adat Gelar Alam
Kehidupan di Desa Adat Gelar Alam menjadi cermin bahwa manusia dapat hidup sejahtera tanpa mengeksploitasi alam. Nilai gotong royong, kesederhanaan, dan penghormatan terhadap leluhur menjadi fondasi utama masyarakat adat ini.
Di tengah dunia modern yang semakin menjauh dari alam, Desa Adat Gelar Alam hadir sebagai pengingat bahwa keseimbangan hidup dapat tercapai ketika manusia kembali merawat hubungan dengan lingkungannya.
Baca Juga: 10 Tempat Wisata di Swiss yang Wajib Dikunjungi, Dari Kota Tua Bern hingga Pegunungan Alpen Jungfrau
Editor : Natasha Eka Safrina