BENGKULU UTARA – Di tengah rimba Pegunungan Bukit Barisan, tersembunyi sebuah desa tua yang menyimpan kisah kejayaan emas Nusantara. Namanya Lebong Tandai, desa terpencil di Bengkulu Utara yang dahulu menjadi pusat tambang emas terbesar di Hindia Belanda, jauh sebelum nama Freeport dikenal dunia.
Perjalanan menuju Lebong Tandai bukan perkara mudah. Akses satu-satunya adalah melalui jalur rel peninggalan Belanda menggunakan molek—kereta lori kecil bermesin—yang menempuh medan ekstrem selama berjam-jam. Bahkan saat jalur putus akibat longsor, perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki hingga dua jam melewati hutan, terowongan gelap, dan jalur licin tanpa penerangan.
Namun di balik beratnya perjalanan, Lebong Tandai menyimpan sejarah luar biasa. Desa ini telah memiliki listrik tenaga air, rumah sakit, permukiman modern, bahkan fasilitas hiburan sejak awal abad ke-20. Semua kebutuhan dasar warga tersedia gratis—sesuatu yang terbilang maju pada zamannya, bahkan sebelum Indonesia merdeka.
Tambang Emas Tertua Nusantara
Sejarah Lebong Tandai bermula pada akhir 1890-an, saat pemerintah kolonial Belanda menemukan urat emas besar di kawasan ini. Mereka mendirikan perusahaan tambang yang menjadikan Lebong Tandai sebagai pusat produksi emas utama di Sumatra bagian barat.
Pada puncak kejayaannya, sekitar tahun 1920–1930, ribuan kilogram emas murni dihasilkan setiap tahun. Konon, sebagian emas dari Lebong Tandai digunakan untuk melapisi puncak Monumen Nasional (Monas) di Jakarta.
Tak heran jika Lebong Tandai dijuluki “Batavia Kecil”. Desa ini dihuni masyarakat multietnis—Jawa, Batak, Minangkabau, Tionghoa, hingga keturunan Belanda dan Jepang—yang hidup berdampingan di tengah gemuruh industri tambang.
Baca Juga: Pesona Desa Gerlang hingga Telaga Dringo, Jalur Indah Perbatasan Batang–Banjarnegara di Lereng Dieng
Jejak Kelam dan Desa yang Ditinggalkan
Pada 1942, pendudukan Jepang mengubah wajah Lebong Tandai. Tambang tetap beroperasi, namun ribuan warga dipaksa bekerja dalam kondisi keras. Banyak yang meninggal di lorong-lorong tambang. Setelah perang usai, kejayaan emas perlahan meredup, meninggalkan bangunan kosong, rel berkarat, dan terowongan gelap yang kini ditelan hutan.
Meski sempat dihidupkan kembali pada era 1980-an melalui perusahaan patungan asing, aktivitas tambang kembali berhenti saat cadangan emas menipis. Kini, Lebong Tandai bukan lagi kota emas, melainkan desa tenang yang seolah ditinggalkan waktu.
“Lebong Tandai bukan desa tertinggal, tapi desa yang ditinggalkan,” ujar salah satu tokoh setempat.
Hidup di Tengah Sejarah Terbengkalai
Saat ini, warga Lebong Tandai sebagian masih menggantungkan hidup dari tambang rakyat dengan penghasilan setara upah minimum harian. Harga kebutuhan pokok relatif mahal karena biaya distribusi tinggi. Gas elpiji, misalnya, bisa mencapai Rp60 ribu per tabung.
Fasilitas pendidikan pun terbatas. Desa hanya memiliki PAUD dan SD. Untuk melanjutkan SMP dan SMA, anak-anak harus keluar desa dan tinggal di kecamatan lain.
Namun jejak sejarah tetap hidup: rel lori masih digunakan, bangunan kolonial masih berdiri kokoh, dan sistem air bersih warisan Jepang-Belanda masih mengalir ke rumah warga.
Potensi Wisata Sejarah
Banyak pihak menilai Lebong Tandai memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah dan minat khusus. Wisatawan dari Jepang, Belanda, hingga China kerap datang untuk menelusuri jejak leluhur dan merasakan sensasi naik molek di jalur tambang kuno.
Lebong Tandai adalah pengingat bahwa sejarah besar bangsa ini pernah tumbuh di tempat terpencil. Kini, desa emas itu menunggu untuk kembali dikenang—bukan sebagai tambang, melainkan sebagai warisan peradaban.
Editor : Natasha Eka Safrina